Di Tanah Suci, Usia 35 dan Doa-Doa yang Menyatu dengan Langit
Oleh:
Dr. H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag.
Terasjabar.co – Tahun lalu, saat jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk memenuhi panggilan suci Allah, saya menjadi salah satunya. Bukan hanya sebagai jamaah, tetapi sebagai petugas kloter yang mengemban amanah besar dalam mengawal para tamu-tamu Allah menuju puncak ibadah mereka. Di tengah padatnya jadwal, di antara lelah dan haru yang menyatu, ada satu momen yang membuat segalanya menjadi begitu pribadi dan tak terlupakan: ulang tahun saya yang ke-35.
Tidak ada kue ulang tahun, tidak ada lilin, tidak ada ucapan selamat dari kerabat dekat seperti biasanya. Tapi di Tanah Suci, di antara gema takbir dan air mata keikhlasan para jamaah, saya justru merasakan ulang tahun paling indah sepanjang hidup. Pada usia yang ke-35, saya diberikan karunia untuk berdiri di tanah yang dirindukan jutaan hati, menyebut nama-Nya di Arafah, berdoa di bawah langit Muzdalifah, dan menangis penuh harap di depan Ka’bah.
Usia 35 sering kali disebut sebagai usia matang, saat seseorang mulai menapaki fase kehidupan yang lebih dalam dan penuh pertimbangan. Di usia itu pula saya merenung panjang: tentang perjalanan hidup yang telah saya lewati, tentang syukur yang belum seutuhnya saya ucapkan, dan tentang cita-cita yang ingin saya titipkan langsung kepada Allah, di depan Baitullah.
Tidak mudah memang menjalankan tugas dan sekaligus menyimpan rasa haru atas perjalanan pribadi. Tapi setiap kali menyaksikan para jamaah lanjut usia yang tetap semangat menjalani setiap rukun haji, saya kembali dikuatkan. Mereka mengingatkan saya bahwa usia bukan batas, bahwa kehidupan ini adalah tentang seberapa tulus kita berserah, bukan seberapa panjang kita merencanakan.
Ulang tahun saya yang ke-35 menjadi titik balik. Di Tanah Suci, saya memohon kepada Allah agar usia saya tak hanya bertambah angka, tapi juga bertambah makna. Semoga sisa usia ini menjadi perjalanan menuju kebaikan, kemanfaatan, dan pengabdian untuk keluarga, masyarakat, dan agama.
Dan kini, setiap kali saya rindu Makkah dan Madinah, saya bukan hanya merindukan tempatnya. Saya juga merindukan versi diri saya saat itu yang sederhana, yang dekat dengan doa, yang yakin bahwa setiap harapan bisa dikabulkan di bawah langit Tanah Suci.






Leave a Reply