Soal Ambisi KSP Moeldoko, Toni Setiawan: Besar Nafsu Dari Kemampuan
Terasjabar.co – Perseteruan KSP Moeldoko dengan Partai Demokrat (PD) kembali memanas. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Drs. Toni Setiawan, M.IPol., menilai Moeldoko termasuk orang yang ambisius
Bahkan Toni menyebut, ulah KSP Moeldoko yang berkoalisi dengan Yusril semakin keterlaluan, bukan hanya terhadap kader Partai Demokrat, tetapi juga kepada rakyat Indonesia.
“Ulah mereka sudah sangat keterlaluan, melakukan siasat demi siasat jahat, menggunakan proxy para mantan kader Partai Demokrat, untuk mencapai ambisi kekuasaannya, dengan melakukan upaya-upaya pembodohan publik. Kami tegaskan nahra hanya ada satu kepengurusan Partai Demokrat yang sah dan diakui pemerintah yaitu kepengurusan dibawah Ketum AHY, tidak ada dualisme”, kata Toni, Senin (4/10/2021).
Toni mengungkapkan, konstruksi besar dari persoalan yang terjadi di Partai Demokrat ini, dimulai dari ambisi seorang KSP bernama Moeldoko, yang ingin sekali menjadi Presiden.
“Moeldoko adalah seorang petualang politik yang berambisi menjadi Presiden,” ungkap Toni.
Namun dirinya mengatakan meragukan kemampuan politik Moeldoko karena beberapa hal. “Memang soal kemampuan politik praktis KSP Moeldoko kami agak diragukan kapasitasnya. Jangankan menjadi Ketua Umum Partai Politik, menjadi ketua umum PSSI saja kalah oleh juniornya, yakni Pak Eddy Rahmayadi,” jelas Toni.
Toni juga mengungkapkan, pihaknya juga meragukan kemampuan inteljen KSP Moeldoko. Padahal, ada prinsip dasar militer, bahwa setiap insan prajurit adalah inteljen.
“Bisa jadi kemampuan inteljen beliau tumpul dan berkarat, karena tertutup oleh ambisi dan hawa nafsunya akan kekuasaan. Karena jika kemampuan intelijennya baik, ketika ada oknum kader demokrat bernama Johny Allen Marbun menawarkan KSP Moeldoko untuk menjadi Ketua Umum melalui KLB (Kongres Luar Biasa), tentu saja KSP Moeldoko akan melakukan langkah-langkah intelijen, sehingga tidak memalukan dirinya sendiri,” katanya.
“Kami saja, sebuah partai politik, menggunakan kemampuan intelijen yang sepatutnya. Ketika ada rencana kudeta ini, kami lakukan proses pengumpulan keterangan. Kemudian kami cek, apakah informasi ini benar atau tidak. Bahkan, sebagaimana yang rekan-rekan wartawan ketahui, kami juga menulis surat kepada Presiden. Tidak cukup itu, kami juga terus mengikuti pergerakan KSP Moeldoko. Sehari sebelum berangkat ke Deli Serdang, KSP Moeldoko masih berkegiatan dengan Presiden di Banten. Ini yang membuat Presiden Jokowi juga berang. Menurut informasi yang bisa kami percaya, KSP Moeldoko berangkat ke Deli Serdang tanpa izin Presiden. Meski sebelumnya KSP Moeldoko juga membantah terlibat KLB, tapi kami diberi informasi bahwa beliau akan berangkat ke Deli Serdang dengan pesawat Garuda pada hari Jumat tanggal 5 Maret 2021. Kenyataannya, meski sudah dipanggil beberapa kali oleh petugas Garuda di bandara, KSP Moeldoko tidak masuk pesawat, dia berusaha melakukan pengelabuan. KSP Moeldoko ternyata menggunakan pesawat jet pribadi dari Halim Perdana Kusumah ke Medan, dengan transit terlebih dahulu di Batu Licin Kalimantan Selatan. Siapa intelijen kami? Rakyat. Karena kami, Partai Demokrat Berkoalisi dengan Rakyat,” tambahya.
Herzaky menambahkan, berdasarkan keterangan para saksi, jelas sudah bahwa yang hadir di KLB illegal itu bukanlah pemilik suara yang sah. Mereka adalah para mantan kader PD dan bahkan banyak juga yang hadir adalah beberapa kader partai lain.
“Motivasi para peserta KLB yang dilakukan di Deli Serdang itu tentu hanya sekedar imbalan uang saja. Janjinya akan diberi uang 100 juta rupiah. Nyatanya, hanya sekitar 30an orang yang diberi 100 juta. Sisanya bervariasi, mulai dari lima juta hingga dua puluh lima juta. Karena itu, terjadi kekacauan di pihak KSP Moeldoko. Banyak yang kecewa dan menuntut janji-janji palsu yang tidak tertunaikan”, pungkasnya.






Leave a Reply