Dorong Perkembangan Anak Penyandang Autisme, Pemprov Jabar Berikan Bantuan Fasilitas Penunjang

Terasjabar.co – Sebagai bentuk kontribusi untuk memfasilitasi pengembangan anak penyandang autisme, Pemprov Jawa Barat memberikan beberapa bantuan baik secara moril maupun materiil. Salah satu diantaranya adalah dengan pemberian dan perbaikan fasilitas penunjang untuk tenaga pengajar anak penyandang autisme.

“Pertama, yang kami dorong adalah gurunya, dari tunjangan perbaikan penghasilan (TPP), supaya dia (guru) fokus memberi kasih sayang pada muridnya. Alhamdulilah TPP sudah kami naikan,” ujar Sekda Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa, ketika ditemui pada Peringatan Hari Peduli Autisme, Gedung Sate, Senin (2/4/2018).

Untuk segi fasilitas pendidikan di SLB Negeri, Iwa Karniwa mengatakan belum ada kendala. Tetapi, menurutnya, penunjangan fasilitas perlu dilakukan pada  SLB swasta dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Inklusi. Untuk lembaga swasta, Pemprov Jabar akan memberikan hibah.

Ia juga mengakui, bahwa jika hanya mengandalkan Pemprov Jabar, bantuan pada penyandang autisme belum dapat maksimal.

“Oleh karena itu paling tidak membangkitkan semangat orang tua dan mendorong perhatian lebih lagi. Diharapkan ini akan menjadi bola salju perhatian pada penyandang autis,” ujarnya.

Ketua Yayasan Biruku Indonesia, Juju Sukmana, mengatakan bahwa fasilitas untuk penyandang autisme berbeda-beda. Tetapi, yang terpenting adalah perlakukan pada anak penyandang autisme.

“Mereka butuh banyak hal dan beragam, tergantung kebutuhan individu, semisal harus ada ruang sensori integrasi, ruang terapi bicara, harus ada lapangan,” ujar Juju.

Ia juga mengatakan, anak penyandang autisme dari lingkungan keluarga yang mampu secara ekonomi dapat menjangkau fasilitas yang bagus.

Masalahnya adalah masih sedikitnya fasilitas untuk anak penyandang autisme dari keluarga kurang mampu secara ekonomi.

“Yayasan Biruku Indonesia kami mendukung yang tidak mampu, banyak anak penyandang autisme yang tidak mampu, tidak mendapat fasilitas karena mahal, semisal biaya terapi mahal, biaya psikolog mahal, sedangkan saya ingin mereka mendapat kesempatan yang sama,” ujarnya.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *