Kelaparan Sistemik: Cara Baru Sempurnakan Genosida
Oleh:
Nunung Nurhayati
(Aktivis Muslimah)
Terasjabar.co – Hingga 21 Juli, sebanyak 1.054 warga Palestina terbunuh oleh militer Israel saat mencoba mendapatkan makanan sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza [GHF] itu, mulai beroperasi pada 27 Mei. Sebanyak 21 anak telah meninggal dunia akibat malnutrisi dan kelaparan di seluruh wilayah Gaza dalam 72 jam terakhir. Sekitar 900.000 anak menderita kelaparan, dan 70.000 di antara mereka mengalami malnutrisi (bbc.com, 23/7/2025).
Entah kata apa yang mampu menggambarkan kebiadaban Zionis Yahudi. Mereka, seolah-olah bukanlah manusia yang tercipta dengan hati nurani. Badai kelaparan sistemik sengaja diciptakan, menjadi cara baru dalam menyempurnakan skenario genosida yang paling mengerikan.
Bahkan, Lembaga Penyiaran Israel (KAN) mengonfirmasi militer Israel telah menghancurkan puluhan ribu paket bantuan. Bantuan yang dihancurkan itu termasuk sejumlah besar makanan dan obat-obatan yang ditujukan bagi penduduk Gaza yang kelaparan. Israel menghalangi masuknya bantuan yang menumpuk di perbatasan, di hadapan dunia (international.sindonews.com, 26/7/2025).
Nampak jelas, bahwa kekejaman Zionis tak mempan hanya dengan retorika dan bantuan kemanusiaan saja. Ditambah, peran serta AS dan veto AS sebagai pembela zionis, menjadi amunisi kuat Zionis Yahudi dalam melancarkan berbagai kejahatannya. Mandulnya PBB pun, kini tak buram lagi. Ironisnya, tak satupun reaksi berpengaruh yang terwujud dari para pemimpin muslim atas kekejaman ini, seolah mereka telah mati rasa dan empati.
Padahal, Rasullullah Saw pernah bersabda; “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzalimi dan tidak menyerahkannya (pada kesulitan). Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang meringankan kesulitan seorang Muslim, Allah akan meringankan kesulitan darinya pada hari Kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lebih jelas dari itu, masih dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw menyampaikan; “Imam (pemimpin) adalah perisai, orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya”. Allah SWT pun berfirman; “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (TQS. Al-Hajj : 78).
Fakta Gaza hari ini, dengan 2 juta jiwa yang terjebak dalam blokade, terstruktur, berteman akrab dengan kelaparan hebat. Sejak gencatan senjata enam pekan gagal diperpanjang dan entitas Yahudi memberlakukan blokade penuh pada 2 Maret 2025, truk bantuan hanya diperbolehkan masuk dalam jumlah yang nyaris simbolik. Disisi lain, lemahnya sikap para pemimpin muslim dan umat Islam saat ini, memang tak lepas dari ilusi hasil propaganda Barat yang menyasar setiap tubuh umat.
Dampaknya, pasukan umat, para ulama, dan rakyatnya pun, tertahan bahkan menyerah. Padahal umat, mengantongi kekuataan yang luar biasa hebat. Sejarah panjang pun telah menjadi saksi mutlak, bahwa umat Islam berpotensi dengan kekuatan besar yang bersumber dari akidah Islam, mampu menjadikan negara Islam pada masa itu menjadi sebuah negara adidaya tak terkalahkan. Situasi hari ini, harusnya mampu menjadi ujung tombak perubahan, berbalik menjadi sarana untuk membangunkan umat akan mewujudkan kemuliaan umat Islam demi tercapainya solusi hakiki untuk permasalahan Gaza-Palestina.
Karenanya, masalah Gaza-Palestina bukan hanya masalah kemanusiaan semata. Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, ini merupakan masalah yang menyangkut hukum syara’. Bahkan, Ini merupakan masalah politik yang intim dengan konstelasi politik global yang terencana. Perampasan tanah milik umat Islam, pelanggaran hak-hak kependudukan, perampasan harta, kehormatan, juga hak hidup warga Gaza-Palestina, sangat tidak adil apabila penyelesaiannya hanya menggunakan solusi dua negara.
Pengusiran penjajah Zionis dari setiap jengkal tanah Palestina, seharusnya mampu dijadikan sebagai solusi sebagaimana permasalahan awalnya, yakni perampasan tanah oleh entitas Zionis Yahudi. Dengan thariqah jihad fiisabilillah, gerakan umat menjadi solusi konkret menyudahi kekejian yang belum pernah ada sebelumnya. Langkah ini, pastilah menuntut pengerahan tentara dan senjata yang hanya bisa dilakukan oleh institusi sebuah negara. Namun, negara seperti apakah yang akan mampu menantang andilnya negara adidaya sebagai pendukung kebrutalan zionis hari ini?
Tentu, negara itu haruslah bersifat independen. Negara yang tak haus kekuasaan, negara yang tak merendah hanya demi secuil kenikmatan dunia. Negara dengan satu kepemimpinan global yang berdiri hanya untuk menjalankan seluruh syariat Sang Pemilik Semesta. Negara yang tak tanggung-tanggung dalam menyambut seruan Allah SWT, “Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu..” (TQS. Al-Baqarah: 191).
Dari itu, menjadi PR jamaah dakwah ideologis yang berjuang dalam menyadarkan umat akan pentingnya persatuan umat Islam. Seraya melihat fakta, semakin masifnya kejahatan yang dilakukan oleh zionis Yahudi terhadap penduduk Gaza-Palestina. Jamaah dakwah ideologis juga, harus terus memimpin umat dalam mengembalikan izzah umat Islam. Kebangkitan pemikiran dalam diri umat harus terwujud kuat, sehingga mereka benar-benar akan berjuang sejalan dengan thariqah dakwah yang Rasulullah Saw contohkan.
Para pengemban dakwah pula, harus meningkatkan keterampilan dalam berinteraksi dengan umat melalui cara menggugah perasaan dan pemikiran yang telah termakan propaganda-propaganda Barat yang menyesatkan. Jamaah dakwah ideologi, sepatutnya terus meningkatkan keyakinan dan istiqamah dalam jalan dakwah dan terus mendekatkan diri pada Allah seraya melayakkan diri menjadi hamba Allah yang layak mendapatkan pertolongan-Nya. Allahu’alam bishshowab.






Leave a Reply