AKU NGONTÉN MAKA AKU ADA
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Dahulu René Désacartes seorang plsuf Perancis, berkata: “Aku berpikir, maka aku ada”. Tapi sekarang lain lagi. Banyak orang yang berprinsip: “Aku ngontén, maka aku ada”. Karenanya banyak hal yang diunggah ke telepon genggam, agar mendapat réspon digital. Masalahnya, tepuk tangan digital tidak pernah benar-benar mengenyangkan. Ia seperti minum air laut. Semakin banyak diminum, semakin haus. Satu unggahan yang dipuji, melahirkan kebutuhan untuk membuat unggahan berikutnya. Satu keberhasilan yang dipamérkan harus disusul keberhasilan lain agar penonton tidak berpindah saluran.
Dahulu, orang makan untuk menghilangkan lapar. Sekarang, orang makan agar orang lain mengetahui bahwa ia tidak sedang lapar. Sebelum nasi disentuh, telepon genggam diangkat. Ayam bakar diatur kemiringannya, sambal digésér, lalapan yang semula hanya pelengkap mendadak mendapat peran utama. Lampu diredupkan, lilin dinyalakan, lalu kaméra memotrét makanan dari berbagai sudut seperti polisi sedang mengumpulkan barang bukti.
Setelah semuanya diunggah, barulah makanan disantap dalam keadaan dingin. Begitulah peradaban berkembang. Dahulu manusia menemukan api agar makanan matang. Kini manusia menemukan média sosial sehingga makanan yang sudah matang menjadi dingin.
Kita sedang hidup pada zaman ketika pengalaman belum dianggap sah sebelum dipamérkan. Pergi ke gunung belum berarti mendaki, apabila tidak ada foto membelakangi jurang. Minum kopi belum dapat disebut menikmati kopi apabila cangkirnya belum diletakkan di samping buku filsafat walau tidak pernah dibaca. Bahkan kebahagiaan pun harus memiliki dokuméntasi. Orang berswafoto di bawah hujan deras, lalu menulis, “Bahagia itu sederhana.”
Kesederhanaan ternyata memerlukan banyak penyuntingan. Media sosial telah mengubah hidup menjadi panggung paméran. Kita bukan lagi sekadar menjalani kehidupan, tetapi memproduksi kesan tentang kehidupan. Liburan bukan lagi perjalanan, melainkan bahan unggahan. Sedekah bukan hanya memberi, tetapi juga kesempatan berdiri di samping penerima sambil tersenyum ke arah kaméra.
Tangan kanan memberi. Tangan kiri memégang telepon genggam. Kadang-kadang tangan penerima ikut diminta mengangkat kardus bantuan agar mérek pemberi terlihat jelas. Mungkin malaikat pencatat amal géléng-géléng kepala. Ia harus membédakan mana sedekah, mana iklan; mana rasa syukur, mana stratégi pemasaran, mana ibadah, mana kontén.
Pamér bukan selalu soal kekayaan. Kesibukan dipamérkan. Kesaléhan dipamérkan. Kesederhanaan juga dipamérkan. Ada orang mengunggah foto duduk di gubuk sambil menulis, “Saya lebih nyaman hidup sederhana.” Foto itu diambil dengan telepon genggam seharga satu ékor sapi. Ada pula orang yang memotrét sajadah, tasbih, dan secangkir kopi menjelang subuh. Di bawahnya tertulis, “Aku dihadapan Tuhanku.” Padahal ada ribuan pengikut yang sengaja diajak menyaksikan pertemuan pribadi tersebut.
Di média sosial, semua orang dapat menjadi sutradara bagi kehidupannya sendiri. Adegan gagal, dibuang. Tangisan dipotong. Utang tidak masuk gambar. Pertengkaran keluarga disimpan di luar bingkai. Yang ditampilkan hanyalah senyum, perjalanan, penghargaan, makanan mahal, dan kalimat-kalimat bijak yang kadang bertentangan dengan perilaku sendiri.
Seseorang dapat mengunggah nasihat tentang kesabaran, lima menit setelah membanting pintu. Seseorang dapat menulis pentingnya menghargai sesama, lalu memaki pelayan restoran karena pesanannya terlambat. Seseorang dapat berbicara tentang kehidupan tanpa pamrih sambil memeriksa jumlah tanda suka di WA setiap tiga menit.
Kita semua, sedikit banyak, adalah pedagang citra. Étalasenya adalah layar. Pembelinya adalah perhatian orang lain. Harga diri pun mulai dihitung dengan angka: jumlah pengikut, koméntar, tayangan, dan tanda suka. Akhirnya hidup bukan lagi perjalanan menuju kedalaman, melainkan perlombaan mempertahankan perhatian. Padahal dalam jalan sufistik, yang paling berharga sering justru tidak terlihat. Keikhlasan, tidak perlu kaméra. Kesabaran, tidak selalu memiliki keterangan foto. Doa yang paling dalam kadang tidak perlu mengeluarkan suara. Sedekah yang paling harum justru dilakukan ketika tidak ada orang mengetahui. Air mata pertobatan tidak memerlukan musik latar.
Kita mungkin tidak perlu meninggalkan média sosial. Ia hanyalah alat, seperti pisau yang dapat digunakan untuk mengiris mangga atau melukai tetangga. Yang perlu diperiksa bukan layarnya, melainkan niat di balik jari yang menekan tombol “unggah”.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak orang menonton kita, melainkan apakah kita masih mengenali diri sendiri. Kelak, ketika telepon genggam terlepas dari tangan dan akun kita berhenti untuk diperbarui, tidak akan ada komén pengikut yang ikut masuk ke dalam kubur.





Leave a Reply