Islam Menjaga Generasi di Tengah Badai Digital
Oleh:
Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Angin sore menyapu pelataran kampus itu. Langit mulai meredup, tapi layar-layar gawai di tangan generasi terus memancar terang. Di bangku taman, Rika, mahasiswi tahun pertama terlihat gelisah. Ia menatap ponselnya yang penuh notifikasi. Mata lelahnya menangkap berita, opini, dan komentar yang berseliweran tanpa henti.
“Capek, ya?” tanya seorang dosen muda, Bu Hana, yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Rika terkejut. “Iya, Bu. Rasanya kok dunia makin bising. Semua bicara tentang Gen Z. Katanya kami lemah, katanya gampang stres. Tapi di satu sisi, kami juga dituntut untuk kritis. Saya bingung harus jadi apa.”
Bu Hana tersenyum tipis. “Kamu tidak lemah, Ka. Kalian hanya hidup di zaman yang terlalu cepat.”
Rika menatapnya serius. “Bu, apa dunia digital ini memang berbahaya?”
“Bukan berbahaya,” jawab Bu Hana pelan, “tapi ia tidak netral”.
Percakapan itu membuka perjalanan panjang yang mengantarkan Rika memahami bahwa hidup di era digital tidak sekadar tentang kecanggihan, tetapi tentang pertarungan nilai.
Ruang Digital: Cahaya yang Menggoda dan Mengikis
Rika pulang ke kosnya malam itu dan mencoba membaca lebih dalam. Ia menemukan data proyeksi dar berbagai media bahwa ada 229,4 juta pengguna internet Indonesia pada 12 Agustus 2025. AIa membaca bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental Gen Z melalui artikel pada 21 April 2025. Ia menemukan tulisan tentang aktivisme digital Gen Z (04 Mar 2025).
“Bu Hana benar,” gumamnya dalam hati. “Dunia digital ini kuat sekali dampaknya.” Ia mulai menyadari bahwa ruang digital memang memberi kemudahan. Di sana ia belajar cepat, menemukan wawasan baru, dan terkoneksi dengan dunia global. Namun, ia juga merasakan gelapnya tekanan algoritma, budaya validasi, komentar kasar, dan arus nilai yang menjauhkan manusia dari kedalaman berpikir.
Dialog tentang Aktivisme dan Arah Peradaban
Keesokan harinya di kelas, Rika kembali mendekati Bu Hana.
“Bu, kalau ruang digital tidak netral dan mudah menyeret kami pada nilai-nilai asing, apa yang harus kami lakukan?”
Bu Hana meletakkan buku di meja. “Pertama, kamu harus tahu bahwa generasimu punya potensi luar biasa. Aktivisme digital itu nyata, Ka. Ia bisa mengubah opini publik dalam hitungan jam. Tapi aktivitas itu perlu arah”.
“Arah?” ulang Rika.
“Iya,” kata Bu Hana. “Tanpa arah, aktivisme hanya jadi tren viral. Sesaat. Habis dengan cepat”.
Rika menunduk. Ia merasa benar. Banyak gerakan yang ia ikuti di media sosial terasa sibuk tetapi tidak menyentuh akar persoalan.
“Ruang digital dikuasai nilai sekuler kapitalistik,” lanjut Bu Hana. “Ia mempromosikan kecepatan, bukan kedalaman. Popularitas, bukan kebenaran. Itulah mengapa kalian perlu paradigma yang kokoh.”
Cahaya Hidayah: Paradigma yang Mengokohkan
Rika terdiam lama. Ia ingat ayat yang pernah ia pelajari di pesantren, “Maka berpeganglah kamu kepada apa yang diwahyukan kepadamu.” QS. Az-Zukhruf: 43
Ayat itu terasa menegurnya lembut.
“Ka,” suara Bu Hana kembali terdengar, “Rasulullah saw. bersabda bahwa umat tidak akan tersesat selama berpegang pada Al-Qur’an dan Sunah.” (HR. Tirmidzi No. 2664)
Rika mengangguk. “Berarti kami harus kembali pada cara pandang yang benar. Cara pandang Islam”.
“Betul,” sahut Bu Hana. “Mengubah paradigma sekuler menjadi paradigma Islam bukan berarti memusuhi teknologi. Justru Islam mengarahkan penggunaan teknologi agar membawa kemaslahatan, bukan kebingungan”.
Arah Baru Aktivisme Gen Z
“Lalu aktivisme kami harus bergerak ke mana, Bu?” tanya Rika.
“Ke arah perubahan sistemis,” jawab Bu Hana mantap. “Generasimu harus bergerak membawa gagasan yang mengakar. Islam mengajarkan amar makruf dan nahi munkar yang tidak hanya dilakukan individu, tetapi juga didukung masyarakat dan negara.”
Ia mengutip ayat, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” QS. Ali Imran: 104
Perjuangan perubahan bukan sekadar konten viral, tetapi arah ideologis yang menuntun langkah.
Sinergi untuk Menyelamatkan Generasi
Sebelum pulang, Bu Hana menutup percakapan mereka dengan lembut.
“Ka, generasimu tidak harus bertarung sendirian. Keluarga harus menanamkan aqidah. Masyarakat harus menumbuhkan lingkungan yang sehat. Negara harus menghadirkan kebijakan yang menjaga arah generasi.”
Rika merasakan sesuatu yang baru. Bukan beban, tetapi kesadaran.
“Jadi, tugas kami bukan sekadar mengikuti arus?”
“Bukan,” jawab Bu Hana. “Tugas kalian adalah menuntun arus.”
Rika tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, layar gawainya tidak lagi terasa menakutkan. Cahaya digital kini berpadu dengan cahaya hidayah. Dan dari perpaduan itulah ia memulai langkah barunya sebagai bagian dari generasi yang bergerak dengan arah, keberanian, dan keyakinan.






Leave a Reply