Api Semangat Saat Membaca Buku “Titik Nol, Kehendak Berpemerintahan Sendiri, (Zelfbestuur) 1916: Dari Bangsa Pribumi Muslim di Hindia Timur”
Oleh:
A. R. Helmi
(WNI di Australia)
Terasjabar.co – Segala sesuatu di bumi ini ada awalnya, tentu ada permulaannya, hukum serta kaidahnya adalah harus ada langkah pertama yang ditempuh dalam melakukan sebuah perjalanan. Begitu juga perjalanan sejarah sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia dalam pencapaian kemerdekaan serta komitmen untuk “berdiri sendiri”.
Merdeka adalah sebuah hasil, merdeka adalah pencapaian dari upaya atau proses yang berkelanjutan. Ibarat memecah sebuah batu yang besar, merdeka adalah saat pecahnya batu itu. Tetapi, harus ada proses juga niat baja yang berkobar, sehingga upaya menggempurnya bisa terus berkelanjutan. Memukul … memukul … memukul batu besar itu hingga pecah berkeping-keping.
Yaitu batu besar penjajahan, batu besar kebodohan, batu besar keminderan, batu besar yang tertanam dalam benak Bangsa Pribumi Muslim yang cenderung merasa tak berdaya dihadapan Bangsa Asing (pen: penjajah Belanda), dimana mereka telah menjajah, mengeruk … merampok seluruh daya serta darah anak-anak negeri Indonesia.
Titik Nol … titik nol adalah dimulainya sebuah niat, sebagai tonggak yang kuat, yaitu komitmen “zelfbestuur” (berpemerintahan sendiri). Sebuah “kata sakti” yang terucap dari sosok berjiwa baja, HOS Tjokroaminoto, di Alun-alun Bandung saat Nationaal Congres (NATICO) pertama Sarekat Islam pada 17-24 Juni1916.
Titik Nol … ini adalah tonggak awal bagi terus berlanjutnya gempuran godam-godam anak negeri, gejolak kesadaran untuk mandiri serta memiliki harkat dan martabat agar bisa lepas dari jerat yang membelenggu.
Pecahlah … pecahlah kebuntuan dan batu kejumudan dalam pikiran anak negeri, yang kerap hanya dianggap sebagai “1/4 manusia” oleh kaum penjajah. Kini terbitlah kesadaran, bahwa mereka adalah bangsa yang punya marwah dan harga diri.
Titik Nol … dimana langkah-langkah anak negeri di Bumi Pertiwi dimulai. Mereka berduyun-duyun, berarak membawa godam-godam dalam jiwa, godam yang sanggup memecah dan mendobrak pikiran-pikiran jumud-beku saat itu. Di jaman yang masih banyak orang terlena dan beranggapan bahwa jaman penjajahan adalah “jaman normal”, hasil dari “cuci otak” yang ditanamkan sejak beratus-ratus tahun oleh penjajah. Sejak kakek mereka, lalu ayah sampai pada anak-cucu terus ditekankan pemahaman jika bangsa asing penjajah adalah nomor satu, jauh lebih mulia dari dirinya, lebih unggul dari bangsanya sendiri.
Titik Nol … dari sinilah kesadaran negeri kita dimulai, sebuah moment monumental yang bukan hanya pada sejarah, namun juga dalam benak jiwa mereka yang mengaku sebagai orang-orang Indonesia merdeka.
Dan … sampai saat ini … kita pun masih harus meneriakkannya … memekikkan … bahwa mental serta “ruh” Zelfbestuur harus tetap ada didalam diri.
Terimakasih untuk para penulis buku ini: Nunu A Hamijaya, Fathia Lestari, dan Nunung K. Rukmana.






Leave a Reply