Tragedi Sudan: Permainan Keserakahan
Oleh:
Nunung Nurhayati
(Aktivis Muslimah)
Terasjabar.co – Belum kering luka di Gaza, umat Islam kembali dilanda luka yang menganga. Sudan, negara terbesar ketiga di Afrika dengan mayoritas umat beragama Islam mengalami tragedi yang tak jauh berbeda dengan Gaza. Lebih dari 2.000 orang warga sipil telah dibantai dalam waktu tiga hari saja, sejak kota El-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur, Sudan Barat, direbut oleh kelompok milisi Rapid Support Forces (RSF) (news.detik.com, 29/10/2025).
Pembunuhan massal, eksekusi mendadak, serangan terhadap warga sipil di sepanjang rute pelarian, penggerebekan dari rumah ke rumah, hingga kekerasan seksual, dilaporkan terjadi sejak saat itu. Krisis kemanusiaan terburuk juga tercipta hingga membentuk gelombang pengungsi mencapai 14 juta jiwa. Tragedi Sudan, benarkah murni akibat konflik bersaudara?
Apa yang menimpa Sudan, tentu tidak sesederhana perang antara adik dan kakak. Ia tak lain merupakan eskalasi konflik dari skenario para penguasa dan negara adidaya. Berakar dari perebutan kekuasaan antara dua jenderal, hingga andilnya negara asing dalam menjaga keberlangsungan perang, sungguh skenario sempurna.
Konflik yang sejatinya dipelopori kepentingan geopolitik dalam perebutan pengaruh politik demi mengeksploitasi SDA di negeri Sudan telah menumbalkan ribuan nyawa. Dari keterlibatan AS, Inggris, hingga menyeret peran serta Zionis, Uni Emirat Arab, Iran dan yang lainnya, krisis Sudan hadir di dunia. Sudan yang kaya SDA, ubahnya hanya menjadi objek permainan keserakahan dunia global saja (republika.id, 31/10/2025).
Ironisnya, perebutan kekuasaan yang melahirkan kekejaman ini sering menyasar negeri-negeri dengan mayoritas umat beragama Islam. Umat Islam dibuat tertinggal, baik segi pemahaman maupun segi ekonominya. Bak Sudan, negeri yang kaya, namun terus dilanda krisis yang begitu panjangnya. Dan dunia, tidak pernah benar-benar berpihak kepada umat, sehingga keadilan tidak pernah benar-benar menyentuh dan terlihat.
Hegemoni Barat dengan asas kapitalisme, telah berhasil memecah belah tubuh umat. Umat Islam dibuat menjadi partikel-partikel kecil dengan di-setting untuk dijaga oleh para penguasa yang berada dibawah kendali mereka. Lembaga-lembaga dan aturan internasional sengaja dibuat demi mencapai kepentingan dan keberlangsungan peradaban kapitalisme saja.
Dari Gaza hingga Sudan, sampai kapan darah umat menjadi sangat tak berharga? Allah SWT telah berfirman; “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar” (TQS An-Nisa: 93). Rasullullah bersabda; “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak”(HR. Nasa’i dan Turmudzi).
Kelamnya tragedi umat, dari Gaza, Sudan dan negeri-negeri muslim lainnya, seharusnya mampu membukakan mata dan menaikan taraf berpikir umat Islam dalam membaca seluruh problem kehidupan yang melanda. Dalam kacamata ideologis, sebuah keniscayaan akan perang peradaban antara ideologi. Karena setiap pemahaman akan membentuk sistem kekebalan tubuh masing-masing dan menyerang pemahaman selainnya.
Sebagai umat beragama Islam, tentu menyakini akan kesempurnaan syariat Islam. Islam bukan hanya agama ritual melainkan juga sistem kehidupan yang datang dari Allah SWT. Umat harus tersadar bahwa akar setiap problem yang terjadi tak lepas dari sistem kehidupan yang diadopsi. Ditanggalkannya sistem Islam telah menghilangkan perisai umat yang selama lebih dari 13 abad lamanya memayungi manusia tanpa tragedi besar dan keji.
Allah SWT berfirman; “..Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu..” (TQS Al-Maidah: 3). “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (TQS. Al-Ma’idah: 50).
Umat harus yakin, sebagaimana hadirnya iman yang harus 100 persen. Bahwa hanya dengan penerapan Islam secara keseluruhan (kaffah), berbagai problematika kehidupan, baik politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya akan terpecahkan. Hadirnya Islam melalui diutusnya Rasulullah Muhammad Saw adalah untuk menyatukan umat melalui satu kepemimpinan global dibawah naungan daulah Islamiyyah.
Satu kepemimpinan itu harus terus diteladani sebagai konsekuensi dari iman. Karena dengan persatuan, umat mempunyai kekuatan besar dan perisai. Dengan persatuan, menjadi keniscayaan umat dalam melawan hegemoni negara-negara kafir Barat yang terus membuat umat Islam terjajah dan menderita.
Allah SWT berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu!” (TQS. Al-Anfal: 24). Maka, sudah saatnya umat mencampakkan sistem kufur, kembali melanjutkan kehidupan berlandaskan syariat Islam dan menegakkan daulah Islam. Allahu’alam bishshowab.






Leave a Reply