Membedah Akar Dialektika Islam dan Pancasila: Komunitas Henang-Hening Kupas Pemikiran Deliar Noer
Terasjabar.co – Hubungan antara Islam dan Pancasila di Indonesia kembali menjadi bahan diskusi dalam kegiatan bedah buku Islam, Pancasila dan Asas Tunggal karya sejarawan Deliar Noer yang diselenggarakan Komunitas Literasi Henang-Hening, Sabtu (27/6/2026), di Aula Family Camping Ground, Bandung.
Kegiatan yang berlangsung selama dua jam tersebut dihadiri sekitar 40 peserta dari kalangan mahasiswa, santri, akademisi, dan pegiat literasi. Diskusi bertujuan membuka ruang dialog yang lebih objektif dalam memahami dinamika hubungan Islam dan negara melalui perspektif sejarah.
Diskusi dibagi ke dalam dua sesi. Pada sesi pertama, Gungun Karya Adilaga mengulas perjalanan sejarah sejak awal kemerdekaan hingga berakhirnya era Demokrasi Terpimpin. Ia menjelaskan bahwa penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945 bukan sekadar kompromi politik sesaat, melainkan menjadi titik awal dialektika panjang mengenai relasi Islam dan negara.
“Penghapusan tujuh kata tersebut bukan sekadar kompromi kilat, melainkan awal dari rangkaian dialektika panjang yang puncaknya terjadi pada sidang-sidang Konstituante pasca-Pemilu 1955,” ujar Gungun.

Dalam pemaparannya, Gungun mengulas kebuntuan sidang Konstituante yang mempertemukan kelompok pendukung Islam sebagai dasar negara dengan kelompok nasionalis-sekuler. Kebuntuan tersebut kemudian mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang mengembalikan Indonesia kepada UUD 1945.
Ia juga menjelaskan bagaimana konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) menjadi strategi Soekarno dalam menyatukan berbagai kekuatan politik pada masa Demokrasi Terpimpin. Namun, kebijakan tersebut memunculkan kritik dari sejumlah kalangan yang menilai Pancasila sedang diarahkan ke ideologi kiri.
Selain itu, Gungun menyinggung pandangan radikal S.M. Kartosoewirjo yang menganggap Republik Indonesia saat itu telah menyimpang dari prinsip-prinsip Islam karena dinilai mengadopsi unsur materialisme.
Memasuki sesi kedua, penulis, sejarawan publik, sekaligus penerbit Nunu A. Hamijaya memaparkan perubahan orientasi politik Pancasila pada masa Orde Baru. Menurutnya, apabila pada masa Orde Lama Pancasila sering dikaitkan dengan pendekatan Nasakom, maka pada era Presiden Soeharto Pancasila justru dijadikan instrumen utama dalam menjaga stabilitas politik melalui tafsir tunggal negara.
Nunu menjelaskan bahwa pemerintah Orde Baru membangun berbagai instrumen untuk mengukuhkan dominasi tersebut, mulai dari penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), pemberlakuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Asas Tunggal, hingga pembentukan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila yang membangun ribuan masjid di berbagai daerah.
Menurutnya, kebijakan-kebijakan tersebut tidak hanya memiliki dimensi ideologis, tetapi juga merupakan bagian dari strategi politik negara dalam mengelola hubungan dengan kelompok Islam.
Dalam kesempatan itu, Nunu juga mengajak peserta menelusuri kembali perdebatan intelektual antara Soekarno dan Mohammad Natsir mengenai hubungan agama dan negara, termasuk pengaruh gagasan sekularisasi Mustafa Kemal Atatürk terhadap sebagian pemikir modernisasi pada masa Orde Baru.
Ia turut menyoroti pentingnya mengurangi politik historiografi melalui pembacaan sejarah yang lebih berimbang. Salah satu gagasan yang disampaikannya ialah perlunya memperingati sejumlah momentum sejarah Islam secara lebih faktual, seperti mengusulkan penyebutan “Hari Jihad” untuk memperingati Resolusi Jihad, serta menggaungkan peringatan “Hari Jilbab” sebagai bagian dari memori sejarah umat Islam di Indonesia.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai relevansi pengalaman sejarah hubungan Islam dan negara terhadap kondisi Indonesia saat ini. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat generasi muda dalam memahami sejarah secara kritis dan berbasis sumber.
Melalui bedah buku karya Deliar Noer ini, Komunitas Literasi Henang-Hening berharap dapat menghadirkan ruang literasi yang mendorong masyarakat membaca sejarah secara lebih objektif, terbuka, dan berbasis fakta, sehingga berbagai dinamika hubungan Islam dan Pancasila dapat dipahami secara utuh dalam konteks perjalanan bangsa Indonesia.
Acara ditutup pada pukul 15.00 WIB dengan sesi foto bersama dan ramah tamah dalam suasana hangat di Aula Family Camping Ground, Bandung.






Leave a Reply