YAKINKAH HARI AKHIRAT ITU ADA? BERAT MENANGGUNG BEBAN KEDUSTAAN, APALAGI JIKA DIBAWA SAMPAI AJAL MENJEMPUT
Oleh:
Yanuar Amnur
(Sekjen DPP Harakah Bakomubin)
Terasjabar.co – Berat benar menjadi orang yang memikul amanah umat, rakyat, dan negara, tetapi kemudian amanah itu dicampuri dengan kebohongan, manipulasi, atau ketidakjujuran.
Sebab dosa kepada Allah mungkin masih dapat kita mohonkan ampun dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Tetapi bagaimana dengan dosa kepada manusia?
Bagaimana dengan hak jutaan rakyat yang merasa suaranya harus dihormati?
Bagaimana dengan amanah demokrasi yang dipercayakan melalui surat suara?
Dan bagaimana jika ada pihak yang benar-benar melakukan kecurangan, lalu kecurangan itu disembunyikan, dibantah, atau dibawa sampai seseorang meninggal dunia?
Na’udzubillahi min dzalik.
Persoalan Pemilu 2024 bukan sekadar pertarungan politik. Dalam persidangan Mahkamah Konstitusi, berbagai dalil dan kesaksian mengenai proses Pemilu 2024 memang pernah diperiksa, termasuk persoalan Sirekap, netralitas pejabat, bantuan sosial, pencalonan, dan prosedur penyelenggaraan pemilu. MK bahkan mencatat bahwa data Sirekap yang belum tervalidasi dapat menimbulkan ketidakpastian dan kegaduhan di masyarakat.
Namun kita juga harus jujur secara intelektual: MK pada akhirnya menolak permohonan PHPU Pilpres 2024.
Karena itu, jangan kita ubah dugaan menjadi vonis. Jangan pula orang yang belum terbukti bersalah kita nyatakan sebagai pelaku kejahatan.
Tetapi sebaliknya, jangan pula fakta-fakta yang pernah dipersoalkan di persidangan dianggap tidak pernah ada.
Ada saksi yang bersaksi.
Ada ahli yang memberikan keterangan.
Ada bukti yang diperiksa.
Ada persoalan penyelenggaraan yang dicatat.
Dan ada pula tiga hakim konstitusi yang menyampaikan pendapat berbeda dalam perkara tersebut.
Semua itu menjadi bagian dari sejarah hukum dan demokrasi Indonesia.
Maka doa kita bukanlah:”Ya Allah, matikan mereka yang kami anggap mencurangi Pemilu.”
Tetapi lebih tepat: “Ya Allah, jangan Engkau matikan kami sebelum kebenaran ditegakkan. Jika ada yang bersalah, bukakan kebenarannya, berikan keberanian kepada penegak hukum untuk mengungkapnya, dan berikan kesempatan kepada orang yang bersalah untuk bertaubat serta mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Sebab keadilan bukanlah dendam.
Keadilan adalah ketika yang benar tidak dipaksa menjadi salah, yang salah tidak dilindungi karena kekuasaan, dan hak rakyat tidak diperlakukan sebagai barang permainan.
Urusan umat adalah urusan yang sangat berat.
Seorang pemimpin boleh saja berhasil memperoleh jabatan di dunia.
Tetapi tidak seorang pun dapat melarikan diri dari pengadilan Allah SWT.
Di dunia, manusia dapat berdebat dengan hukum dan kekuasaan.
Di akhirat, tidak ada lagi pengacara, jabatan, uang, kekuasaan, buzzer, pencitraan, maupun propaganda.
Yang berbicara hanyalah amal dan kebenaran.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
QS. An-Nisa: 58
Maka kepada siapa pun yang pernah memegang amanah rakyat: Jangan curangi suara rakyat.
Jangan dustai sejarah.
Jangan manipulasi kebenaran.
Jangan gunakan kekuasaan untuk menutupi kesalahan.
Karena mungkin manusia bisa kita yakinkan.
Tetapi Allah SWT tidak pernah dapat kita kelabui.
Dan jika ada kesalahan yang pernah dilakukan, segeralah bertaubat, koreksi, dan pertanggungjawabkan.
Sebab yang paling menakutkan bukan sekadar kehilangan jabatan.
Yang paling menakutkan adalah meninggalkan dunia dengan membawa dosa dan hak manusia yang belum terselesaikan.
Na’udzubillahi min dzalik.
Semoga Allah menjaga Indonesia, menjaga kejujuran dalam Pemilu, menjaga para penyelenggara negara dari pengkhianatan amanah, dan memberikan keberanian kepada seluruh anak bangsa untuk berdiri bersama kebenaran dan keadilan.






Leave a Reply