HOS Tjokroaminoto: Islam, Imperialisme, dan Cita Bernegara
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)
Terasjabar.co – HOS Tjokroaminoto tidak hanya sekadar “Bapak Sosialisme Islam” Indonesia. Julukan itu terlalu sempit untuk menggambarkan luasnya pandangan beliau. Besar ide yang diperjuangkan Tjokro sejatinya adalah perlawanan total terhadap imperialisme sekaligus penegasan bahwa Islam harus menjadi realitas politik dan kenegaraan.
Tjokro melihat dengan jernih bahwa imperialisme bukan hanya penjajahan militer, melainkan juga hegemoni ekonomi, budaya, dan politik. Karena itu, ia merumuskan Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi imperium peradaban yang memiliki legitimasi untuk berkuasa, mengatur pemerintahan, dan membangun tatanan masyarakat adil.
Islam Berdaulat, Islam Bernegara
Dalam kerangka Cokro, Islam tidak boleh dibatasi hanya di masjid atau majelis taklim. Islam adalah ideologi besar yang harus tampil sebagai kekuatan berdaulat. Inilah inti pemikiran yang menjadikan Sarekat Islam (SI) bukan hanya organisasi dagang atau perkumpulan politik, tetapi embrio sebuah negara Islam modern di tanah jajahan.
Ada tiga pilar yang Tjokro satukan dalam gagasannya:
- Menegarakan Islam, Islam menjadi fondasi negara, sumber konstitusi, dan arah perjuangan bangsa. Negara bukanlah sekadar alat kekuasaan, tetapi wadah untuk menegakkan syariat keadilan. Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka…” (QS. Al-Maidah: 49). Ayat ini menjadi pijakan bahwa kedaulatan hukum dalam negara Islam harus kembali pada wahyu, bukan tunduk pada kepentingan kolonial atau hawa nafsu politik.
- Berpemerintahan Islam, membangun pemerintahan yang menolak monopoli asing, melawan penumpukan kekayaan segelintir orang, serta menjamin distribusi yang adil sesuai prinsip tolong-menolong (ta‘awun) dan anti-kezaliman. Firman Allah: “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7). Inilah yang mengilhami Tjokro menolak kapitalisme kolonial dan menyerukan keadilan sosial.
- Dakwah Islam, menyebarkan Islam bukan hanya lewat ceramah, melainkan melalui praksis politik, ekonomi, dan sosial. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Dakwah yang benar adalah dakwah yang membebaskan manusia dari penindasan, bukan sekadar retorika tanpa praksis sosial.
Imperialisme vs Manhaj Sunnah
Bagi Tjokro, imperialisme adalah lawan abadi. Kolonialisme Belanda tidak hanya merampas tanah, tetapi juga merampas martabat. Karena itu, melawan imperialisme berarti menegakkan kembali manhaj sunnah perjuangan Nabi: Iman, Hijrah, dan Jihad.
Iman melahirkan keyakinan kokoh bahwa Islam adalah jalan keselamatan dunia-akhirat. Hijrah adalah strategi politik, meninggalkan sistem lama yang menindas menuju tatanan baru yang merdeka. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itu satu sama lain saling melindungi…” (QS. Al-Anfal: 72).
Jihad adalah pengorbanan total, baik dengan harta, tenaga, maupun jiwa, demi tegaknya Islam sebagai kekuatan berdaulat. Nabi SAW bersabda: “Puncak amal adalah jihad.” (HR. Tirmidzi).
Inilah blueprint perjuangan Islam bernegara yang Tjokro tawarkan, jauh melampaui kompromi politik ala demokrasi Barat. Bagi beliau, musyawarah mufakat haruslah diikat oleh iman, bukan sekadar angka dalam kotak suara.
Relevansi untuk Indonesia Kini
Lebih dari seabad berlalu, gagasan Tjokro tetap relevan. Indonesia hari ini masih berada dalam cengkeraman “imperialisme gaya baru”: utang luar negeri, monopoli korporasi global, serta hegemoni budaya Barat yang menggerus identitas.
Dalam situasi itu, warisan Tjokro menjadi peringatan keras: Islam harus kembali menjadi pusat peradaban, bukan sekadar pelengkap demokrasi sekuler. Menegakkan Islam bernegara bukanlah nostalgia, melainkan jalan keluar dari krisis identitas dan kedaulatan bangsa.
HOS Tjokroaminoto telah meletakkan fondasi besar: Islam harus berkuasa, Islam harus bernegara, dan Islam harus menjadi ruh perlawanan melawan setiap imperialisme. Ia tidak memisahkan antara dakwah, politik, dan pemerintahan. Baginya, Islam adalah satu kesatuan yang utuh, din wa daulah.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan…” (QS. Al-Baqarah: 208).
Kini, tantangannya tinggal satu: apakah generasi Muslim hari ini berani melanjutkan manhaj perjuangan itu, atau hanya akan terus menjadi penonton dalam panggung imperialisme global?





Leave a Reply