Heboh Grup Inses di Facebook, Bukti Kebobrokan Sistem
Oleh:
Arista Yuristania, S.Pt.
(Aktivis Muslimah)
Terasjabar.co – Masyarakat dibuat gempar dengan keberadaan sebuah grup di platform media sosial Facebook. Secara eksplisit, nama grup tersebut “Fantasi Sedarah”. Total pengikutnya 40 ribuan. Isinya sangat kotor dan menjijikkan yakni menjadikan anak-anak sebagai objek fantasi seksual dan menormalisasi hubungan sedarah (inses). Berapa lama aktivitas grup mesum tersebut belum diketahui. Namun, baru-baru ini grup itu viral di berbagai platform media sosial (mojok.co, Senin, 20/5/2025).
Keberadaan grup Facebook Fantasi Sedarah, merupakan realitas yang mengerikan. Realita itu menggambarkan hilangnya fungsi keluarga hingga jatuh sampai taraf terendah. Kehidupan di dalam keluarga yang seharusnya dipenuhi cinta kasih dan pendidikan, sebagai manifestasi gharizah nau’ (naluri berkasih sayang) berubah menjadi tempat pelampiasan nafsu birahi. Jika dari keluarga saja sudah salah kaprah dalam penyaluran rasa kasih sayang, lantas di mana lagi rasa cinta kasih murni itu didapatkan?
Realita menjijikkan ini, tidak dapat diselesaikan hanya sekadar sanksi hukum, sanksi sosial, edukasi, seminar, parenting dan sebagainya. Fenomena ini muncul sebagai akibat cara pandang kehidupan saat ini yang memisahkan agama dengan kehidupan (sekuler). Sekularisme melahirkan liberalisme, sebuah sistem kehidupan yang hanya mengedepankan kepuasan materi semata, termasuk kepuasan jasadiyah (fisik).
Dalam kitab Nidzhomul Ijtimaiy, buah karya Sheikh Taqiyuddin Anabhani, menjelaskan bahwa pandangan orang-orang Barat penganut ideologi kapitalisme dan orang-orang Timur penganut ideologi komunisme terhadap hubungan pria dan wanita, merupakan pandangan yang bersifat seksual semata, bukan pandangan dalam rangka melestarikan jenis manusia. Karena itu, mereka dengan sengaja menciptakan fakta-fakta yang terindera dan pikiran-pikiran yang mengundang hasrat seksual, di hadapan pria dan wanita dalam rangka membangkitkan naluri seksual, semata-mata untuk mencari kepuasan. Mereka menganggap tiadanya pemuasan naluri ini akan mengakibatkan bahaya pada manusia, secara fisik, psikis, maupun akalnya.
Karena itu, dalam masyarakat Kapitalisme banyak bermunculan konten-konten pembangkit syahwat baik dalam bentuk tulisan ataupun video. Aktivitas pemicu syahwat seperti ikhtilat (campur baur pria dan wanita) tanpa ada hajat syar’i seperti di rumah-rumah, tempat rekreasi, di jalan-jalan, di kolam renang, dan di tempat-tempat lainnya menjadi lifestyle. Padahal semua aktivitas ini menjadi penyebab terbentuknya pemikiran dan fantasi kotor, serta merusak gharizah nau’. Kondisi inilah yang menciptakan realitas yang menjijikkan seperti grup Fantasi Sedarah. Keluarga yang seharusnya memberikan kasih sayang murni menjadi tempat pelampiasan hawa nafsu yang hina.
Allah Swt sebagai pencipta manusia memang telah menganugerahkan gharizah nau’ kepada manusia agar mereka memiliki rasa cinta kasih. Tujuan penciptaan gharizah nau’ ini, agar manusia bisa melestarikan keturunannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)
Rasa cinta kasih ini dibutuhkan dalam sebuah hubungan, baik itu hubungan orang tua anak, suami istri, saudara, maupun kepada sesama, agar berjalan secara ma’ruf.
Dalam sebuah hadist mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijak.” Lalu ada yang bertanya, “Siapa mereka itu?”, “Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azza wa jalla.” (HR. Ahmad)
Seperti inilah cara pandang yang benar mengenai konsep dan penyaluran gharizah nau’. Dengan konsep yang benar, maka hubungan rasa kasih sayang kepada keluarga akan dibangun secara tepat sesuai perintah Allah. Ayah dan ibu sayang kepada anaknya karena sang anak adalah amanah yang Allah titipkan kepada mereka, untuk dididik menjadi orang yang salih/salihah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Sementara anak akan mencintai dan menyayangi orang tua dan saudara kandung karena keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 36)
Kehidupan keluarga dan masyarakat yang menjadikan Alquran sebagai standar beramal, akan menghasilkan hubungan yang berkah lagi baik. Tidak mungkin akan ada peristiwa inses karena itu termasuk dosa besar. Pihak keluarga dan masyarakat akan bersama-sama memandang perbuatan itu sebagai perbuatan hina, tercela, dan menjijikkan. Namun pandangan ini hanya bersifat personal jika tidak diterapkan dan dijaga oleh negara.
Karena itu, syariat memerintahkan negara sebagai institusi pelaksana dan penanganan (junnah). Negara dengan sistem Islam, akan memastikan sistem pergaulan (nidzam al-ijtima’iy) berjalan sesuai syariat, dari level masyarakat hingga individu. Dan juga memastikan tidak ada konten, mendeteksi, atau aktivitas yang memicu pelampiasan syahwat dengan cara yang salah. Dengan begitu, pandangan inses tidak akan muncul dan menyebar seperti saat ini. Masyarakat pun akan hidup dalam kehidupan yang suci dalam cinta kasih yang murni.
Wallahualam bissawab.






Leave a Reply