Alun-Alun: Rampoga, Idul Fitri, dan Identitas Budaya Antara Cianjur dan Bandung

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)

Terasjabar.co – Saat Lebaran 1 Syawal tiba, masyarakat pastinya akan ke alun-alun di kecamatan atau kota tempat tinggalnya. Supaya tidak sekedar dapat sensasi kesenangan semata, tapi ada dampak pembelajaran dan mendidik anak-anak,sebaiknya mengetahui tentang masa lalu alun-alun.

Fungsi alun-alun bergeser seiring perkembangan zaman. Dari lambang kekuasaan raja hingga tempat olahraga. Alun-alun, sebagai identitas sebuah kota, terus berevolusi. Dari simbol kekuasaan dan kosmologi di masa lalu, hingga ruang publik yang multifungsi di era modern, alun-alun mencerminkan dinamika sosial dan budaya masyarakatnya.

Era Pra-Kolonial: Pusat Kosmologi dan Kekuasaan

Pada masa kerajaan, seperti Majapahit dan Mataram (abad ke-13 hingga ke-18), alun-alun adalah bagian integral dari kompleks keraton yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan budaya.Masjid seringkali terletak di sebelah barat alun-alun, menghadap ke timur (arah kiblat), menunjukkan hubungan erat antara keraton, masjid, dan alun-alun.

Alun-alun juga Simbol Kekuasaan: Menunjukkan kekuasaan raja atas rakyatnya. Upacara Keagamaan: Tempat diselenggarakannya upacara keagamaan penting, seperti festival Garebegan dan Sekaten, yang masih diadakan hingga kini di Yogyakarta dan Surakarta. Pertunjukan Militer dan Hiburan: Digunakan untuk pertunjukan kekuatan militer, seperti Sodoran (permainan tombak berkuda) atau rampog macan (pertarungan harimau), serta berbagai hiburan non-keraton. Ruang Dialog: Alun-alun Lor (utara) di Yogyakarta dan Surakarta, misalnya, berfungsi sebagai pintu masuk utama keraton dan satu-satunya tempat di mana Sultan atau Susuhunan berdialog dengan rakyatnya (pepe), menunjukkan kemanusiaan dan kerendahan hati mereka.

Alun-Alun dan Rampogan Harimau

Konsep alun-alun ini diperkenalkan Kerajaan Majapahit (Abad 13 -15) Menurut Haryoto Kunto, pemberian istilah ini, kemungkinan besar terjadi sejak jaman kesultanan Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645 M).

Di dalam buku “Encyclopedie van Nederlandsch Indie” (Paulus, 1917:31), terdapat penjelasan tentang ‘alun-alun’, bahwa di hampir setiap tempat kediaman Bupati, seorang kepala distrik di Jawa, orang selalu menjumpai adanya sebuah lapangan rumput yang luas, yang dikelilngi oleh pohon beringin di tengahnya. Lapangan inilah yang dinamakan ‘alun-alun’.

Kata alun-alun sebenarnya merupakan serapan dari bahasa Jawa yang artinya ombak lautan. Makna “gelombang lautan” ini berakar dari sebuah kegiatan tradisional yang diselenggarakan di alun-alun ibu kota Kerajaan Mataram yang dikenal dengan nama Rampogan (Alex Ari, 2025).

Rampogan Macan adalah tradisi Jawa abad ke-17 hingga awal abad ke-20 di mana harimau Jawa dikurung dan ditombak ramai-ramai oleh prajurit di alun-alun, seringkali diselenggarakan saat Idul Fitri. Tradisi Rampongan adalah atraksi di mana macan dilepaskan di tengah alun-alun, lalu diburu oleh prajurit-prajurit yang mengelilinginya. Rakyat biasa juga diizinkan untuk menyaksikan kegiatan ini. Apabila dilihat dari kejauhan, terutama dari ketinggian atau dari tempat raja duduk, gerakan lautan manusia yang memburu macan tersebut akan tampak menyerupai ombak lautan yang bergulung-gulung.
Alun-alun dan Pohon Beringin

Alun-alun memiliki suatu ciri khas: letaknya di depan kediaman penguasa daerah. (Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2017). Di alun-alun selalu ada pohon beringin. Di Jawa disebutnya wringin. Nama Waringin berasal dari dua suku kata “wri” dan “ngin”. “Wri” berasal dari kata “wruh” yang berarti mengetahui, melihat. “Ngin” berarti memikir, tindakan penjagaan masa depan (Pigeaud, 1940:180).

Kedua kata tersebut melambangkan kematangan manusia yang arief bijaksana, karena orang Jawa berangapan bahwa kegiatan bijaksana berasal dari kosmos. Pohon beringin dengan demikian melambangkan kesatuan dan harmoni antara manusia dengan universum. Kesatuan ini tidak timbul dengan sendirinya.

Pohon beringin melambangkan langit dan permukaan tanah yang persegi empat didalam pagar kayu mengartikan tugas manusia untuk mengatur kehidupan di bumi dan di alam, supaya harmoni dengan hukum universum (Pigeaud, 1940:180).

Alun-Alun Cianjur dan Bandung

Alun-Alun Cianjur telah mengalami tujuh kali renovasi dan renovasi terakhir rampung pada tahun 2019. Tampak kondisi alun-alun Cianjur tahun 1880.

Ngaos, Mamaos, dan Maenpo: Ornamen Utama

Ornamen-ornamen utama alun-alun Cianjur (2019) terdiri, pertama tugu Al-Quran raksasa yang dikelilingi kolam menyerupai perahu di tengah rumput sintesis tersebut. Di ruang terbuka lainnya ada jalan-jalan yang diberi semacam gapura (tiang-tiang) bertuliskan 99 asmaul husna di sepanjang jalan. Dua ornamen tersebut diambil dari kebudayaan ngaos atau mengaji khas masyarakat Cianjur.

Kedua, ornamen kebudayaan mamaos atau tembang Sunda Cianjuran yang digambarkan dengan panggung kecil berbentuk kacapi dan suling dengan bangku-bangku berbentuk kacapi yang berwarna-warni.

Ketiga, Ornamen seni budaya maenpo tergambar pada tribune berbentuk segi lima dengan siluet orang sedang melakukan gerakan silat.

Dengan demikian, konsep Ngaos, mamaos, maenpo yang merupakan tiga pilar budaya khas Cianjur digambarkan sebagai ornamen utama bangunan Alun-Alun Cianjur.

Ornamen kacapi dan suling pada panggung kecil (Foto: Alya Fathinah)

Alun-Alun Bandung: Pohon Beringin dan Pidato Pak Tjokro

Gambar: Alun-Alun Bandung, 1920-an.

Hingga tahun 1940-an, masih terdapat dua pohon beringin besar di tengah-tengah Alun-alun Bandung dan enam buah pohon beringin lainnya. Kedua pohon tersebut diberi nama Wilhelminaboom dan Julianaboom dimana sebelumnya dipercaya masyarakat dengan lambang kewibawaan bupati dengan kekuasaannya menjadi pengayom rakyatnya.

Namun pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kepercayaan tersebut dan diganti menjadi simbol kekuasaan Ratu Belanda atas wilayah Hindia Belanda dengan pemagaran alun-alun dan penggantian nama dari pohon beringin menjadi nama Ratu Belanda.

Secara historis alun-alun bukan hanya digunakan untuk ruang rekreasi. Dulu, berbagai kegiatan seperti pertandingan sepak bola, atraksi tradisional seperti Rampogan, hingga tempat untuk melakukan hukuman juga pernah dilakukan di alun-alun. Bupati Bandung Wiranatakusumah II, Bupati ke-6, yakni R. A. Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijiluki “Dalem Kaum”, akhirnya memilih sebidang lahan di tepi barat Sungai Cikapundung, tepat di sisi Jalan Raya Pos (kini Alun-alun Bandung). Lokasi ini dianggap paling ideal karena memenuhi syarat teknis dan pertimbangan mistik.

Alun-alun : Pidato Zelfbestuur-nya HOS Tjokroaminoto

Alun-alun Bandung pernah di-gunakan lokasi pidato Proklamasi pertama umat islam bangsa pribumi di Hindia Belanda. Saat itu, berlangsung National Congres (NATICO) I, pada 17-24 Juni 1916. Di hari Ahad, 18 Juni 1916, HOS Tjokroaminoto berpidato tentang zelfbestuur (Kehendak berpemerinahan sendiri) bagi pribumi di Hindia Belanda.

Beginilah isi pidato H.O.S. Tjokroaminoto

“Tuan-tuan..!! Sungguh besar nama Kongres ini.. Kongres Nasional.. nama ini, perkataan Nasional, tidaklah sekali-kali menunjukkan keangkuhan kaum SI (Sarekat Islam), atau menunjukkan tajamnya pikiran dan luasnya pemandangan pemimpi-pemimpin kongres, tetapi semata-mata hanyalah menunjukkan salah satu dari maksudnya pergerakan, yaitu Berikhtiar akan menaiktangganya Kebangsaan (natie), dan didalam kongres ini yang akan kita bicarakan yaitu: usaha pertama-tama buat membantu supaya Hindia lekas dapat Pemerintahan Zelfbestuur atau sedikitnya penduduk bumiputera lekas diberi hak akan turut bicara dalam perkara Pemerintahan.

Tuan-tuan jangan takut.. bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan ZELFBESTUUR atau Pemerintahan Sendiri.”

Alun-alun saat ini bukan saja menjadi identitas budayanya, seperti ditunjukkan secara telak di Cianjur, namun sekaligus area publik untuk rekreasi dan ‘healing’. Saat ini, bukan lagi sebagai tempat ber komunikasi antara penguasa/pemerintah dan rakyatnya. Area demonstrasi berpindah lokasi ke pendopo atau DPR Kota/Kabupaten.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − thirteen =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam