Dedi Mulyadi: Saya Jadi Aneh, Serangan Kampanye Hitam ke Saya Luar Biasa

Terasjabar.co – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 4, Dedi Mulyadi mengaku telah mengetahui siapa pelaku yang menyebarkan kampanye hitam terhadap pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Deddy-Dedi) di media sosial selama ini. Seperti salah satu kampanye hitam video dukun palsu yang belakangan ini terungkap bahwa pemerannya dibayar Rp 200.000 oleh salah satu tim pesaingnya di Pilkada Jabar.

“Saya jadi aneh, saya posisi calon wakil (di Pilgub Jabar), tapi serangan kampanye hitam ke saya luar biasa. Saya mah orang kampung yang menghadapi orang kota. Jadi baru tahu (orang kota) menyerangnya seperti ini pakai medsos,” jelas Dedi, Jumat (22/6/2018).

Dedi pun mengaku heran alasan dirinya menjadi target kampanye hitam selama proses pencalonannya di Pilgub Jabar. Menurut Dedi, beberapa postingan kampanye hitam yang disebarkan pertama kali di media sosial ternyata dilakukan oleh orang yang sama. Orang itu secara terus menerus dengan interval waktu berbeda menyebar berita boaks dan memfitnah dirinya dalam sebuah akun milik pelaku.

“Saya sudah memahami dan saya pikir ini ada satu sistem yang dibuat untuk kepentingan politik. Sebetulnya saya populernya dari mana kok bisa kadi target serangan seperti ini, saya mah hanya orang kampung,” tambah dia.

Dedi mengaku merasa aneh, pelaku yang sama juga menyebarkan kembali video sekelompok orang yang mengaku ulama datang ke DPP Golkar menolak surat rekomendasi pencalonannya. Padahal peristiwa itu terjadi tahun lalu dan videonya kini disebar kembali. Setelah ditelusuri, kata Dedi, ternyata orang yang mengaku ulama itu adalah kader salah satu partai asal Purwakarta yang pernah mencalonkan legislatif Provinsi Jabar tapi tak terpilih.

“Saya melihat ada hal yang aneh partai lain protes ke Partai Golkar dan disebarkan kembali sekarang oleh orang tersebut,” kata Dedi.

“Tapi mudah-mudahan ini menjadi obat dan energi untuk terus berjuang. Saya hanya ingin dan meminta kepada orang seperti itu jangan sampai melakukan hal yang bisa mencederai proses demokrasi,” tambah dia.

Serangan kampanye hitam, lanjut Dedi, bukan kali pertama saat munculnya video dukun palsu belum lama ini. Sebelumnya tentang isu gizi buruk pada anak balita di Purwakarta saat Dedi pernah menjadi bupati. Setelah dicek, ternyata anak yang dikatakan gizi buruk tersebut sudah berusia 18 tahun dan hanya kebetulan fisiknya seperti anak kecil. Anak tersebut pun mengaku bahwa sebelumnya diskenariokan oleh salah satu tim paslon rivalnya selama ini.

Demikian pula dengan isu mengenai pembangunan masjid yang mangkrak dan soal penghasilan tetap perangkat desa di Purwakarta. Dedi menilai, isu yang dihembuskan tersebut sebagai kampanye hitam untuk menyerangnya.

“Kemudian saya berutang Rp 35 miliar. Saya bilang aneh. Pemda ini mempunyai kontrak dengan 11 rumah sakit. Tujuannya kan mengobati masyarakat. Memang di Purwakarta setiap orang yang berobat di rumah sakit itu gratis, asal mau di kelas 3. Proses pembayarannya itu bertahap, sesuai kontrak,” ucap dia.

Selama ini, tambah Dedi, isu-isu tersebut disebarkan sengaja secara masif melalui jejaring media sosial oleh tim pesaingnya di Pilgub Jabar. Hal itu diketahui saat orang yang ada dalam video dukun palsu tersebut berbicara secara blak-blakan kepada dirinya. Pelaku dalam video dukun palsu tersebut pun meminta maaf.

“Saya pikir untuk para calon pemimpin saat ini, marilah kita beradu program. Marilah kita beradu gagasan saja. Tidak ada gunanya sebetulnya upaya fitnah tersebut. Toh, kalau sudah terbongkar kebohongan seperti ini, publik lah yang akan menilai,” tambah dia.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *