Edukasi Milenial Soal Pariwisata, Disparbud Jabar Bikin Kafe Pesona Kopi
Terasjabar.co – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat membidik generasi milenial dan generasi Z agar melek informasi kepariwisataan Jawa Barat dengan berbagai cara.
Gedung Dharma Wanita Persatuan Disparbud Jabar yang sudah ditempati sejak tahun 2001 pun diubah menjadi Kafe Pesona Kopi.
”Selama ini promosi pariwisata Jawa Barat dilakukan untuk semua kalangan atau masyarakat umum. Sekarang ini kita (Disparbud Jabar) mencoba membidik generasi muda yang kini dikenal dengan sebutan generasi milenial atau generasi Z agar mendapatkan informasi banyak tentang pariwisata Jawa Barat,” ujar Kepala Kepegawaian dan Umum Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Asep Mulyana, Kamis (28/2/2019) lalu terkait alih fungsi Gedung Dharma Wanita Disparbud Jabar menjadi warung kopi.
Selain melakukan alih fungsi Gedung Dharma Wanita Disparbud Jabar jadi warung kopi dengan nama Kafe Pesona Kopi, menurut Asep, juga akan kembali difungsikannya Tourism Information Centre (TIC).
”Jadi pengalihfungsian gedung tidak semata-mata untuk warung kopi, tapi juga untuk masyarakat luas yang ingin mendapatkan informasi seputar pariwisata Jawa Barat, keberadaan warung kopi hanya untuk daya tarik sekalian mempromosikan kopi Jawa Barat,” kata Asep.
Sementara itu, budayawan Jawa Barat yang juga mantan Kadisbudpar Jabar Memet Hamdam mengatakan bahwa keberadaan kafe ataupun warung kopi di lingkungan perkantoran Disparbud Jabar, boleh-boleh saja dan tidak jadi masalah.
”Sepanjang untuk kegiatan promosi sah-sah saja, hanya kalau sudah diembel-embeli usaha atau mencari peruntungan dapat disalahkan, masa instansi pemerintah buka warung,” ujar Memet Hamdan.
Menurut Memet Hamdan yang pernah menjadi orang nomor satu di lingkungan Disparbud Jabar, tahun 2000 hingga 2005, berbagai upaya untuk mendekatkan dinas dengan berbagai komunitas pernah dilakukannya.
”Mulai dari komunitas seniman lukis kami sediakan Galeri Kita, dengan seniman tradisi ada panggung mini Kalang Budaya, komunitas cagar bangunan cagar budaya Bandung Heritage, Asita Jabar, dan lainnya agar berkumpul dan mempermudah informasi, tapi semua dikeluarkan dari lingkungan dinas tahun 2015,” ujar Memet Hamdan.
Kini setelah pemerintah menganggap bahwa sektor pariwisata merupakan sektor unggulan, dinas berupaya kembali merangkul masyarakat.
”Seharusnya dari sejak dulu terus dibina hubungan baik, jangan menjadikan dinas sebagai instansi penting sementara komunitas hanya rekanan semata saat membutuhkan,” ujar Memet Hamdan.
Terkait dengan digunakannya salah satu bangunan di lingkungan Disparbud Jabar menjadi warung kopi, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung Etty RS menyatakan bahwa hal tersebut tidak dilarang sepanjang tidak mengubah bentuk bangunan Disparbud Jabar yang masuk katagori A Bangunan Cagar Budaya.
”Hanya yang patut dipertanyakan, kenapa dinas seakan-akan buka usaha warung kopi,” ujar Etty RS.
Terkait dengan keberadaan warung kopi di lingkungan instansi tersebut, Etty berharap agar ditinjau kembali. Karena selain akan membuat kecemburuan di kalangan kelompok dan komunitas yang pernah dibangun di dinas tersebut, juga akan mengundang banyak polemik.






Leave a Reply