Hasil Penelitian CIPC, 12 Persen Mahasiswa di Bandung Mulai Minum Miras Sejak SD

Terasjabar.co – Lembaga kajian Center For Indonesia Policy Studies (CIPS) melakukan serangkaian penelitian terhadap potret mahasiswa Kota Bandung yang mengkonsumsi minuman beralkohol (minol) atau minuman keras (miras).

Peneliti CIPS Hizkia Respatiadi menjelaskan penelitian dilakukan terhadap 100 mahasiswa di Kota Bandung yang terdiri dari 83 orang pria dan 17 orang wanita dengan rata-rata umur 18 hingga 24 tahun.

Kriteria mahasiswa juga terbagi dalam empat kategori uang saku yang diterima setiap bulannya. Tercatat tiga orang mendapat uang saku lebih dari Rp 5 juta per bulan, 13 orang Rp 3-5 juta per bulan, 47 orang Rp 1-3 juta per bulan dan sisanya 37 orang Rp 0-1 juta per bulan.

“Peminum alkohol di bawah umur adalah suatu hal yang lumrah di Kota Bandung. Dari sampel mahasiswa yang mengkonsumsi, 48 persen menyatakan pertama kali meminum saat SMA. Bahkan 12 persen mulai minum ketika SD dan 20 persen saat SMP,” ujar Hizkia saat pemaparan hasil penelitian di Hotel Zodiak, Jalan Kebonkawung, Kota Bandung, Rabu (9/5/2018).

Menurutnya kondisi tersebut berbanding terbalik dengan batas usia minimal seseorang bisa mengkonsumsi minol pada usia 21 tahun sesuai Permendag No 20 tahun 2014 dan Perda Kota Bandung No 11 tahun 2010.

“58 persen responden menyatakan bahwa rasa penasaran adalah alasan utama mereka mencoba minol. Kebiasaan itu berlanjut dengan alasan bersosialisasi sebagaimana disampaikan oleh 33 persen responden,” katanya.

Bahkan sebanyak 32 responden mengaku pernah meminum oplosan yang 18 orang di antaranya membuat sendiri. Sementara dari sisi alasan mahasiswa membeli minuman ilegal termasuk oplosan, 42 persen karena lebih murah. Sedangkan 32 persen menyebut lebih mudah didapat, 14 persen lebih memabukkan dan 12 persen merasa rasanya lebih enak.

“Kecenderungan dari mereka atau 65 persen membeli minuman ilegal dan oplosan dekat dari kampus atau tempat tinggal mereka. Sementara sisanya membeli dari teman,” ucapnya.

Dikaitkan dengan peraturan, kata Hizkia, 59 responden menyatakan adanya peraturan atau larangan mengenai minol tidak akan membuat berhenti mengkonsumsinya. Bahkan mereka akan mencari alternatif lain seperti minol ilegal dan oplosan.

Hizkia mengatakan pengalaman Kota Kiama di New South Wales, Australia bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia khususnya Kota Bandung. Sebab sejak tahun 2012 hingga 2016 lalu kota ini membuat kampanye bersama dengan melibatkan orang tua, komunitas, kepolisian, guru dan sejumlah elemen warga lainnya.

“Masalah konsumsi minol di bawah umur dan ilegal tergolong rumit dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan peraturan dan regulasi pemerintah. Pertama harus bersama-sama, kedua pemerintah fokus pada memerangi minol ilegal dan ketiga menegakkan peraturan dengan sistem pengawasan yang melibatkan warga,” ujar Hizkia.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *