Krisis Penerapan Pancasila di Masa Kini: Teks Disakralkan, Nilai Disingkirkan

Oleh:
Muhammad Lyundziro Mandalika
(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Pancasila diciptakan bukan hanya sekedar dasar negara, tetapi juga sebagai pedoman kehidupan berbangsa. Pancasila diciptakan sebagai pedoman moral, politik, dan sosial yang mampu menyatukan masyarakat Indonesia. Namun, di tengah perkembangan zaman dan era globalisasi, banyak masyarakat menilai bahwa Pancasila semakin kehilangan nilai
implementasinya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi negara Indonesia semakin diwarnai dengan konflik, polarisasi politik, dan pertengkaran digital. Alih-alih menjadikan Pancasila sebagai pedoman etika untuk berdialog, ruang publik justru melupakan nilai-nilai pancasila. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Pancasila belum sepenuhnya digunakan masyarakat sebagai pedoman hidup, melainkan hanya sebagai simbol dari sebuah negara. Sila kedua pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, idealnya menjadi pedoman etik dalam memperlakukan sesama. Namun ketimpangan sosial ekonomi, aksi kekerasan, intoleransi, perundungan, hingga diskriminasi masih terjadi di banyak tempat dan tidak memandang kelas, gender, ekonomi.

Krisis ini bukan sekadar interaksi masyarakat di kehidupan sosial, tetapi juga menipisnya empati masyarakat dalam kehidupan soial. Di era digitalisasi, tragedi kemanusiaan sering berubah menjadi tontonan viral dan hiburan di media sosial, sementara tindakan saling membantu kini hanya diniatkan sebagai pencitraan semata sebagai bantu loncatan penumbuhan citra baik pribadi maupun kelompok.

Korupsi yang terus berulang menunjukkan lemahnya implementasi nilai Keadilan sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pedoman moral. Ironisnya, pelaku korupsi kerap adalah mereka yang telah menempuh pendidikan Pancasila selama bertahun-tahun dan menilai dirinya sebagai nasionalis. Hal ini terjadi bukan hanya pada para pemilik kekuasaan di suatu negara, melainkan juga demikian dengan para masyarakatnya, sehingga tidak ada pembeda antara para pelaku politik dengan masyarakat pada umumnya.

Di sekolah Pancasila sering diajarkan sebagai materi kognitif, bukan sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Murid diminta menghafal sila tetapi jarang dilatih untuk menghayati makna dan mengimplementasikannya. Akibatnya, pendidikan Pancasila hanya menjadi ilmu pengetahuan, dan bukan sebagai karakter kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sinilah akar persoalan krisis penerapan Pancasila berada, kita memahami Pancasila secara teoritis, tetapi gagal menjadikannya sebagai kebiasaan hidup.

Dengan fenomena ini sangat cukup membuktikan bahwa krisis penerapan Pancasila dalam kehidupan di masa kini benar-benar terjadi, perilaku yang menyimpang dapat menjadi bukti konkret bahwa masyarakat lupa akan penerapan nilai Pancasila. Masyarakat harus melakukan perubahan signifikan dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila Krisis penerapan Pancasila bukan perkara kecil, tetapi juga bukan jalan yang buntu.

Ada beberapa pendekatan yang dapat diperkuat:

  1. Keteladanan Moral dari Pemimpin: Pancasila akan lebih kuat jika nilai-nilainya menjadi praktik nyata pemimpin, bukan
    sekadar janji pada momen tertentu terutama pada masa kampanye.
  2. Pendidikan Pancasila Berbasis Pengalaman: Mengubah pendekatan hafalan menjadi pendekatan diskusi kritis, praktik sosial, kegiatan pengabdian, dan pembiasaan etika dan moral.
  3. Penggunaan Digital yang Sehat: Media sosial harus menjadi ruang dialog, bukan ruang perpecahan dan ruang mengecam. Literasi digital juga menjadi kunci untuk mencegah misinformasi dan ujaran kebencian terutama di media sosial
  4. Pemerataan Ekonomi dan Keadilan Sosial: Mengurangi ketimpangan melalui kebijakan yang mengadopsi nilai-nilai pancasila, pemerataan infrastruktur, serta perlindungan hak warga negara.
  5. Revitalisasi Peran Keluarga dan Komunitas: Keluarga merupakan sekolah pertama nilai Pancasila yaitu nilai kejujuran, tolong-menolong, toleransi, dan gotong royong yang dapat dimulai dari keluarga.

Krisis penerapan Pancasila bukan karena nilai-nilainya sudah usang, melainkan karena kita terlalu jarang menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila tidak membutuhkan seremonial atau nilai baru. Yang Ia butuh kan adalah penerapan dalam perilaku kita sehari-hari sebagai warga negara, bagaimana kita berbicara, berinteraksi, bekerja, dan menyelesaikan masalah dengan musyawarah tanpa melupakan etika dari nilai sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di tengah perubahan teknologi, politik, dan budaya, Pancasila akan tetap hidup jika kita sebagai warga negara menghidupkannya kembali sebagai pedoman berbangsa dan bernegara.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × four =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam