Hidup dalam Kecemasan Digital: Fenomena FOMO dan Krisis Sosial Generasi Z

Oleh:
H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag.
(Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Generasi Z saat ini tidak luput dari penggunaan media sosial dengan intensitas tinggi setiap harinya. Hasil survei McKinsey (2023) menemukan bahwa 48% dari responden generasi Z sering mengakses media sosial. Persentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan generasi milenial, generasi X, dan baby boomers (Hura, dkk., 2021).

Di era ketika semua hal terjadi begitu cepat, generasi Z kini hidup dalam ketegangan baru yaitu takut tertinggal yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Fenomena FOMO ini bukan hanya istilah keren dari dunia digital, tetapi sudah menjadi realitas sosial yang membentuk cara generasi muda menilai dirinya, hidupnya, dan lingkungannya.

Sejumlah penelitian mengungkap bagaimana FOMO telah tumbuh menjadi gejala sosial berskala nasional. Riset Nurul Kamaly dkk. (2025) menunjukkan bahwa Generasi Z merasa tertekan untuk selalu mengikuti tren agar tetap “eksis” secara sosial.

Selain itu, Indah Permata Sari dkk. (2025) melakukan survei terhadap 538 responden usia 18-25 tahun di Kota Pekanbaru yang menemukan bahwa 24 persen di antaranya mengalami FOMO dalam kategori tinggi. Artinya, seperempat anak muda Indonesia hidup dengan kecemasan “takut tidak ikut ramai”.

Tekanan terbesar kemudian datang dari media sosial dimana etiap tren viral, deretan pencapaian teman, atau unggahan liburan seseorang dapat memicu perasaan tidak cukup hebat.

Penelitian Ilham Novendra & Dewita Karema (2025) menemukan ada korelasi yang positif dan berada pada tingkat hubungan yang sangat kuat antara intensitas bermain media sosial dengan tingkat FOMO. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sering membuka media sosial, maka semakin besar kecemasan tertinggal yang dirasakan.

Fenomena ini tidak berhenti di sektor psikologis, dunia ekonomi pun ikut menikmati dampaknya. Penelitian Moch. Diki Yulianto, dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO mendorong perilaku konsumtif, terutama pada promosi seperti flash sale, limited edition, atau “stok tinggal 1!”.

Bahkan, penelitian Riska Anisa Putri, dkk. (2025) menegaskan bahwa strategi pemasaran berbasis kelangkaan efektif memancing impulse buying karena memanfaatkan kecemasan tidak ingin ketinggalan barang yang diburu orang lain.

Di sinilah letak persoalannya, FOMO menciptakan generasi yang selalu ingin hadir, selalu ingin ikut, tapi pada saat yang sama rentan merasa kurang dan cemas. Mereka hidup dalam tekanan untuk menjadi bagian dari percakapan publik, meski harganya adalah ketenangan diri.

Analisis Sosiologis: Ketika Identitas Terbentuk oleh Tekanan Kolektif

Secara sosiologis, FOMO tumbuh karena mekanisme pengawasan sosial (social surveillance) yang terjadi di media sosial. Generasi muda selalu merasa “dilihat”, “dinilai”, dan “dibandingkan”, sebuah bentuk panoptikon digital yang membuat mereka terus mengawasi dirinya sendiri agar sesuai ekspektasi kelompok.

Fenomena ini juga terkait dengan teori identitas kolektif. Dalam masyarakat digital, identitas tidak lagi dibangun dari interaksi langsung, tetapi dari pengakuan (recognition) yang diberikan orang lain melalui likes, komentar, atau jumlah penonton. Ketika pengakuan ini tidak hadir, lahirlah kecemasan tertinggal.

Selain itu, budaya hiper-kompetitif yang lahir dari kapitalisme digital mendorong FOMO menjadi bagian dari habitus generasi Z. Mereka hidup dalam logika “yang cepat menang, yang viral bertahan”. Hal ini menyebabkan tekanan sosial untuk terus mengikuti arus, meski tidak selalu sejalan dengan kebutuhan atau nilai diri.

Secara struktural, FOMO adalah gambaran masyarakat yang bergerak terlalu cepat, sementara individu dipaksa menyesuaikan diri tanpa jeda.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Pertama, literasi digital harus diperluas, bukan hanya tentang keamanan digital, tetapi pemahaman bahwa dunia maya adalah konstruksi sosial, bukan realitas utuh.

Kedua, lembaga pendidikan dan keluarga perlu menciptakan ruang aman agar anak muda tidak menilai diri berdasarkan validasi digital.

Ketiga, pemerintah dan komunitas perlu memperkuat ruang interaksi nyata untuk menyeimbangkan hubungan antar manusia di luar layar.

Generasi muda tidak lemah, mereka hanya hidup di zaman yang terlalu riuh. Tugas kita sebagai masyarakat adalah memastikan bahwa mereka punya tempat untuk berhenti sejenak, berpikir jernih, dan mengenal diri tanpa tekanan untuk selalu mengikut arus.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 + 17 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam