“Marriage Is Scary”: Ketakutan Menikah di Kalangan Generasi Z dalam Perspektif Sosiologi

Oleh:
H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag.
(Dosen Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Fenomena “Marriage Is Scary”, yaitu pernyataan bahwa pernikahan terasa menakutkan, kini menjadi narasi yang banyak beredar di media sosial, terutama di kalangan generasi muda.

Ungkapan ini bukan sekadar meme atau tren sesaat, tetapi mencerminkan perubahan sikap sosial yang lebih dalam terhadap institusi pernikahan sebagai salah satu tonggak kehidupan sosial.

Menurut studi yang dilakukan oleh Millatul Azizah et al. (2023), sekitar 83,2% responden generasi muda terpengaruh oleh konten “Marriage Is Scary”, terutama karena ketidakpastian emosional dan finansial yang diproyeksikan melalui media sosial. Ketakutan ini sering dikaitkan dengan kekhawatiran kehilangan kebebasan, ketidakstabilan ekonomi, serta gambaran konflik rumah tangga yang beredar luas di internet (Azizah et al., 2023).

Penelitian lain di Serang Baru, Bekasi juga menunjukkan fenomena serupa, yang memaparkan bahwa persepsi negatif terhadap pernikahan dipengaruhi oleh faktor struktural seperti ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, dan konsumsi media digital yang intens. Efeknya, generasi muda cenderung menunda menikah atau memilih pasangan dengan kriteria yang sangat tinggi (Purnomo & Sari, 2023).

Menurut Ruangguru (2024), media sosial menjadi arena utama di mana persepsi tentang pernikahan dibentuk dan dipercepat. Konsumsi konten yang terus-menerus menampilkan kisah kurang bahagia atau konflik pasangan membuat banyak orang merasa pernikahan lebih berisiko dibandingkan sebelum era digital.

Dalam perspektif konstruksi sosial, media sosial bukan hanya mencerminkan realitas, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas itu sendiri. Hal ini diperkuat oleh studi tentang konstruksi makna sosial, yang menunjukkan bagaimana pengalaman dan narasi kolektif membentuk persepsi kelompok (Kusnadi, 2022).

Anthony Giddens (1991) dalam teorinya tentang reflexive project of the self menjelaskan bahwa dalam modernitas tinggi, individu terus-menerus mengevaluasi dan menyusun ulang identitas serta pilihan hidupnya berdasarkan pengalaman dan informasi terbaru. Dalam konteks ini, narasi “Marriage Is Scary” bisa dilihat sebagai ekspresi dari kecemasan modern, orang merasa bahwa hubungan yang paling intim sekalipun membawa risiko yang tinggi secara emosional dan struktural.

Selain itu, penelitian oleh Saho & Kumar (2018) menunjukkan bahwa munculnya budaya individualistik dalam komunitas urban membuat banyak generasi muda memprioritaskan pencapaian pribadi, kesiapan finansial, dan pemenuhan aspirasi individu sebelum mempertimbangkan ikatan pernikahan.

Dari aspek gender, perempuan generasi Z seringkali terpapar narasi tentang pernikahan yang menekankan trade-off antara kebebasan pribadi dan komitmen domestik. Hal ini juga didukung oleh penelitian Demirtaş & Simsek (2021) yang menyatakan bahwa perempuan sering memandang pernikahan sebagai perubahan identitas sosial yang drastis, terutama dalam konteks peran tradisional yang masih kuat di banyak komunitas.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan individual, tetapi juga berdampak pada struktur sosial yang lebih luas, termasuk penurunan angka pernikahan nasional.

Data BPS 2024 menunjukkan bahwa angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan berkepanjangan sejak 2020, sementara usia menikah rata-rata terus meningkat, yang sebagian dipengaruhi oleh persepsi negatif dan ketidakpastian ekonomi.

Akibatnya, penurunan angka pernikahan dapat memengaruhi dinamika demografis dan struktur keluarga jangka panjang, memicu diskusi tentang perlunya pendidikan keluarga dan kebijakan pro-keluarga yang mampu menjawab kecemasan tersebut.

Fenomena “Marriage Is Scary” bukan sekadar gimmick generasi Z, tetapi sebuah gejala sosial yang mencerminkan ketidakpastian modern, baik secara ekonomi, emosional, maupun budaya.

Ketakutan terhadap pernikahan merupakan hasil interaksi antara pengalaman sosial nyata, tekanan ekonomi, dan paparan konten digital yang kuat dalam membentuk pandangan terhadap kehidupan perkawinan.

Tantangan ini mengajak kita untuk tidak hanya mengkritik tren tersebut, tetapi juga memahami akar sosialnya dan memperkuat pendidikan serta dialog yang dapat membantu generasi muda memandang pernikahan dengan keseimbangan antara realitas dan harapan.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven − 1 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam