Equinox Membuat Suhu Udara di Kawasan Bandung Raya Lebih Panas
Terasjabar.co – Dalam beberapa pekan terakhir, suhu udara di kawasan Bandung Raya terasa lebih hangat dari biasanya. Hal itu terjadi karena wilayah Indonesia sedang mengalami fenomena equinox.
Hal tersebut disampaikan Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung Jadi Hendarmin dalamw awancara yang disiarkan Radio PRFM, Senin (08/10/2018).
Jadi menjelaskan, equinox adalah fenomena matahari yang berada di lintasan garis khatulistiwa. Peristiwa langka itu membuat posisi matahari terbit dan terbenam bisa dilihat secara horizontal di seluruh dunia.
“Posisi matahari pada tanggal 5-6 Oktober tepat berada di Pulau Jawa sehingga suhunya terasa lebih hangat,” ujarnya.
Suhu udara maksimum di Bandung Raya pada beberapa hari ke belakang tercatat mencapai 32,3 derajat celcius. Sebelum fenomena equinox, kata Jadi, suhu maksimum biasanya dikisaran 30-31 derajat celcius.
“Fenomena ini tidak akan berlangsung lama karena matahari terus bergerak (pergerakan semu) ke arah selatan,” ujarnya.
Jadi meminta masyarakat untuk mewaspadai perubahan cuaca secara drastic mengingat saat ini wilayah Bandung Raya mulai memasuki musim peralihan.
Sementara itu, Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung telah menyiapkan antisipasi ancaman pohon tumbang dan banjir yang kerap terjadi ketika musim hujan. Hal itu diperlukan lantaran musim hujan di Kota Bandung diprediksi terjadi pada awal November mendatang.
“Kami sudah berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk melakukan pengecekan ulang (rechecking) sistem drainase serta pohon-pohon di Kota Bandung,” kata Kepala DiskarPB Kota Bandung Ferdi Ligaswara.
Setelah dilakukan pengecekan, katanya, dinas-dinas terkait akan melakukan tindakan berupa pembersihan drainase hingga memotong dahan pohon untuk mengurangi beban.
“Agar maksimal, antisipasi seperti ini perlu juga dilakukan oleh masyarakat. Setidaknya membersihkan selokan atau gorong-gorong di wilayahnya sendiri,” ujar Ferdi.
Ia menyatakan, selama musim kemarau biasanya selokan sudah dipenuhi sampah ataupun tanah akibat sedimentasi. Apabila dibiarkan, maka air hujan yang seharusnya mengalir di selokan akan terhambat dan meluber ke jalan.
“Khawatirnya ketika di utara hujan besar, lalu sistem drainasenya masih belum diperbaiki, terjadi banjir Cileuncang seperti yang sudah-sudah,” tuturnya.





Leave a Reply