DAS Cileungsi dan Cilamaya Tercemar, Pemprov Jabar Sidak Besar-besaran

Terasjabar.co – Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menangani pencemaran di Sungai Cileungsi dan Cilamaya seperti cara menangani Sungai Citarum. Sebagai langkah awal, Dinas Lingkungan Hidup bersama aparat melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah perusahaan.

Penanganan limbah selama ini terkendala keterbatasan kewenangan pada masing-masing pemerintah daerah. “Pemerintah daerah masing-masing saling tuduh bahwa pencemaran dari kabupaten lain,” kata Kepala DLH Jawa Barat, Bambang Rianto, Jumat (11/10/2019).

Padahal, pemerintah daerah sudah seharusnya bertanggung jawab mengawasi pabrik-pabrik di wilayahnya. Sebab, pemerintah daerah setempat yang mengeluarkan izin operasional pabrik tersebut.

“Karena sudah dibiarkan selama bertahun-tahun, jadi pemerintah provinsi ingin membantu menyelesaikan sungai-sungai ini. Pencemaran di sungai-sungai tersebut sudah sangat parah, sangat berat,” tutur Bambang.

Karena itu, sidak kali ini dilakukan secara besar-besaran terhadap lebih dari 20 pabrik di sepanjang Sungai Cileungsi dan belasan lainnya di Cilamaya. Kegiatan tersebut melibatkan tim gabungan DLH dan Kepolisian Daerah Jawa Barat.

Mereka melakukan sidak selama dua hari berturut-turut. Diawali pada Kamis (10/10/2019) dini hari di Daerah Aliran Sungai Cileungsi dan di sepanjang DAS Cilamaya pada Kamis tengah malam hingga dini hari berikutnya.

“Yang kami datangi itu perusahaan yang belum ditangani sebelumnya oleh Polda dan Dansektor Citarum Harum. Itu sisanya yang berdasarkan informasi dari kabupaten terkait itu yang kita sidak,” kata Bambang.

Dari sidak tersebut, DLH masih akan meneliti kandungan limbah sisa industri di laboratorium. Selain mengambil sampel dari setiap pabrik, petugas juga memeriksa instalasi pengolahan air limbah dan perizinannya.

Meskipun demikian, petugas menemukan sejumlah pelanggaran dalam proses pengolahan limbah pabriknya. Bahkan, beberapa perusahaan terindikasi membuang limbah produksinya tanpa diolah terlebih dahulu (by pass).

“Air limbah dari proses produksi tidak diolah di IPAL tapi dibuang ke badan air melalui saluran yang tidak memiliki izin. Kalo terindikasi by pass kita hentikan,” kata Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Madya Anna Oktavia seusai sidak.

Ia menyebutkan pelanggaran tersebut terindikasi dilakukan dua perusahaan di DAS Cilamaya dan tiga perusahaan di Cileungsi. Selain itu, ada sejumlah pelanggaran yang banyak ditemukan saat sidak.

Seperti, flow meter di outlet IPAL tidak berfungsi. “Masih banyak perusahaan yang nakal, dengan mengelabui petugas mengatakan kalau saluran tersebut tidak pernah digunakan. Padahal, ketika dicoba valve-nya untuk dibuka. Maka air dari salah satu unit IPAL mengalir ke media lingkungan,” tutur Anna.

Menurut pantauan PR yang ikut bersama tim ke lokasi sidak, perwakilan dari pihak perusahaan tidak dapat menjelaskan proses pengolahan limbah di tempatnya. Di dekat lokasi pembuangan limbah tercium bau busuk yang menyengat.

Anggota tim tersebut juga ada yang bertugas memeriksa cairan limbah secara langsung di lokasi. Menurut hasil pemeriksaan sementara, ditemukan limbah dengan kadar keasaman yang melanggar baku mutu, bersuhu tinggi, warna air keruh bahkan berbusa.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *