Mobilitas Liburan dan Refleksi Kehidupan Publik
Oleh:
Ummu Fahhala
(Prakstisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Pagi belum sepenuhnya terjaga ketika jalan tol menjelma sungai cahaya. Kendaraan bergerak perlahan, saling berhimpitan, seolah seluruh Jawa Barat bersepakat meninggalkan rumah pada waktu yang sama. Seorang ayah menggenggam kemudi dengan wajah letih, sementara di kursi belakang anaknya bertanya polos, “Ayah, kita pergi sejauh ini untuk apa?” Pertanyaan itu tenggelam di antara klakson dan deru mesin, tetapi sesungguhnya ia menembus lebih dalam: ke arah tujuan perjalanan sebuah masyarakat. Inilah potret libur Natal dan Tahun Baru, ketika 21,2 juta warga Jawa Barat diprediksi bergerak serempak, membawa harapan, kelelahan, dan nilai yang tak selalu disadari.
Data resmi menyebut hampir separuh populasi Jawa Barat melakukan perjalanan pada masa Nataru. Pemerintah daerah menaruh perhatian besar pada jalur wisata dan tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Fakta ini mencerminkan keberhasilan negara dalam memfasilitasi mobilitas warganya. Jalan tersedia. Transportasi diatur. Destinasi disiapkan. Namun, di balik kelancaran teknis itu, terselip pertanyaan yang lebih sunyi: ke mana arah kebijakan ini menggiring cara pandang masyarakat tentang liburan dan kehidupan?
Dalam sistem kapitalisme, liburan jarang diposisikan sebagai ruang refleksi. Negara mendorong sektor wisata demi pertumbuhan ekonomi. Industri merespons dengan promosi masif. Masyarakat kemudian menyerap pesan itu sebagai kewajaran baru: libur berarti pergi, belanja, dan bersenang-senang. Momen rehat berubah menjadi kewajiban sosial. Tidak ikut bergerak terasa seperti tertinggal. Di titik ini, kebijakan publik yang berniat baik perlahan menyatu dengan logika pasar yang menjadikan kesenangan sebagai komoditas.
Lebih jauh, ketika negara menempatkan pariwisata sebagai mesin ekonomi utama, ruang nilai sering kali terpinggirkan. Kebebasan berperilaku menguat, sementara batas etika melemah. Wisata tidak lagi sekadar perjalanan fisik, tetapi juga arena ekspresi tanpa kendali. Kritik terhadap kondisi ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan peran pemerintah. Kritik ini justru ingin menegaskan bahwa pembangunan yang hanya mengukur keberhasilan dari perputaran uang berisiko melahirkan masyarakat yang kehilangan arah ruhaniah.
Pandangan Islam
Islam menawarkan sudut pandang yang berbeda dan lebih utuh. Perjalanan dalam Islam bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pembelajaran dan penguatan iman. Al-Qur’an menegaskan, “Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kamu” (QS. Al-‘Ankabut: 20). Ayat ini menempatkan perjalanan sebagai aktivitas berpikir, bukan pelarian dari makna hidup. Jalan raya seharusnya menjadi ruang tadabbur, bukan sekadar lintasan konsumsi.
Rasulullah saw. pun mengingatkan, “Perjalanan itu adalah bagian dari keletihan. Jika salah seorang dari kalian telah menyelesaikan keperluannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan keseimbangan. Islam tidak mengharamkan liburan. Islam mengikatnya dengan tujuan, adab, dan tanggung jawab. Pergi secukupnya. Menikmati tanpa melampaui batas. Kembali dengan kesadaran sosial.
Sejarah peradaban Islam memperlihatkan teladan itu. Para khalifah membangun jalan, penginapan, dan fasilitas umum bagi musafir. Namun, mereka juga menjaga agar ruang publik tidak berubah menjadi ruang bebas nilai. Negara hadir bukan hanya sebagai penyedia infrastruktur, tetapi sebagai penjaga arah kehidupan masyarakat. Wisata tetap berjalan, tetapi perilaku rakyat tetap terikat syariat.
Di sinilah letak tawaran ideologis Islam bagi kebijakan hari ini. Negara tidak cukup memastikan perjalanan aman dan lancar. Negara perlu memastikan perjalanan itu bermakna. Kebijakan pariwisata seharusnya tidak hanya memikirkan jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas perilaku. Edukasi nilai, penguatan etika publik, dan peneguhan batas moral perlu menyertai setiap promosi liburan.
Ketika jutaan kendaraan bergerak serempak, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya ketahanan jalan, tetapi ketahanan nurani. Jalan raya telah menjadi cermin bangsa. Ia memperlihatkan apakah kita sekadar bergerak mengikuti arus, atau melangkah dengan kesadaran tujuan. Liburan yang sejati bukan tentang sejauh apa kita pergi, melainkan seberapa dalam kita pulang kepada nilai.






Leave a Reply