Petani Masih Terkendala Pemodalan, Hj. Lilis Boy Berikan Solusi
Terasjabar.co – Permasalahan modal masih menjadi kendala yang sering dialami para petani di Kabupaten Cianjur. Mulai pembiayaan penggarapan sawah, pembenihan sampai tahap panen dan pasca-panen.
Anggota DPRD Jabar dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jabar IV (Kabupaten Cianjur), Hj Lilis Boy mengatakan, tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan petani dalam fase membajak sawah sampai pasca-panen.
Karena itu, lanjut Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Jabar ini, penting tersedianya bantuan dari pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian melalui UPTD maupun BPP Pertanian untuk melakukan terobosan.
“Diantaranya membantu petani dalam membentuk Unit Penyedia Jasa Alsintan (UPJA) agar petani tidak kebingungan untuk biaya penyewaan alat dan mesin pertanian untuk menggarap sawah, serta memberikan bantuan bibit dan pupuk untuk kelompok tani yang ada guna mendukung terbentuknya Poktan yang mandiri”, katanya, Kamis (2/12/2021).
Anggota Komisi II DPRD Jabar ini juga mengakui hasil pertanian di Cianjur masih tertinggal dari daerah lain. Ia mencontohkan petani padi di Kec Cianjur pada setiap musim panen biasanya mendapatkan rata-rata 7 hingga 8 ton padi per hektare. Berbeda dengan petani padi di kabupaten Lain dimana hasil panen dapat mencapai rata-rata 10 hingga 11 ton per hektare.
Masalah lainnya petani yang menggarap sawah biasanya turun-temurun, tapi mereka hanya penggarap yang harus setor kepada pemilik tanah.
“Tapi ketika harga padi anjlok mereka harus ambil risiko dengan ngutang pupuk atau bibit. Memang saat ini ada bibit dan bantuan pupuk subsidi dari pemerintah tapi tidak semua petani kebagian,” ungkap Lilis.
Belum lagi masalah hama. Sementara pemilik lahan tidak mau tahu. Selain itu banyak juga petani yang menerima bantuan lunak pemerintah untuk menolong mereka dari para pengijon.
“Saya terus berkomunikasi dan menggenjot para petani yang tergabung dalam beberapa kelompok tani untuk bagaimana bisa mendapatkan hasil panen yang lebih memuaskan dari sebelum sebelumnya. Dalam hal ini saya juga mendorong terbentuknya UPJA-UPJA baru untuk kemudian diharapkan bisa mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian guna menopang proses pertanian,” katanya.
Karena itu, kata Lilis, perlu ada solusi jangka pendek dan panjang untuk pertanian di Cianjur. Solusi jangka pendek dengan membentuk Poktan yang mandiri serta UPJA di beberapa desa untuk menopang pertanian, hal ini berguna menekan angka pengeluaran dari petani untuk menggarap sawah dan menghindarkan para petani dari lilitan hutan.
Sementara jangka panjang ada beberapa hal yang harus disiapkan untuk meningkatkan kualitas pertanian. Salah satunya adalah membangun irigasi baru di beberapa wilayah petani yang sering terdampak kekeringan dan juga menerapkan konsep teknologi dalam pertanian, seperti melakukan berbagai macam edukasi terhadap petani untuk meningkatkan kualitas pertanian.
“Semoga adanya hasil pansus bisa mengatasi semua masalah kursusnya pemasaran setelah panen,” harapnya.






Leave a Reply