Belum Dianggarkan, Bagaimana Nasib Program Kota Bandung Bersih dalam 100 Hari Kerja Oded?
Terasjabar.co – Anggaran program 100 hari kerja Oded Muhammad Danial-Yana Mulyana dalam bidang kebersihan belum didukung APBD Perubahan 2018. Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan pengolahan sampah sejak dari sumber masih akan bersumber dari pos anggaran kebersihan yang ada.
“(Pengalokasian anggaran) Di (APBD) perubahan agak berat. Dengan anggaran yang ada, akan kita upayakan. Sementara yang kita upayakan di 100 hari ini perubahan mind set warga. Kalau bank sampah kan enggak perlu biaya besar, malahan enggak memerlukan biaya,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Mohamad Salman Fauzi, di Bandung, Senin (13/82018).
Seperti diketahui, wali kota Bandung terpilih, Oded, memfokuskan program pengolahan sampah sejak dari sumber dalam program 100 hari kerja. Gerakan ini akan dimulai setelah pelantikan Oded-Yana yang akan dilaksanakan September mendatang.
Program ini mengedepankan peran masyarakat dan pelaku usaha untuk mengurangi dan mengolah sampah sejak dari sumber. Oleh karena itu, kata Salman, anggaran yang dibutuhkan di awal akan dioptimalkan untuk pola edukasi masyarakat.
Ia menjelaskan, hingga akhir tahun anggaran tidak akan ada penambahan anggaran. Namun, saat ini mereka tengah menghitung kebutuhan anggaran untuk peralatan dan alat dukung warga dalam mengolah sampah sejak dari lingkungan rumah, seperti biodigester.
“Pak Wakil arahannya ada biodegester skala RW atau komunitas masyarakat. Nanti DLHK hitung-hitungnya berapa kebutuhan untuk biodegester tadi. Hal-hal lain saya kira enggak akan sebanyak alokasi anggaran yang harus kita siapkan. (Anggaran) Dari TPS ke TPA itu akan dialihkan secara bertahap pada pengolahan sampah di sumber,” ujarnya.
Anggaran DLHK untuk kebersihan tahun ini berkisar di angka Rp 150 miliar. Selain dipergunakan untuk belanja langsung, ada pula belanja tidak langsung dalam bentuk subsidi yang diberikan kepada masyarakat melalui PD Kebersihan Kota Bandung. Salman meyakini anggaran yang sebagian besar digunakan untuk mengangkut sampah dari TPS ke TPA itu akan beralih ke program pengolahan sampah dari sumber.
“Memang mungkin pada tahap awal, yang terjadi kan tidak kemudian langsung, tetapi bertahap dulu selama proses itu berjalan. (Sistem) kumpul-angkut-buang berjalan, tetapi sedikit demi sedikit terus kita kurangin. Dialihkan,” katanya.
Di tempat yang sama, Oded mengatakan, ke depan akan ada perubahan besar yang dijalani warga Bandung. Warga akan mulai diajak beralih dari sistem kumpul-angkut-buang sampah, menuju sistem pengolahan sampah dari sumber.
“Kita punya persoalan bagaimana mampu mengedukasi masyarakat. Maka saya ke depan akan menggerakkan potensi masyarakat agar masyarakat punya persepsi yang sama. Semua stakeholder, kekuatan ulama, saya juga sudah ngobrol dengan kekuatan LSM, saya kira ini harus dilakukan bersama,” tuturnya.
Oded memastikan penanganan masalah sampah tidak akan berhenti di program 100 hari kerja. Anggaran di masa mendatang akan konsisten mendukung gairah warga dalam mengolah sampah dari rumah.
“Kalau ini berhasil, hampir Rp 150 miliar efisiensi anggaran setahun. Saya akan kejar ini. Bukan sekadar kita dapatkan output-outcome, benefit dari pada masyarakat ketika berjalan mandiri tadi, maka luar biasa menurut saya kita bisa dialihkan Rp 150 miliar itu untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Oded meyakini gerakan ini dapat disambut masyarakat. Selain telah sukses di sejumlah lokasi, Kawasan Bebas Sampah di Kelurahan Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler yang ia kunjungi kemarin bisa mengolah hingga 50%.
“Saya berharap ke depan, pengolahan sampah seperti ini harus jadi contoh bagi daerah lain. Akan saya gerakkan. Nanti semua wilayah harus bersama-sama mereplikasi pengolahan sampah seperti ini,” tuturnya.






Leave a Reply