Tangis dan Syukur di Tanah Suci: Catatan Seorang Ketua Kloter
Oleh:
H. Aang Subhanuddin, S.HI., MH.
(Ketua Kloter KJT-17 Kabupaten Bandung Tahun 2024)
Terasjabar.co – Menjadi Ketua Kloter KJT-17 dalam ibadah haji tahun lalu adalah salah satu kehormatan terbesar dalam hidup saya. Sebuah amanah sekaligus anugerah, karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji sembari menjadi bagian dari pelayanan jemaah. Panggilan Allah ini adalah bentuk kasih sayang-Nya, yang mengizinkan saya menjejakkan kaki di Tanah Suci untuk mendekat, bersujud, dan bermunajat langsung di rumah-Nya.
Kebahagiaan saya waktu itu begitu sempurna. Melihat para jemaah melaksanakan rukun demi rukun dengan penuh haru dan semangat, menjadi saksi dari ketulusan doa-doa yang melangit di Arafah dan Mina, hingga menyaksikan kebersamaan yang terjalin erat di antara kami, seolah tak ada sekat usia, suku, maupun jabatan.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Allah menguji saya dengan satu peristiwa paling menguras hati. Ayahanda tercinta meninggal dunia ketika saya masih berada di Tanah Suci. Sebuah berita yang menyesakkan dada, datang di saat saya sedang berada di tempat paling mulia di muka bumi. Saya tak berada di sisinya di saat-saat terakhir. Tidak bisa menggenggam tangannya, tidak bisa menatap wajahnya untuk terakhir kali.
Tangis pun pecah dalam sujud panjang di Multazam. Saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Saya yakin, ini adalah bagian dari takdir-Nya. Meninggalnya ayahanda saya bukan hanya kehilangan pribadi, tapi juga pengingat bahwa hidup ini singkat, dan tidak ada tempat sebaik Tanah Suci untuk mengikhlaskan segalanya.

Dalam kesedihan itu, saya belajar makna keikhlasan yang sebenarnya. Saya melanjutkan tugas sebagai Ketua Kloter dengan hati yang tetap bersyukur. Saya menjaga semangat para jemaah, sembari diam-diam memeluk duka di balik doa-doa panjang saya. Setiap air mata yang jatuh, saya niatkan sebagai doa terbaik untuk almarhum ayah.
Kini, setiap kali mengingat Tanah Suci, saya tidak hanya mengingat momen-momen ibadah yang khusyuk dan indah, tapi juga pelajaran hidup paling dalam: bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan jiwa. Sebuah proses penyucian hati, tempat Allah ajarkan bagaimana merelakan, mencintai, dan berserah.
Saya rindu Tanah Suci. Dan saya rindu ayahanda saya. Semoga Allah mengizinkan saya kembali ke Baitullah, dan semoga Allah limpahkan rahmat serta ampunan bagi ayahanda saya tercinta.





Leave a Reply