Negara (Islam) Merdeka: Antara Internasional Imperialisme dan Internasionalisme Kapitalisme
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – “Jatuhnya Internasional Imperialisme dan Internasional Kapitalisme” prasyarat mendapatkan kemerdekaan Ummat. Dengan mengambil ibroh (sic!) seperti akan pulangnya Rasululloh SAW kembali ke Mekkah (futtuh Makkah, lihat QS XXVIII, 85) maka itulah yang dimaksud dengan mengembalikan nationale vrijheid kepada kita yaitu kemerdekaan umat atau berdaulatnya Negara Islam merdeka seperti di Madinah (Tafsir Program Azas dan Tadhim PSII (1931), 1965).
Hampir seratus tahun yang lalu (1931-2025), HOS Tjokroaminoto dengan tegas menyatakan siapa musuh sesungguhnya islam sebagai ideologi dunia. Kesadaran ideologi dengan bimbingan al Quran nyatanya relevan hingga saat ini. Dibuktikan dengan pernyataan Francis Fukuyama (1990), pasca runtuhnya komunisme (1990) yang menyatakan, bahwa peradaban Barat menjadi penguasa di puncak piramida kekuasaan. Dan setelah ini, tidak ada lagi peradaban lain, yang akan menggantikan peradaban Barat. Ketika itulah manusia sudah bersepakat untuk menerapkan “Demokrasi Liberal.”
Era ini, katanya, merupakan akhir sejarah (The End of History). Begitu tesis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man (New York: Avon Books, 1992). Buku Fukuyama itu merupakan pengembangan dari artikelnya ‘The End of History?’ di jurnal The National Interest (summer 1989).
Dalam makalahnya itu, Fukuyama, mencatat, bahwa setelah Barat menaklukkan rival ideologisnya, monarkhi herediter, fasisme, dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsensus yang luar biasa terhadap demokrasi liberal. Ia berasumsi, bahwa demokrasi liberal adalah semacam titik akhir dari evolusi ideologi atau bentuk final dari bentuk pemerintahan.
Fukuyama menyorot dua kelompok agama yang menurutnya sangat sulit menerima demokrasi, yaitu Yahudi Ortodoks dan Islam fundamentalis. Keduanya dia sebut sebagai “totalistic religious” yang ingin mengatur semua aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat publik maupun privat, termasuk wilayah politik.
Platform & Aplikasi: Senjata Ampuh
Teknologi kini bukan sekadar alat bantu.Ia telah menjadi penentu peradaban.Yang menguasai data, menguasai dunia. TikTok, Meta, Google, dan WeChat bukan hanya aplikasi—mereka adalah alat geopolitik. Setiap klik, setiap like, setiap durasi tontonan adalah peluru dalam perang yang tak berbunyi. Benturan peradaban yang dulu meletup di medan perang, kini sunyi tapi nyata di timeline kita. Indonesia, dengan 270 juta pengguna internet, jadi medan tempur algoritma paling ramai di Asia.
Perang kali ini tidak hanya merebut tanah dan lautan, tapi pikiran dan waktu.Penjajahan tidak lagi melalui kolonialisme fisik, melainkan kolonialisme kesadaran. Saat ini adalah perang budaya, teknologi, dan iman sekaligus. Iman diuji bukan di masjid, tapi di kolom komentar. Budaya diuji bukan di pasar, tapi di trending page.Dan teknologi—yang kita kira netral—sejak awal sudah berpihak.Inilah wajah baru benturan peradaban di era gelombang ketiga.Tak ada peluru, tapi notifikasi. bukan tank, tapi algoritma.
Indonesia ditengah pusaran perang armagedon. Hanya Islam yang bisa menjadi basis orientasi dan pertahanan sekaligus kemenangan sejarah. Islam masih dianggap sebagai tantangan ideologis yang serius, sehingga negara-negara Barat sangat khawatir terhadap munculnya negara yang menerapkan ideologi Islam. Sebab, menurut Huntington, dalam bukunya, The Clash of Civilizations, Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah mengalahkan Barat. Katanya: “Islam is the only civilization that has put the survival of the West in doubt.”
Dari Perang Ideologi ke Peradaban
Samuel P. Huntington, yang menulis The Clash of Civilizations, menyebut bahwa perang besar abad ke-21 tidak lagi karena ideologi, tapi karena peradaban. Perbedaan yang dulu berjauhan kini saling bertubrukan di ruang yang sama—ruang digital.Kita melihatnya tiap hari di media sosial: dari gaya hidup, bahasa, hingga cara berpikir.Konten bukan sekadar hiburan; ia membawa nilai, worldview, bahkan ideologi.
Alvin Toffler—bukan akademisi politik, tapi futuris menulis The Third Wave, bahwa saat ini era Gelombang ketiga sedang menggulung kita sekarang.Semua serba digital, cepat, terukur, tapi sekaligus rapuh. Toffler mengingatkan: “Mereka yang tidak siap dengan gelombang ketiga, akan tenggelam oleh perubahan. Teknologi kini bukan sekadar alat bantu. Ia telah menjadi penentu peradaban yang menguasai data, menguasai dunia.
Perang Budaya Barat Sekuler: Model Amerika dan Jepang
Menurut laporan dari Tokyo Shimbun (2019), industri hiburan dewasa Jepang menghasilkan sekitar 2 triliun Yen per tahun (sekitar 18 miliar USD). Bahkan disebut sebagai salah satu ekspor budaya paling menguntungkan dari Jepang.
Sementara di Amerika, pornografi online menyumbang sekitar 13 miliar USD per tahun, menurut laporan The Guardian dan Forbes. Pajaknya masuk kas negara. Perusahaannya jadi besar. Bahkan platform-platform raksasa seperti Prnhob bermarkas di sana bahkan jadi sponsor acara dan lembaga.
Journal of Interpersonal Violence (2017) Menemukan korelasi kuat antara konsumsi pornografi dengan sikap permisif terhadap kekerasan seksual. National Center on Sexual Exploitation (NCOSE): Mayoritas pelaku kekerasan seksual berat memiliki riwayat kecanduan pornografi. Canadian Centre for Child Protection (2020): Kasus eksploitasi seksual terhadap anak melonjak drastis seiring meningkatnya akses pornografi online. Studi Meta-Analisis oleh Wright et al. (2016): Mengungkapkan bahwa paparan pornografi secara signifikan meningkatkan kecenderungan agresi seksual dalam kehidupan nyata. Dan lebih mengejutkan, 1 dari 4 wanita yang tinggal di negara Sekuler seumur hidupnya pernah mengalami kekerasan seksual.
Amerika Serikat. Diperkirakan ada 433.000 kasus kekerasan seksual (rape & assault) per tahun di AS Itu artinya sekitar 1 kasus setiap 68 detik, atau 1.268 per hari.Lain lagi, Data FBI 2023 mencatat 481.020 kasus rapes dan sexual assaults (khusus usia ≥ 12 tahun), yaitu sekitar 1.318 kejadian per hari, dan itu belum termasuk:
- Remaja yang hilang arah karena kecanduan konten cabul.
- Lelaki yang rusak rumah tangganya karena ketagihan video mesum.
- Perempuan yang merasa nilai dirinya hanya sebatas tubuh karena standar “industri”.
Islam Lebih Rasional dari Sekularisme
Jangan salah. Islam bukan cuma agama “larangan”. Islam punya visi. Islam menjaga kehormatan manusia. Islam membaca jauh ke depan saat Barat sibuk menghitung pemasukan hari ini.Negara sekuler melihat laba tahunan. Islam melihat nasib generasi 100 tahun ke depan.Negara sekuler bicara “izin kontrak dewasa”. Islam bicara “fitrah manusia yang rusak karena dibiasakan dosa”. Negara sekuler bangga pajak dari video mesum. Islam menangis saat generasi tak lagi mengenal malu.
Negara Islam tidak berdiri dari pajak lendir.Ia tidak membiayai pendidikan dari tubuh perempuan yang dijual dalam frame kamera. Ia tidak membangun jalan dengan uang dari syahwat manusia yang dinodai layar.Negara Islam hanya makan dari yang halal dan berkah. Dari keringat para petani.Dari peluh para pekerja. Dari usaha yang tidak menginjak harga diri perempuan, tidak menjual aurat anak-anak manusia.Karena kami percaya: Keberkahan bukan dari berapa banyak yang masuk, tapi dari sebersih apa ia didapat.






Leave a Reply