Menjadi Pahlawan Zaman Now

Oleh:
Siti Susanti, S.Pd.
(Pengelola Majelis Zikir As-Sakinah)

Terasjabar.co – November adalah salah satu bulan istimewa bagi kita di Indonesia, tepatnya tanggal 10 yang diperingati sebagai hari pahlawan.

Momen ini mengingatkan kita akan arti penting para pahlawan, yang gigih berjuang sehingga berhasil mengusir penjajah. Bung Tomo pernah mengatakan, lebih baik hancur lebur daripada tidak meraih kemerdekaan.

Berbeda zaman, masa kini tantangan hiduppun berbeda. Penjajahan fisik sudah tidak ada. Namun tampaknya, pahlawan akan selalu dibutuhkan.

Sosok pahlawan bisa jadi merupa seorang ayah bagi keluarga, ibu bagi anak-anak, bahkan, seorang pengusaha yang memberikan kemanfaatan kepada orang lain.

Dalam rangka ini, pemuda didorong untuk menjadi pengusaha karena bisa ikut mengangkat perekonomian masyarakat dan menyejahtetakan mereka.

Namun jika ditelisik, makna pahlawan lebih luas perannya, sebagaimana definisi dalam KBBI, disebutkan pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Dan secara kebutuhan, kondisi saat ini benar-benar membutuhkan kehadiran pahlawan.

Penerapan sistem kapitalistik saat ini terasa semakin menyengsarakan; kemiskinan, bahkan kemiskinan ekstrem, hingga angka stunting yang masih tinggi menjadi gambaran bahwa perekonomian saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Hal ini karena, konsep dalam sistem kapitalisme tidak akan mewujudkan keadilan. Teori trickle down effect yang digagas Adam Smith hanya akan mengantarkan kepada jurang pemisah yang menganga antara si kaya dan miskin, karena tidak memiliki batasan terkait kepemilikan, pengaturan kepemilikan dan distribusi kekayaan di tengah masyarakat.

Berdasar itu, pahlawan masa kini adalah sosok yang berani dan rela berkorban dalam menegakkan kebenaran.

Dengan kata lain, pahlawan masa kini adalah berjuang tanpa senapan, mewujudkan peradaban berkeadilan melawan kapitalisme yang menyengsarakan.

Dan tampaknya, hanya Islam yang dapat mewujudkan kesejahteraan, bukan hanya secara individual, namun secara sistemik.

Hal ini karena, Islam memiliki seperangkat aturan kafah (lengkap), yang dapat menyolusi permasalahan, termasuk dalam perekonomian.

Dalam perekonomian Islam, diatur terkait pembagian kepemilikan, pengaturannya, dan distribusi kekayaan, yang mengantarkan kepada keadilan.

Sistem Islam pernah teruji penerapannya. Dalam aspek perekonomian, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz( 682-720M), kesejahteraan masyarakat terwujud, hingga tidak ditemukan satu orang miskinpun yang berhak menerima zakat.

Abu Ubaid mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak, agar membayar semua gaji dan hak rutin di provinsi itu. ‘’Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun, di Baitulmal masih terdapat banyak uang,’’ tutur sang gubernur dalam surat balasannya.

Khalifah Umar lalu memerintahkan, ‘’Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah dia uang untuk melunasi utangnya!’’ Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah Umar, ‘’Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di baitulmal masih banyak uang.’’

Khalifah lalu memerintahkan lagi, ‘’Kalau begitu bila ada seorang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya!’’ Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah, ’’Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah.’’ Namun, di baitulmal ternyata dana yang tersimpan masih banyak.

Khalifah Umar lalu memberi pengarahan, ‘’Carilah orang yang biasa membayar jizyah dan kharaj. Kalau ada yang kekurangan modal, berilah mereka pinjaman agar mampu mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut pengembaliannya kecuali setelah dua tahun atau lebih.’’

Demikianlah, pemuda masa kini hendaknya mengambil peran untuk menjadi pahlawan dengan menjadi manusia bermanfaat, bukan hanya dalam skala pribadi, namun skala luas melalui penerapan Islam yang membawa kesejahteraan dan keadilan.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *