Ketika Jamaah Mulai Berangkat, Kerinduan Itu Kembali Menyesak: Sepenggal Kisah Rindu Tanah Suci
Oleh:
Dr. H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag.
Terasjabar.co – Setiap kali bulan Dzulqa’dah datang dan suara takbir mulai menggema di berbagai sudut tanah air, hati ini seperti kembali diaduk-aduk oleh satu rasa yang begitu dalam “rindu”. Rindu yang tak pernah benar-benar pergi sejak kaki ini terakhir kali menginjakkan kaki di tanah Haram (Makkah dan Madinah). Apalagi tahun ini, ketika rombongan jamaah haji Indonesia mulai kembali berangkat, kerinduan itu tak tertahankan lagi.
Tahun lalu, Allah mengizinkan saya menjalankan amanah sebagai petugas kloter dalam Ibadah Haji 2024. Suatu kehormatan sekaligus tanggung jawab besar yang tak ternilai harganya. Menyaksikan langsung wajah-wajah penuh harap, tangis haru dalam thawaf, dan sujud-sujud khusyuk di depan Ka’bah menjadi pengalaman spiritual yang tak akan pernah bisa tergantikan. Saya bukan hanya menjadi pelayan jamaah, tapi juga saksi hidup akan keajaiban, kesabaran, dan keikhlasan umat dalam menjalani puncak ibadah mereka.

Kini, ketika melihat kembali siaran keberangkatan jamaah haji dari Bandara Soetta dan BIJB Kertajati, hati saya terasa kosong. Bukan karena saya tidak bersyukur pernah mendapatkan kesempatan itu, tetapi karena begitu kuatnya kerinduan untuk kembali. Setiap koper yang ditata, setiap salam tangan kepada keluarga yang ditinggal, dan setiap gema doa sebelum naik ke pesawat seolah menjadi potongan kenangan yang dulu saya jalani bersama para jamaah tercinta.
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika kita pernah berada di Tanah Suci. Aroma udara Makkah dan Madinah masih melekat kuat dalam ingatan. Lantunan adzan dari Masjidil Haram seolah masih bergema di telinga. Dan terutama, kenangan tentang para jamaah yang kita dampingi yang mungkin kini telah tiada, atau yang tetap menjaga ukhuwah meski raga telah kembali ke tanah air terus menghantui dengan indah.

Kerinduan ini bukan hanya pada tempatnya. Tapi juga pada suasana, pada jiwa yang terhubung, pada getar iman yang membuncah, dan pada tugas mulia yang membuat saya merasa menjadi bagian kecil dari pelayanan Allah kepada tamu-tamu-Nya.
Saya yakin, bagi siapa pun yang pernah menjadi petugas haji, kerinduan ini adalah bagian dari cinta. Cinta yang tak bisa dihapus waktu. Cinta yang menyatu dalam tiap langkah kaki menuju Raudhah, dalam tiap hembusan angin di Mina, dan dalam tiap gema tahlil di Arafah.
Hari ini saya hanya bisa mengirim doa dari jauh. Semoga para jamaah haji tahun ini diberikan kekuatan, kesehatan, dan kemabruran dan semoga Allah mengizinkan saya kembali. Menjadi petugas, atau mungkin kembali sebagai jamaah biasa pun tak masalah. Karena yang saya rindukan bukan sekadar status, tapi kedekatan dengan-Nya, yang terasa begitu nyata di tanah yang diberkahi itu.
“Ya Allah, izinkan aku kembali. Bukan karena aku layak, tapi karena Engkau Maha Pemurah terhadap hamba yang merindu“.





Leave a Reply