Memperingati 110 Tahun NATICO: Menjadikan Bandung Kota Zelfbestuur Islam

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik & Pusat Studi Sunda)

Terasjabar.co – Hilangnya peristiwa 1st NATICO (First National Congress)/Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam (CSI) yang berlangsung di Alun-Alun Bandung pada 16–24 Juni 1916 dari narasi sejarah nasional resmi adalah bentuk nyata dari bekerjanya politik historiografi.

Penghapusan atau marginalisasi peristiwa ini dalam narasi sejarah resmi (State-sponsored history) seperti buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) atau buku teks sekolah bukan ketidaksengajaan akademis, melainkan desain rekayasa ingatan publik (engineering of public memory).

Peristiwa Juni 1916 di Bandung adalah moment krusial karena merupakan milestone pertama lahirnya konsep “Nasional” dan “Bangsa Indonesia” dalam ruang publik Hindia Belanda. Bukan itu, dalam pidatonya itu HOS Tjokroaminoto yang pertama kali menyebut kata REVOLUSI.

  1. Penggunaan Kata “Nasional” Pertama: Sebelum tahun 1916, Sarekat Islam hanya mengadakan “Kongres Syarikat Islam” yang bersifat lokal atau kedaerahan. 1st NATICO adalah momen pertama di mana kata “Nasional” diadopsi secara resmi
  2. Lahirnya Cita-Cita Zelfbestuur (Pemerintahan Sendiri): Di hadapan puluhan ribu massa yang memadati Alun-Alun Bandung, H.O.S. Tjokroaminoto menyampaikan pidato revolusionernya menuntut Zelfbestuur. Ia menegaskan bahwa bangsa Hindia (Indonesia) memiliki hak kodrat untuk mengatur urusannya sendiri dan menolak eksploitasi kapitalisme colonial
  3. Representasi Geografis Pertama: Kongres ini dihadiri oleh 80 utusan lokal SI yang mencakup wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali. Ini adalah representasi entitas “Indonesia” pertama yang melintasi sekat pulau, etnis, dan bahasa, dengan Islam sebagai payung integrasinya.

Rezim penguasa pascakemerdekaan (baik era Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru) memiliki kepentingan sosiopolitik yang sama: mencegah Islam diakui sebagai pelopor tunggal kebangkitan nasionalisme modern di Indonesia.

Jika peristiwa NATICO Juni 1916 dan pidato Zelfbestuur Tjokroaminoto dijadikan arus utama (mainstream) dalam buku pelajaran sejarah, maka konstruksi politik sejarah negara akan runtuh:

  1. Meruntuhkan Mitos Budi Utomo (1908): Negara menetapkan Hari Kebangkitan Nasional berdasarkan berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Padahal, Budi Utomo secara historiografis bersifat elitis, etnosentris (hanya untuk Jawa-Madura), aristokratis (priyayi), dan kooperatif dengan Belanda. Sebaliknya, SI pada NATICO 1916 sudah berkarakter massal (mencakup ratusan ribu anggota lintas pulau), egaliter, dan radikal menuntut kemerdekaan. Rezim sekuler-nasionalis enggan mengakui bahwa kesadaran menjadi “Satu Bangsa” diinisiasi oleh organisasi berasas Islam.
  2. Ketakutan terhadap Implikasi Politik Islam: Mengakui NATICO 1916 sebagai tonggak kebangsaan berarti melegitimasi argumen kelompok Islam politik bahwa Islam adalah pemegang saham utama saham kemerdekaan Indonesia. Bagi rezim Orde Baru yang menerapkan kebijakan stabilitas dan represi terhadap Islam politik (Asas Tunggal Pancasila), menonjolkan NATICO 1916 dipandang berbahaya karena dapat membangkitkan militansi politik umat atas hak-hak negaranya.
  3. Taktik Penghapusan Teks di Buku Pelajaran Sekolah
    Menggunakan teori Ideological State Apparatus Althusser, rezim melakukan domestikasi narasi 1916 di ruang kelas melalui dua cara:

    • Reduksi Ruang (Kekurangan Porsi Halaman): Dalam buku teks sejarah sekolah, sejarah Sarekat Islam biasanya diringkas secara drastis. Penekanan buku pelajaran selalu lompat dari pendirian SDI oleh Samanhudi (1911) langsung menuju Perpecahan SI Merah dan SI Putih (dekade 1920-an). Peristiwa gemilang Juni 1916 sengaja dilewati. Negara lebih suka menampilkan memori SI sebagai organisasi yang “pecah dan bertengkar karena infiltrasi komunis” ketimbang organisasi yang “bersatu menggaungkan nasionalisme pertama kali”.
    • Eufemisme Istilah: Ketika pidato Tjokroaminoto terpaksa disinggung, istilah Zelfbestuur diterjemahkan secara lemah sebagai “keinginan menuntut hak otonomi daerah/parlemen (Volksraad)”. Makna aslinya sebagai gugatan teologis-politik atas hak kemerdekaan berdasarkan hukum Tuhan diredam agar terkesan sebagai gerakan evolusioner-kooperatif biasa.

Kasus hilangnya narasi 1st NATICO 1916 ini adalah fakta empiris, ketika dasar negara dan historiografi nasional dirancang secara cair tanpa jangkar moral eksternal yang absolut, maka sejarah akan ditulis ulang secara oportunistik. Sejarah resmi sengaja membuat publik mengalami “amnesia sejarah” terhadap momentum Juni 1916, demi menjaga agar supremasi narasi nasionalisme sekuler tetap tidak tertandingi oleh kontribusi historis Islam Nusantara.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 4 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam