ARKETIPE WANITA MEKKAH DAN MADINAH: Historiografi Toponimi
Oleh:
Nunu A. Hamijaya & Nunung K. Rukmana
(Sejarawan Publik & Pusat Studi Sunda-Bandung)
Terasjabar.co – “What’s in a name“. Apalah arti sebuah nama” adalah penggalan terkenal dari karya sastra Shakespeare, Romeo and Yuliet, memberi pesan inti tentang betapa pentingnya sebuah nama karena menyangkut penerimaan sebuah identitas yang terkandung konsekuensi sosial tertentu. Ada nilai dan prinsip didalamnya.
Soal nama dan penamaan bahkan menjadi fondasi ilmu yang diajarkan pertama kali kepada manusia (Adam). Juga, identitas tentang Allah SWT sendiri.
Wa ‘allama ādamal-asmā`a kullahā. Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (QS al Baqoroh:31).
Wa lillāhil-asmā`ul-ḥusnā fad’ụhu bihā wa żarullażīna yul-ḥidụna fī asmā`ih.“Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu (QS al-A’raaf:180).
Demikian pula dengan nama-nama tempat dimanapun selalu memiliki latar sejarah yang berkaitan dengan tradisi, peristiwa, atau keyakinan religius; tercetus oleh seorang tokoh anonim atau jelas.Namun seiring dengan perubahan zaman, terjadi perubahan ingatan kognitif yang sama sekali berbeda.
Sebagai contoh, bagaimana sebuah nama kota yang berada jauh ribuan kilometer jaraknya bahkan harus menempuh dengan kapal laut atau pesawat terbang menjadi penamaan sebuah kota. Sebagai contoh nama kota ‘Kudus’ di Jawa Tengah, diambil dari nama kota al Quds di Palestina.
Penamaan Kota Kudus sudah dikenal di abad ke-15. Disebut demikian karena Namanya berasal dari kata bahasa Arab “Al-Quds” (القُدس) yang berarti “suci” atau “kesucian”, sebuah nama yang diberikan oleh Sunan Kudus, atau Syekh Ja’far Shadiq untuk menandai kesucian wilayah tersebut dan meniru nama Baitul Maqdis (Yerusalem), kota suci yang pernah ia tinggali dan ia bantu saat wabah. Nama ini melekat setelah Sunan Kudus membangun Masjid Menara Kudus yang batunya berasal dari Yerusalem, lalu dialihbahasakan menjadi “Kudus” oleh lidah Jawa.
Namun, jika ditanyakan kepada publik generasi milenial atau G-Z saat ini, apa yang teringat ketika disebut nama Kudus, mereka lebih mengenalnya sebagai kota ‘rokok kretek’.
Baru dua abad, sejarah rokok kretek di Kudus, Jawa Tengah, dimulai sekitar tahun 1880-an ketika Haji Djamhari menemukan cara meredakan sesak napasnya dengan mencampur tembakau dan cengkih yang dilinting dengan klobot (kulit jagung) dan dibakar, menciptakan bunyi khas “kretek-kretek”. Penemuan ini berkembang dari pengobatan sederhana menjadi industri besar, dengan tokoh seperti Nitisemito (yang mempopulerkan merek Bal Tiga) dan perusahaan seperti Djarum, Nojorono, serta Sukun yang memajukan industri ini secara massal, menjadikan Kudus dijuluki “Kota Kretek.
Dari Toponimi Religius Ke Studi al Quran
Historiografi Toponimi adalah cabang kajian sejarah yang menggunakan nama tempat (toponim) sebagai sumber utama untuk menelusuri, merekonstruksi, dan memahami peristiwa, budaya, serta identitas suatu wilayah dari masa lalu, menjadi bukti lisan dan tertulis tentang sejarah lokal, flora, fauna, aktivitas ekonomi, hingga jejak sosial-budaya masyarakatnya, memanfaatkan tradisi lisan, peta kuno, dan dokumen sejarah untuk mengungkap cerita di balik setiap nama.
Sejarah toponimi dimulai bersamaan dengan dikenalnya peta (sehingga berkaitan dengan kartografl) dalam peradaban manusia yang dimulai pada zaman Mesir Kuno. Untuk memberikan keterangan (nama) pada unsur yang digambarkan pada peta diperlukan suatu usaha untuk merekam dari bahasa verbal (lisan) ke dalam bentuk tulisan atau simbol. Sejarah mencatat nama-nama Contey Ed Volney (1820), Alexander John Ellis (1848), Sir John Herschel (1849), dan Theodore W. Erersky (1913) yang terus berusaha untuk membakukan proses penamaan unsur geografis pada lembar peta melalui berbagai metode. Akhimya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di bawah struktur Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (UN ECOSOC).
Dari toponimi religius Islam ternyata berkembang menjadi salah-satu studi al Quran tentang Mekkah dan Madinah. Studi Makkiyah dan Madaniyah adalah pengelompokan ayat Al-Qur’an berdasarkan waktu dan tempat turunnya (Makkah sebelum Hijrah, Madinah setelah Hijrah) untuk memahami konteks, tujuan dakwah (akidah di Makkah, hukum sosial di Madinah), gaya bahasa, dan sejarahnya, yang sangat penting untuk tafsir yang tepat, dengan metode klasifikasi berdasarkan tempat (geografis), waktu (historis), subjek (mukhatab), dan konten (analisis isi).
Studi Makkiyah-Madaniyah ini berguna untuk:
- Memahami Konteks: Mengetahui fase dakwah Nabi (sabar di Makkah, membangun masyarakat di Madinah).
- Tafsir yang Tepat: Membantu memahami makna ayat karena konteksnya jelas.
- Hikmah Pensyariatan: Mengetahui alasan di balik hukum yang diturunkan (asbabun nuzul).
- Pemahaman Sejarah: Memahami perjalanan dakwah Islam secara historis.
- Mengetahui Nasikh-Mansukh: Membantu memahami ayat mana yang menghapus dan dihapus (Madaniyah sering menasikh Makkiyah).
Toponimi dalam Al Quran: Mekkah dan Madinah
Banyak nama geografis disebut dalam al Quran. Namun, yang terpenting adalah dua nama berikut: Mekkah dan Madinah.
Mekkah disebut dalam Al-Qur’an dengan berbagai nama, antara lain Bakkah (QS. Ali ‘Imran: 96) yang berarti menekan kesombongan, Ummul Qura (QS. Asy-Syura: 7, Al-An’am: 92) sebagai induk segala negeri, Al-Balad (QS. At-Tin: 3) yang berarti negeri aman, Ma’ad (QS. Al-Qashash: 85) sebagai tempat kembali, dan Masjidil Haram, mencerminkan statusnya sebagai kota suci, pusat ibadah (Ka’bah), tanah yang aman (Al-Balad Al-Amin), dan tempat berkumpulnya umat Islam, yang semuanya menegaskan keutamaan dan kemuliaannya.
Dari Yastrib ke Madinah
Jika kita menilik sejarahnya, sebelum peristiwa hijrah Nabi SAW dan sahabatnya, nama awal kota itu Yastrib. Nabi Muhammad bersabda, ”Aku bermimpi…. , ternyata itu adalah kota Madinah Yastrib”. (HR. Muslim).
Kata Yatsrib ini juga disebutkan di dalam Al-Qur’an, salah satunya di surah Al-Ahzab ayat 13. Ayat tersebut berbunyi:
“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: ‘Hai penduduk Yatsrib.” (QS. Al-Ahzab: 13).
Jawad Ali dalam Al Mufasshal Fi Tarikh al-Arab mengutip pendapat para sejarawan, penamaan Yastrib disandarkan kepada seorang keturunan Nabi Nuh, Yastrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Arm. Dia disinyalir sebagai orang pertama yang menetap di kota tersebut.
Setelah Nabi hijrah, Yastrib berganti nama menjadi Madinah. Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan bahwa Allah lah yang menamai Yastrib dengan Madinah, dan Rasulullah SAW menamainya dengan Thabah dan Thaybah.
Ada sejumlah pendapat soal alasan penggantian nama ini. Adapun dalil yang digunakan di antaranya sabda Rasulullah, “Aku diperintahkan untuk hijrah ke suatu tempat yang daya tariknya lebih dominan dari pada tempat-tempat lain. Orang-orang menyebutnya Yastrib yakni Madinah, kota ini membersihkan manusia (yang jahat) sebagaimana alat tempa besi yang membersihkan karat” (HR. Bukhari).
Nama Yastrib diambil dari kata ats-tsarbu yang berarti kerusakan dan tasrib yang berarti menghukum seseorang kerena telah berbuat dosa. Nama-nama ini tidak baik, sehingga Rasullullah SAW menggantinya.
Wanita Mekkah dan Wanita Madinah: Arketipe Muslimah
Selama ini, narasi tentang “sosok muslimah ideal” seringkali dipersempit menjadi satu pola tunggal. Padahal, jika kita menilik 23 tahun masa kenabian, Rasulullah SAW tidak sedang mencetak manusia dengan seragam, melainkan membentuk karakter yang responsif terhadap kebutuhan zaman. Ada perbedaan sosiologis yang mencolok antara karakter muslimah era Makkah yang penuh pergolakan dengan era Madinah yang mulai tertata secara kenegaraan.
1. Era Makkah: Kemandirian dan Ketangguhan (The Strugglers)
Pada fase 13 tahun pertama di Makkah, Islam adalah gerakan bawah tanah dan perlawanan terhadap status quo. Lingkungan sosiologis saat itu menuntut perempuan untuk menjadi pilar ekonomi dan benteng mental.
Tipologi Khadijah binti Khuwaylid: Beliau adalah representasi sempurna era ini. Sebagai pebisnis ulung, Khadijah menunjukkan karakter perempuan yang mandiri secara finansial (independent) dan memiliki manajerial yang kuat.
Konteks Sosial: Ketika Rasulullah fokus pada transformasi spiritual di Gua Hira dan kemudian dakwah publik, Khadijah mengambil peran menjaga stabilitas domestik sekaligus menyokong logistik dakwah.
Karakter Utama: Struggle, pengorbanan harta secara total, dan ketahanan mental di tengah boikot. Di sini, tidak ada dikotomi tajam antara ruang publik dan privat karena semua energi dikerahkan untuk bertahan hidup (survival).
2. Era Madinah: Penataan Domestik dan Struktur Sosial (The Builders)
Setelah hijrah, Islam beralih dari gerakan perlawanan menjadi sebuah entitas negara. Di Madinah, hukum-hukum sosial (seperti waris, pernikahan, dan batasan hijab) mulai turun secara bertahap. Fokus beralih pada pembangunan fondasi generasi.
Tipologi Fatimah az-Zahra: Beliau tumbuh dalam suasana negara yang sedang membangun tatanan. Karakter Fatimah sering digambarkan lebih fokus pada ketaatan domestik dan kesahajaan hidup.
Konteks Sosial: Di Madinah, peran laki-laki banyak terserap di medan perang dan diplomasi luar negeri. Maka, perempuan menjadi “penjaga gawang” peradaban di dalam rumah untuk memastikan nilai-nilai Islam tertanam pada generasi berikutnya.
Karakter Utama: Zuhud, ketangguhan dalam kesederhanaan, dan pengabdian pada struktur keluarga yang mulai mapan secara hukum syariat.
Menemukan Kebijaksanaan: Mengapa Keduanya Benar?
Perbedaan antara karakter “Khadijah yang mandiri-publik” dan “Fatimah yang teduh-domestik” bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan sebuah evolusi kebutuhan dakwah.
Kesesuaian Konteks (Maqam): Khadijah hadir saat Islam butuh modal dan perlindungan. Fatimah hadir saat Islam butuh keteladanan tentang bagaimana sebuah keluarga muslim ideal dijalankan di bawah naungan negara.
Menolak Penyeragaman: Memaksa semua wanita menjadi “tipe Fatimah” (domestik total) di saat kondisi ekonomi keluarga atau lingkungan menuntut kemandirian seperti Khadijah, justru bisa kontraproduktif. Sebaliknya, meninggalkan nilai domestik Fatimah saat struktur keluarga membutuhkan kehadiran ibu juga akan memicu kerapuhan sosial.
Benang Merah: Meski perannya berbeda, keduanya disatukan oleh satu prinsip: Keberpihakan pada kaum duafa. Khadijah menghabiskan hartanya untuk memerdekakan budak dan memberi makan orang miskin di Makkah, sementara Fatimah dikenal tetap bersedekah meski dirinya sendiri dalam kekurangan.
Oleh karena itu, tidak perlu terjebak dalam perdebatan mana yang lebih baik. Sejarah menunjukkan bahwa Islam menyediakan ruang bagi berbagai tipologi. Seorang muslimah bisa menjadi “Khadijah” yang menggerakkan roda ekonomi dan sosial, atau menjadi “Fatimah” yang membangun peradaban dari dalam rumah.
Kebijaksanaan hidup terletak pada kemampuan kita membaca zaman: Di fase mana kita berada sekarang, dan peran mana yang paling dibutuhkan oleh umat dan keluarga saat ini?
Kurikulum Pembinaan Muslimah: Lima Karakter Peradaban
1. Modul Siti Hajar: The Visionary Builder (Visi & Ketahanan)
Fokus Karakter: Kemandirian (self-reliance), ketangguhan di masa sulit (resilience), dan visi jangka Panjang.
Aplikasi Masa Kini: Membangun mentalitas “Hajar” dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi atau sosial.
Kemampuan mendidik anak dengan visi besar (tidak sekadar membesarkan, tapi menyiapkan pemimpin masa depan).
Output: Peserta mampu merancang blueprint pendidikan keluarga dan mandiri secara mental.
2. Modul Khadijah binti Khuwaylid: The Strategic Leader (Kepemimpinan & Ekonomi)
Fokus Karakter: Leadership, manajemen sumber daya, koneksi antarmanusia (networking), dan dukungan strategis.
Aplikasi Masa Kini: Pelatihan kewirausahaan dan literasi keuangan bagi muslimah. Seni berkomunikasi dan membangun jejaring sosial untuk kebermanfaatan umat.
Output: Peserta memiliki kemampuan manajerial, baik dalam bisnis, organisasi, maupun mengelola ekosistem rumah tangga yang produktif.
3. Modul Aisyah binti Abu Bakar: The Intellectual Catalyst (Kecerdasan & Ketangkasan)
Fokus Karakter: Literasi tinggi, kritis, tajam dalam analisa, dan aktif secara fisik (tangkas).
Aplikasi Masa Kini: Budaya membaca dan riset (melawan hoax/disinformasi). Public speaking dan kemampuan menjawab tantangan zaman dengan argumentasi yang kuat. Kesehatan fisik dan kelincahan dalam beraktivitas.
Output: Peserta menjadi muslimah yang terpelajar, kritis, dan sehat jasmani.
4. Modul Asiah (Istri Firaun): The Principle Guardian (Integritas di Tengah Badai)
Fokus Karakter: Menjaga prinsip di lingkungan toksik, kecerdasan emosional dalam situasi bahaya, dan loyalitas pada kebenaran.
Aplikasi Masa Kini: Manajemen konflik di lingkungan kerja atau sosial yang tidak mendukung nilai-nilai Islam.Menjaga integritas diri (anti-korupsi, menjaga lisan/rahasia).Keberanian mengambil sikap dalam diam namun tetap efektif.
Output: Peserta memiliki integritas moral yang kokoh meski berada dalam tekanan lingkungan yang sulit.
5. Modul Fatimah az-Zahra: The Soul of Simplicity (Zuhud & Ketulusan)
Fokus Karakter: Keikhlasan (nrimo), kesederhanaan hidup, ketaatan yang mendalam, dan empati sosial tinggi.
Aplikasi Masa Kini: Gaya hidup minimalis dan mindfulness di tengah gempuran konsumerisme.Kekuatan pengabdian dalam keluarga tanpa kehilangan jati diri. Kepekaan sosial (dermawan dalam keterbatasan).
Output: Peserta memiliki ketenangan jiwa, rasa syukur yang kuat, dan kebahagiaan yang tidak bergantung pada materi.
Strategi Implementasi Kurikulum:
Agar kurikulum ini menarik bagi generasi masa kini, Anda bisa menggunakan metode:
Analisis Studi Kasus: Membahas problem wanita modern (misal: burnout kerja, pola asuh anak di era digital) dan membedah tipologi mana yang paling tepat untuk menyelesaikannya.
Self-Assessment: Peserta diajak mengenali “Karakter Dominan” mereka. Apakah mereka cenderung bertipe Khadijah (leader) atau Aisyah (intelektual)? Tujuannya agar mereka bisa mengoptimalkan potensi uniknya tanpa merasa harus menjadi orang lain.
Action Project: Misalnya, di Modul Khadijah, peserta membuat proyek sosial/bisnis kecil. Di Modul Asiah, peserta belajar tentang teknik negosiasi dan diplomasi.
dst
Apakah seorang muslimah bisa memiliki kelima karakter ini secara bergantian sesuai porsinya. Kita butuh menjadi Hajar saat berjuang, menjadi Khadijah saat memimpin, menjadi Aisyah saat belajar, menjadi Asiah saat diuji, dan menjadi Fatimah saat di rumah.






Leave a Reply