KBC: Sekularisme Bertopeng Cinta

Oleh:
Putri Efhira Farhatunnisa
(Pegiat Literasi di Majalengka)

Terasjabar.co – Dunia pendidikan disibukkan kembali dengan diluncurkannya kurikulum baru oleh kementerian Agama (Kemenag), setelah sebelumnya ada kurikulum berbasis moderasi beragama. Kurikulum kali ini dikeluarkan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan nama Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Ketika ada kata cinta di dalamnya, terlihat seperti sesuatu yang indah, tapi akankah sesuai namanya?

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan kurikulum yang menitikberatkan titik temu antar umat beragama agar tidak terfokus pada perbedaan. Lahir dari keresahan atas krisis kemanusiaan, maka kurikulum ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai cinta, kebersamaan dan tanggung jawab ekologis sejak dini. KBC berlaku mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Menag Nasaruddin Umar juga mengatakan “jangan sampai mengajarkan agama tapi menanamkan kebencian kepada yang berbeda.” Dengan begitu pendidikan ini dapat mencetak generasi yang rukun dengan perbedaan yang ada. (kemenag.go.id 24/7/2025)

Kekurangan Kurikulum Cinta

KBC menjadi wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Namun karena kemiripan konsep dengan kurikulum sebelumnya, membuatnya hanya menjadi rebranding ketika menteri berganti, tanpa perubahan substansi yang nyata, kurikulum ini dinilai hanya berganti nama dari Kurikulum Moderasi Beragama (KMB) menjadi KBC. Hal ini memunculkan rasa jenuh dan sikap skeptis dari para guru yang merasa belum memahami KMB, tetapi kini harus berganti lagi.

Panduan KBC pun dinilai kurang mudah dipahami sehingga membingungkan tenaga pendidik. Alih-alih materi pendekatan, para pengajar khawatir kurikulum ini akan menjadi mata pelajaran baru yang tentu akan menambah pekerjaan mereka. Dengan segudang kesibukan administratif lainnya, hal ini berpotensi mengurangi efisiensi mengajar.

Dampaknya, para murid akan kesulitan untuk mengimplementasikan kurikulum tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah derasnya arus gaya hidup Barat yang merusak, maka tujuan pendidikan untuk mencetak generasi yang berprestasi dan berakhlak mulia akan sulit dicapai. Oleh karena itu, diperlukan kurikulum yang berasaskan akidah yang benar, sesuai fitrah, dan dinamis tanpa mengubah substansinya.

Selain itu, terdapat potensi bahaya terselubung dalam kurikulum ini, di antaranya deradikalisasi sejak dini dalam berbagai bentuk. Kurikulum ini juga dikhawatirkan mengajarkan generasi Muslim untuk bersikap keras terhadap sesama Muslim, tetapi lembut terhadap umat agama lain. Muslim yang berusaha taat secara menyeluruh bisa dicap radikal, sedangkan non-Muslim diperlakukan lembut meski batas akidah dilanggar.

Kurikulum ini juga menuai kritik dari berbagai tokoh masyarakat. Salah satunya datang dari M. Febriyanto Firman Wijaya, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UM Surabaya. Ia khawatir peserta didik akan kehilangan pemahaman yang benar tentang batasan-batasan dalam Islam jika hanya menitikberatkan pada aspek cinta tanpa pembangunan akidah yang kokoh. Ia juga menegaskan bahwa dari segi implementasi perlu ada kejelasan agar benar-benar memberikan manfaat tanpa membuat bingung peserta didik dan tenaga pengajar.

Buah Penerapan Sekularisme

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) semakin tampak sebagai kurikulum bercorak sekularisme yang berpotensi menjauhkan generasi dari ajaran Islam. Dalam sistem sekularisme, akal manusia dijadikan sumber hukum sekaligus penentu segala urusan. Aturan yang lahir dari kompromi jalan tengah, namun mengabaikan kebenaran hakiki, jelas bertentangan dengan prinsip Islam.

Inilah konsekuensi dari penerapan sekularisme: seluruh tatanan dibuat untuk mempertahankannya. Pendidikan tak lagi diarahkan untuk melahirkan generasi berprestasi dan berakhlak mulia, melainkan generasi yang patuh terhadap sistem itu. Bukan kecerdasan yang diutamakan, tetapi kepatuhan tanpa banyak bertanya. Keadaan dibuat sedemikian rupa sehingga manusia merasa tidak memiliki pilihan, lalu pasrah menerima nasib, meski harus memendam luka dan penderitaan.

Kurikulum Pendidikan dalam Islam

Berbeda dari sekularisme, Islam menegaskan bahwa kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Pendidikan adalah sarana strategis untuk membentuk generasi berprestasi sekaligus berkepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyah) yang berpijak pada ajaran agama. Kepribadian tersebut lahir dari pemikiran dan sikap yang dibentuk melalui penguatan akidah serta penanaman ketaatan kepada Allah SWT sejak usia dini.

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang lemah dan terbatas. Dengan keterbatasan itu, manusia tidak mampu menetapkan aturan yang sempurna, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Satu-satunya aturan yang layak diikuti hanyalah aturan dari Allah, yang mampu mengantarkan manusia kepada kesejahteraan sejati. Termasuk dalam pendidikan, akidah Islam adalah fondasi yang tak tergantikan.

Toleransi dalam Islam

Berbicara soal toleransi—yang menjadi salah satu alasan lahirnya Kurikulum Cinta—Islam telah mempraktikkannya jauh sebelum dunia modern menggaungkannya. Selama ratusan tahun, sejak masa Rasulullah ﷺ hingga para khalifah, Islam berhasil menaungi masyarakat yang beragam keyakinan, ras, dan warna kulit.

Dalam keseharian, Rasulullah ﷺ memberikan teladan agung dalam sikap toleransi dan penghormatan kepada sesama manusia tanpa membedakan agama. Beliau menekankan pentingnya berbuat baik kepada tetangga, sebagaimana wasiat Jibril yang terus mengingatkan beliau hingga beliau mengira tetangga akan dijadikan ahli waris. Ketika jenazah seorang Yahudi lewat di hadapan beliau, Rasulullah berdiri menghormatinya. Saat para sahabat bertanya, “Itu jenazah orang Yahudi,” beliau menjawab, “Bukankah dia juga manusia?” (HR. Bukhari no. 6014, Muslim no. 2625).

Beliau juga menjenguk seorang anak Yahudi yang sakit, duduk di sisinya, mengajaknya berbicara, dan dengan penuh kelembutan mengundangnya kepada Islam—yang akhirnya diterima oleh anak tersebut (HR. Bukhari no. 1356). Meski begitu, Rasulullah tidak pernah memaksa seseorang memeluk Islam, sebagaimana firman Allah, “Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Sikap-sikap ini membuktikan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan kemanusiaan, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh alam. Inilah wujud toleransi sejati yang patut diterapkan: damai antarumat beragama tanpa menyalahi batas akidah, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah—bukan toleransi kebablasan ala sekularisme.

Islam yang kaffah (menyeluruh) memang bertentangan dengan sekularisme, sehingga kebangkitannya selalu dihambat. Sebab, Islam yang utuh akan membebaskan manusia dari belenggu sistem yang menjerumuskan mereka ke jurang penderitaan. Ketika manusia sadar bahwa hanya Islam yang layak menjadi pijakan hidup, kebangkitan Islam akan terwujud, dan sekularisme akan runtuh. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × four =

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777

PGSOFT Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways PGSOFT
Mahjongways Kasino Online
RTP PGSOFT Mahjong
Mahjong Ways
PGSoft Mahjongways Kasino Online
Gameplay Mahjong Ways 2
RTP PGSOFT
PGSOFT Mahjongways
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways PGSOFT
Mahjongways Kasino Online
RTP PGSOFT Mahjong
Mahjongways Kasino Online
RTP PGSOFT Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Game Digital
Mahjongways Kasino Online
Game Online
Gameplay Mahjong Ways
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Pola Gameplay Game Online
Game Online
Mahjong Ways
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Pola Mahjong Ways 2
Ritme Permainan Gameplay
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjongways Kasino Online
Game Online
Mahjongways Kasino Online
Game Online
Mahjongways Kasino Online
Game Online
Mahjongways Kasino Online
Game Online
Mahjongways Kasino Online
Game Online
Mahjongways Kasino Online
Mahjong Ways
Mahjong Ways
Scatter Besar di Mahjong Ways
Mahjong Ways
RTP PGSOFT Mahjong Ways
Slot Online Gacor Hari Ini
Strategi Slot Online Modern
Strategi Slot Online
Tips Main Slot Online
Gameplay Slot Online