Indonesia Gelap: Forgetting and Forgiveness Nation’s
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Penulis Buku NEGARA UMMAT: Zelfbestuur Berdasarkan Syariat)
Terasjabar.co – “Ikan membusuk mulai dari kepala. Kebusukan suatu negeri selalu berawal dari puncaknya, dari pemimpin-pemimpinnya!” (Pidato MARCUS TULLIUS CICERO, 106-43 SM). Di depan para senator dan rakyat yang sedang berkumpul di sebuah gedung pertemuan umum) Sebenarnya, ucapan itu adalah pepatah lama para pedagang di pasar ikan Marcellum di Roma. Ikan membusuk sampai ekor dan dimulai dari kepalanya.
Pentingnya KEPALA itu karena didalamnya ada isi pikiran yang bekembang menjadi sebuah isme-isme dan ideologi dalam bernegara. Amerika Serikat dibangun dibawah isme demokrasi! Turki Nasionalis Sekuler dibawah isme sekulerisme Islam dan demokrasi Barat. Bagaimana dengan Indonesia!

“Buku ini sebagai kontribusi berharga dalam memperluas pemahaman publik terhadap akar-akar sejarah perjuangan Islam yang selama ini kerap tersisih dari narasi arus utama, bahwa karya semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai referensi akademik, tetapi juga sebagai wahana intropeksi dan pemahaman jati diri bangsa. Dengan mendokumentasikan jejak pemikiran dan perjuangan tokoh-tokoh bangsa, kita turut memperkuat fondasi kebudayaan nasional yang inklusif dan berkeadilan. Kami mengapresiasi serta berharap buku ini dapat menjadi bacaan inspiratif bagi kalangan akademisi, pelajar, pemimpin masyarakat dan generasi muda Indonesia” (Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc – Menteri Kebudayaan RI)
Memperbaiki sebuah KAPAL, yang banyak bolong-bolongnya tidak mungkin dengan hanya menambalnya.Percuma juga mengganti KAPTEN KAPALNYA! Toh, Isi kepala kapal itu tidak pernah diubah atau dicuci otaknya (TAUBAT NASUHA atau ISTIGHFAR,kata M, NATSIR).
Manual Kapalnya juga sama saja! Siapapun kaptennya akan sampai ke buritan yang sama! Yang benar, menggantikan dengan KAPAL lain, yang isi kepalanya BENAR dengan cara meloncat ke sekoci-sekoci lalu pindah ke KAPAL tersebut ! Kapal yang akan KARAM dan tenggelam biarkanlah! Tenggelam dengan orang-orang yang menyebabkan bolong-bolong dan rusaknya kapal.
Elit Bangsa Pelupa & Pura-Pura Lupa
Bangsa Indonesia baru berusia belum satu abad (97 th, 1928-2025) namun karakter warisan feodalisme era Mataram Islam dan Kolonialisme Hindia Belanda demikian membatu terutama pada elit pimpinan, birokrasinya, hingga merasuki rakyat jelata. Sejak zaman kerajaan, pola yang sama terus berulang: konflik muncul, perlawanan terjadi, tetapi akhirnya selalu ada kompromi.Pada masa Sriwijaya dan Majapahit, kerajaan kecil yang memberontak jarang dihancurkan secara total.Sebaliknya, kerajaan yang menang sering kali memilih jalur diplomasi, misalnya, dengan menikahkan anak raja sebagai bentuk rekonsiliasi. Pada akhirnya, konflik itu terhenti, tetapi tidak benar-benar selesai.
Budaya feodal ini menciptakan pola pikir bahwa rakyat sebaiknya menerima saja keadaannya daripada melawan sesuatu yang tidak bisa mereka ubah (Hofstede, 1980).Hanya beberapa pribumi muslim yang sadar dan melakukan transformasi diri dengan menjalankan prinsip iman-hijrah-jihad dalam perjuangnya.Sejak Pangeran Diponegoro (1825-1830) dengan Perang Jawa; Perang Aceh (1873–1904); dan perlawanan politik K. H. Samanhoedi-HOS Tjokroaminoto (1905-1934); dan berakhir dengan perlawanan Tgk. Daud Bereuh – S.M. Kartosuwirjo – Kahar Muzzakar (1949-1962).Ini adalah jalur sanad islam bernegara yang menghendaki Syariat Islam menjadi UUD dalam mengatur pemerintahan dan mengelola SDA.
Sementara itu, revolusi nasional ala nations-state-nya triumvirat Soekarno-Hatta-Sjahrir , sebagai anak kandung Humanisme Barat, Proklamasi ’45 silih berganti : Orde Lama ke Orde Baru, hingga Orde reformasi dan berujung pada era KEGELAPAN INDONESIA saat ini. Penjajah-nya silih berganti, namun sistem penjajahannya tetap berlangsung hingga saat ini !
Inilah pola yang terus berulang. Setiap kali ada ketidakadilan, sebagian kecil yang dipimpin elit pemberontak dari masyarakat bereaksi.Namun, begitu ada sedikit perubahan -baik itu janji, pencitraan pemimpin baru, atau sekadar waktu berlalu- kita kembali seperti biasa. Bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena kita terbiasa menerima keadaan tanpa bertanya lebih jauh.
Mengapa kita terus seperti ini? Ternyata ini persoalnya tentang bagaimana otak bekerja.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai ADAPTIVE FORGETTING (Anderson & Hulbert, 2021). Ketika seseorang menghadapi sesuatu yang terlalu menyakitkan atau bersantai mental, otaknya secara otomatis berusaha melupakannya.Ini adalah mekanisme pertahanan diri agar kita tidak terus-menerus hidup dalam trauma. Bayangkan jika setiap orang di negeri ini mengingat semua ketidakadilan yang terjadi tanpa pernah melupakannya, itu akan menjadi beban mental yang sangat berat.Jadi, tanpa sadar kita memilih untuk mengalihkan perhatian, mencari hiburan lain, atau meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ada juga yang disebut LEARNED HELPLESSNESS (Seligman, 1975). Ini terjadi ketika seseorang merasa bahwa tidak peduli sekeras apa pun mereka berusaha, tidak akan ada perubahan.Akibatnya, mereka memilih untuk pasrah. Setelah melihat berkali-kali bahwa korupsi tetap ada, pelanggar hukum tetap bebas, dan janji perubahan sering kali kosong, banyak orang akhirnya merasa bahwa usaha mereka tidak ada gunanya.
Ditambah dengan faktor COGNITIVE DISSONANCE (Festinger, 1957), di mana otak kita merasa tidak nyaman dengan kenyataan yang bertentangan dengan harapan kita. Jadi, daripada menghadapi kenyataan pahit bahwa keadilan sering tidak dapat ditegakkan, kita memilih untuk meyakinkan diri bahwa lebih baik move on dan fokus pada kehidupan masing-masing.
Dan yang paling nyata ialah kelelahan empati atau COMPASSION FATIGUE (Figley, 1995). Kita sudah terlalu sering melihat ketidakadilan yang terjadi. Kita marah, kita protes, tetapi ketika hal itu terus terjadi berulang-ulang tanpa ada perubahan yang nyata, kita mulai kehilangan energi untuk peduli.
Kapankah Era THALUT Tiba?
“Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu, yang didalamnya terdapat SAKANA ketenangan dari Tuhanmu (Kisah Thalut dalam QS 2:248)
Tabut merupakan peti kayu berlapis emas tempat menyimpan Taurat. Sebelumnya Tabut – yang diyakini oleh bangsa Israil membawa ketenangan dan kemakmuran – hilang akibat direbut oleh tentara dinasti Bukhtanashar. Lalu malaikat mengembalikannya kepada Thalut sebagai bukti bahwa ia telah dipilih menjadi pemimpin kaumnya.
Dengan bekal tabut, maka Thalut memeroleh ‘legitimasi otoritas’ menjadi pemimpin atau raja bagi Bani Israil. Beberapa litratur menyebutkan konon Tabut itu berisi Sepuluh Perintah Tuhan (The Ten Commandement) yang terukir pada dua loh batu. Konon kesepuluh perintah itu merupakan dasar perjanjian Allah dengan anak-anak Israel.Di masa kenabian Sulaiman, tabut itu kemudian disimpan di ruang khusus dalam Bait Suci yang disebut Kodesh Kodashim.
Thalut dari Kalangan Rakyat
Nabi Samuel as melanjutkan estafeta kenabian Musa. Lalu, Bani Istail memintanya agar mengankat seorang raja untuk memimpin mereka melawan pihak penguasa penjajah.
Menarik bahwa, munculnya kepemimpinan Thalut yang berasal bukan dari lingkatan dinasti Bani Israil, yaitu para raja akan tetapi dari kalangan rakyat biasa sekalipun mendapat restu dari Nabi Samuel menciptakan kegoncangan di internal elit Bani Israil karena tidak menyangka dan sebagian lagi dengan sikap apatisme-nya menolak kepemimpinan Thalut. Hal ini disadari oleh Nabi Samuel, sehingga sebagai ‘pembuktian dari langit’, maka Thalut memeroleh ‘Tabut’ sebagai bukti legitimasi otoritas kepemimpinan atas Bani Israil.
Maka, dengan Tabut, kepemimpina Thalut dapat berjalan efektif dan sukses, saat munculnya tokoh Daud (David) yang mengalahkan Zalut (Gholiat) dalam pertarungan duel. Maka, atas keberhasilan tersebut, Raja Thalut menyerahkan kepemimpinannya sebagai raja kepada Daud.
Mereka (Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut. Kemudian, Allah menganugerahinya (Daud) kerajaan dan hikmah (kenabian); Dia (juga) mengajarinya apa yang Dia kehendaki. (QS 2 : 251). QS Al-Anbiya’ Ayat 80. Artinya: Kami mengajarkan pula kepada Daud cara membuat baju besi untukmu guna melindungimu dari serangan musuhmu (dalam peperangan). Maka, apakah kamu bersyukur (kepada Allah)? QS An-Naml Ayat 15. Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan ilmu kepada Daud dan Sulaiman. Keduanya berkata, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami daripada kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin.”






Leave a Reply