Pasien di Kota Bandung Meninggal di Taxi Online, Begini Kata AW
Terasjabar.co – Fenomena meninggalnya seorang lansia warga Cinambo, Kota Bandung di taxi online saat perjalanan mencari rumah sakit, karena terhalang penyekatan jalan di masa PPKM Darurat Jawa-Bali di Kota Bandung turut menyita perhatian publik, termasuk anggota Komisi V DPRD Jawa Barat asal Partai Demokrat, Asep Wahyuwijaya.
Menurutnya, pemerintah harus belajar dari kasus tersebut, dimana pelaksanaan PPKM Darurat dengan cara penutupan jalan harus dilakukan secara proporsional serta tetap mengutamakan sisi kedaruratan dan kemanusiaan.
“Pelaksanaan PPKM Darurat dengan cara penutupan jalan harusnya dilakukan dengan proporsional. Jangan lantas ditutup terus ditinggalkan, apalagi tidak semua pasien yang kondisinya kritis selalu dibawa ambulance kan? Bisa jadi ada yang pake mobil pribadi, taksi online atau bahkan gojek,” ujarnya, Jumat (9/7/2021).
Menurutnya, dengan adanya petugas yang bersiaga di titik penyekatan, justru diharapkan dapat turut membantu memperlancar laju kendaraan yang mengangkut pasien, terutama pasien berstatus darurat untuk segera tiba di tempat tujuan, yaitu rumah sakit.
“Jadi mestinya, menurut hemat saya, saat jalan ditutup tetap harus ada yang menjaga, siapa tahu ada pasien kritis yang ingin lewat. Karena ada petugas yang stand by di sana, justru kendaraan yang mengangkut pasien mendapatkan prioritas, jangan malah jadinya terpaksa harus muter-muter cari rute alternatif lain yang semakin lama, dan akhirnya justru pasien semakin terlambat tertangani rumah sakit,” ucapnya.
Ia pun mengingatkan bahwa penerapan penutupan jalan dalam masa PPKM Darurat merupakan upaya membatasi mobilitas, dengan tujuan menyelamatkan nyawa masyarakat dari potensi keterpaparan Covid-19.
Namun, jika penerapannya salah, maka akan salah juga dampak yang ditimbulkannya. “PPKM Darurat ini filosofinya untuk menyelamatkan jiwa warga, bukan malah jadi mencelakakan nasib warga yang sedang kritis kondisinya. Absurd kalau begini prakteknya,” katanya.
Sebelumnya, Seorang perempuan paruh baya bernama Kokom Komariah (57) warga Gang Andir, Kelurahan Pakemitan, Kecamatan Cinambo, Kota Bandung harus meregang nyawa di dalam sebuah taksi online yang sedang mengantarkannya ke rumah sakit setelah dirujuk dari Puskesmas Cijambe, Kamis (8/7/2021).
Peristiwa itu sebelumnya diketahui lewat postingan di media sosial yang viral, seorang pengemudi taksi online menceritakan mengantar suami, ibu dan anak bungsu keduanya ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, setelah mendapat surat rujukan dari Puskesmas Cijambe.
Dari beberapa rumah sakit yang didatangi, salah satunya RS Hermina yang berlokasi di Jalan A.H. Nasution, keluarga tersebut harus gigit jari, karena informasi dari petugas rumah sakit, bahwa ruang IGD rumah sakit tersebut dalam kondisi penuh.
Pencarian rumah sakit pun berlanjut ke RS. Al-Islam, namun kondisi serupa pun terjadi di rumah sakit yang berada di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung.
Opsi terakhir pun dipilih pihak keluarga, untuk membawa pasien ke Rumah Sakit Santosa yang berada di Jalan Kebon Jati, Kota Bandung. Namun, sebelum tiba di tujuan, saat hendak melintas di Jalan Asia-Afrika, perjalanan mereka terhambat oleh pemberlakuan penutupan akses jalan karena pemberlakuan PPKM Darurat di Kota Bandung, sehingga memaksa tadi daring yang membawa pasien dan keluarganya tersebut harus memutar mencari akses jalan yang terbuka.
Namun, saat upaya tersebut dilakukan, pasien telah menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan suaminya dan di dalam taxi online.
“Pas Adzan Dzuhur dijalan ke RS Santosa, tapi jalan banyak ditutup, Kata driver online-nya, harus keliling karena Jalan Asia Afrika ditutup, dan nyampe bakal lebih lama. Nah sekira pukul 12.30, istri saya lahun, sudah enggak ada, saya enggak sadar, ya Allah. Saya bilang ke anak, si mamah sudah enggak ada,” kata Agus, suami Kokom Komariah yang berprofesi sebagai penjual baso tahu ini di rumah duka, Jumat (9/7/2021)






Leave a Reply