Mudik: Membangun Peradaban dari Kampung Halaman
Oleh:
Lilis Sulastri
Terasjabar.co – Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fitri, Indonesia seperti mengalami kontraksi spasial yang unik. Puluhan juta manusia bergerak serentak dari kota-kota besar menuju kampung halaman. Stasiun, bandara, dan jalan tol berubah menjadi lautan manusia dengan satu tujuan yaitu mudik. Fenomena tahunan yang sudah berlangsung puluhan tahun, namun di era digital hari ini, mudik mengalami pergeseran makna yang tak bisa diabaikan. Pertanyaannya, di tengah hiruk-pikuk perjalanan pulang kampung, apakah sakralitas nilai kehidupan masih terjaga, atau malah tergerus oleh arus modernitas?
Mudik sebagai Ritual Penemuan Jati Diri
Bagi Generasi Z yang lahir dan besar di kota-kota besar, kampung halaman sering hanya menjadi cerita orang tua. Mereka mungkin tak fasih berbahasa daerah, tak hafal silsilah keluarga, dan tak mengenali wajah sepupu-sepupu jauh. Kampung adalah entitas abstrak yang dikunjungi setahun sekali, seperti museum yang hanya dibuka saat Lebaran. Namun, mudik sejatinya adalah napak tilas identitas. Di tengah krisis identitas yang melanda generasi urban yang merasa bukan siapa siapa di kota tempat mereka tinggal, maka mudik menawarkan jawaban. Saat tiba di kampung, mereka bukan lagi anak rantau atau pendatang. Mereka adalah putra daerah, cucu Mbah Karto, atau keponakan Pak Lurah. Ada pengakuan sosial yang tak pernah mereka dapatkan di kota. Filsuf eksistensialis Martin Heidegger dalam karyanya Being and Time mengenalkan konsep thrownness (keterlemparan). Manusia, menurut Heidegger, terlempar ke dunia tanpa memilih. ‘Kita tidak memilih di mana lahir, dari keluarga siapa, atau budaya apa yang mewarisi kita’. Sebaliknya ‘keterlemparan’ yang membangun keaslian diri (authenticity). Mudik, dalam kerangka Heideggerian, adalah upaya sadar untuk kembali ke titik awal atas keterlemparan, untuk memahami ulang siapa kita sebenarnya. Namun, Heidegger juga mengingatkan bahaya das Man, yakni kondisi di mana manusia hidup tidak autentik karena sekadar mengikuti apa kata orang. Ketika mudik direduksi menjadi ajang pamer mobil baru atau baju Lebaran bermerek, kita sedang jatuh dalam perangkap das Man. Kita mudik bukan karena panggilan jiwa, tetapi karena tuntutan sosial.
Dampak Ekonomi: Berkah atau Beban?
Dari sisi ekonomi, mudik adalah mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang luar biasa. Kemenko Perekonomian mencatat perputaran uang pada saat mudik 2024 yang mencapai angka Rp 150 triliun lebih. Uang dari kota besar mengalir deras ke desa-desa. Pedagang pasar tradisional di kampung kebanjiran rezeki. Transportasi umum meraup untung besar. UMKM lokal pun hidup kembali. Namun, ada ironi di balik angka fantastis ini. Mudik sering menjadi ajang pamer prestasi semu. Beberapa rela berutang demi bisa pulang kampung dengan mobil baru. Karena gengsi dapat mengalahkan akal sehat lebih baik terlihat sukses di kampung daripada hidup pas-pasan di Rantau, dan menjadi fenomena yang menciptakan tekanan psikologis yang tidak sehat. Adalah Filsuf Perancis Jean Baudrillard, dengan teorinya tentang ‘masyarakat konsumsi’ , melihat fenomena ini sebagai bagian dari hiperrealitas. Kita tidak lagi membeli barang karena nilai gunanya, tetapi karena tanda-tanda yang melekat padanya. Mobil baru bukan alat transportasi, melainkan tanda kesuksesan. Baju bermerek bukan penutup tubuh, melainkan status sosial. Dalam kerangka Baudrillard, mudik telah menjadi panggung pertunjukan tanda-tanda, di mana manusia berlomba menunjukkan simulacra kesuksesan. THR yang seharusnya menjadi sarana berbagi kebahagiaan, kadang berubah menjadi beban finansial. Gaji bulan ketiga belas habis dalam seminggu untuk memenuhi tuntutan sosial di kampung. Dan setelah Lebaran, banyak yang harus memulai dari nol lagi, bahkan terjerat pinjaman online. Disinilah pentingnya literasi finansial berbasis nilai. Jika mudik hanya diukur dari seberapa besar uang yang dibawa, maka akan menjadi beban. Tapi jika mudik dipahami sebagai investasi sosial jangka panjang, merawat silaturahmi, membangun jejaring, dan memperkuat modal sosial, maka nilai ekonomi bukan hanya milik momen lebaran saja, namun akan terasa sepanjang waktu, sepanjang tahun.
Dampak Sosial: Merawat yang Nyaris Putus
Mudik adalah lem perekat sosial yang mencegah keluarga Indonesia hancur oleh jarak dan waktu. Di era di mana orang tua sibuk bekerja dan anak sibuk dengan dunianya sendiri, momen berkumpul bersama keluarga besar menjadi langka dan berharga. Anak-anak yang sehari-hari hanya bertemu orang tua di pagi dan malam hari, saat Lebaran bisa merasakan kehangatan keluarga utuh. Sepupu-sepupu yang tinggal terpisah di berbagai kota bisa saling mengenal. Kakek-nenek yang menua di kampung bisa kembali merasakan riuh rendah suara cucu-cucunya. Seorang Filsuf Jerman Walter Benjamin memiliki konsep menarik tentang aura dalam pengalaman otentik. Menurut Benjamin, reproduksi teknologi (foto, video) menghilangkan aura pengalaman asli. Dalam konteks mudik, kehadiran fisik memiliki aura yang tak bisa digantikan oleh panggilan video atau kiriman foto. Pelukan hangat ibu, aroma masakan khas kampung, atau suara adzan dari masjid tetangga, adalah aura yang hanya bisa dirasakan dengan kehadiran utuh.
Mudik seharusnya tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga momentum transfer pengetahuan dan pengembangan desa. Generasi muda yang merantau dan sukses di kota seharusnya bisa membawa pulang lebih dari sekadar uang dan oleh-oleh. Mereka bisa membawa pulang gagasan, koneksi, dan semangat perubahan. Bayangkan jika setiap pemudik pulang kampung tidak hanya untuk pamer kesuksesan, tetapi juga untuk berbagi keterampilan. Yang bekerja di startup bisa mengajari anak muda tentang coding. Yang bekerja di pemasaran digital bisa membantu pemasaran produk UMKM desa. Yang kuliah di jurusan pertanian bisa berbagi teknik bertani modern. Seorang Filsuf Islam terkemuka Seyyed Hossein Nasr dalam berbagai karyanya selalu menekankan pentingnya tradisi (sunnah) sebagai sumber pengetahuan yang hidup. Menurut Nasr, tradisi bukanlah masa lalu yang mati, tetapi mata air yang terus mengalir. Kampung halaman adalah penjaga tradisi. Ketika generasi muda pulang mudik dan duduk mendengarkan cerita orang tua, mereka sedang menimba langsung dari mata air. Namun, Nasr juga mengingatkan bahaya sekularisasi yang memisahkan manusia dari akar spiritual. Jika mudik hanya dimaknai sebagai liburan, tentu akan kehilangan dimensi sakral. Kampung halaman seharusnya tidak hanya menjadi tempat peristirahatan, tetapi juga proyek peradaban jangka panjang. Jika 10 juta pemudik setiap tahun menyisihkan sedikit waktu untuk berbagi ilmu di kampung halaman, dalam satu dekade kita akan melihat lompatan kualitas sumber daya manusia desa yang luar biasa. Pemerintah pun seharusnya melihat mudik bukan sebagai beban logistik semata, tetapi sebagai peluang. Program-program pemberdayaan desa bisa dikaitkan dengan momen mudik. Pelatihan-pelatihan bisa dijadwalkan bertepatan dengan kepulangan para perantau. Dengan demikian, arus balik manusia dari kota ke desa tidak hanya membawa uang, tetapi juga masa depan.
Menemukan Kembali Sakralitas yang Hilang.
Di tengah segala hiruk pikuk modernitas, mungkin sudah saatnya kita bertanya, untuk apa sebenarnya kita mudik? Filsuf besar Islam, Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah nya mengenalkan konsep ashabiyah atau solidaritas sosial. Menurut Ibn Khaldun, peradaban besar dibangun di atas pondasi solidaritas yang kuat, ikatan darah, ikatan tradisi, dan ikatan nilai bersama. Mudik, adalah ritual tahunan untuk merawat ashabiyah keluarga dan kampung halaman menjadi investasi jangka panjang bagi keberlangsungan peradaban. Namun Ibn Khaldun juga mengingatkan siklus naik turunnya peradaban. Ketika solidaritas mulai luntur digantikan oleh materialisme dan individualisme, maka peradaban akan menuju keruntuhannya. Jika mudik hanya menjadi ajang konsumerisme tanpa makna, akan menjadi bagian dari kemunduran, bukan kebangkitan. Jika mudik hanya untuk memenuhi gengsi sosial, kita akan pulang dengan hampa. Jika mudik hanya untuk liburan, kita akan kembali dengan lelah. Tapi jika mudik dimaknai sebagai ziarah ke akar, sebagai pengingat dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi, maka akan menjadi perjalanan spiritual yang memperkaya jiwa. Filsuf Edgar Morin, berbicara tentang perlunya pemikiran kompleks dalam memahami realitas, maka mudik adalah fenomena kompleks yang tak bisa direduksi menjadi satu dimensi saja. Mudik adalah ekonomi, sosial, budaya, spiritual dalam satu waktu dan sekaligus.
Menyadari kompleksitas mudik sebagai langkah pertama untuk memaknai mudik secara utuh. Maka sakralitas mudik tidak terletak pada kemeriahan kembang api atau banyaknya amplop Lebaran. Namun terletak pada kesediaan kita untuk hadir sepenuhnya secara fisik dan batin di tengah keluarga. Pada keberanian kita melepas topeng kesuksesan urban dan kembali menjadi diri sendiri. Pada kemampuan kita mendengar celoteh keponakan, merasakan pelukan orang tua, dan memandang wajah kakek-nenek yang semakin keriput. Ernst Cassirer, mendefinisikan manusia sebagai animal symbolicum makhluk penghasil simbol. Mudik adalah simbol paling kuat tentang apa artinya menjadi manusia, bahwa kita makhluk yang terikat pada asal-usul, pada keluarga, pada tradisi, dan pada nilai-nilai yang lebih besar dari diri kita sendiri. Di era digital yang menjauhkan yang dekat, mudik adalah penawar. Di tengah hiruk-pikuk ekonomi yang membuat terlena, maka mudik adalah pengingat. Di sela-sela perebutan kekuasaan yang memuakkan, maka mudik adalah oase.
Akhirnya, selamat mudik untuk semua. Semoga perjalanan pulang kali ini tidak hanya menggerakkan ekonomi dan menyambung tali silaturahmi dan sosial, tetapi juga mengembalikan kita pada fitrah kemanusiaan yang paling hakiki, bahwa kita adalah makhluk yang saling membutuhkan, yang tak bisa hidup sendiri, yang hanya berarti ketika bersama menjaga peradaban dan kemanusiaan.
Selamat pulang ke akar. Selamat merayakan kemenangan sejati.
Wallahu’a’lam bis showaab






Leave a Reply