“Marriage is Scary”, Bagaimana Pandangan Islam?
Oleh:
Tina Hartina, S.Sos.
Terasjabar.co – Fenomena marriage is scary belakangan ini ramai diperbincangkan, terutama di kalangan generasi muda. Di media sosial, khususnya Threads, topik tersebut mendapat respons besar.
Unggahan yang menyatakan bahwa anak muda kini lebih takut miskin daripada takut tidak menikah disukai lebih dari 12.500 pengguna dan dilihat ulang lebih dari 207.000 kali.
Antusiasme ini menunjukkan bahwa ketakutan untuk menikah bukan lagi kasus individual, tetapi telah menjadi kegelisahan sosial.
Mengapa Generasi Muda Takut Menikah?
Dr. Ike Herdiana, Psikolog dan Pakar Pemberdayaan Masyarakat Fakultas Psikologi UNAIR, menjelaskan bahwa turunnya angka pernikahan dipengaruhi oleh dua faktor utama:
- Meningkatnya pemberdayaan perempuan, dan
- Kondisi kemiskinan serta ketidakstabilan finansial (2024).
Sementara itu, menurut dr. Aisah Dahlan, penyebab ketakutan terhadap pernikahan antara lain:
- Takut berkomitmen seumur hidup.
- Takut kehilangan kebebasan.
- Kekhawatiran soal masa depan: finansial dan tanggung jawab keluarga.
- Trauma akibat kegagalan rumah tangga di lingkungan sekitar.
- Tekanan sosial serta ketakutan tidak memenuhi ekspektasi.
Dengan kata lain, ketakutan menikah tidak semata-mata karena takut miskin, tetapi merupakan kombinasi antara aspek psikologis, sosial, dan ekonomi.
Pandangan Islam terhadap Ketakutan Menikah
Dalam Islam, pernikahan merupakan ibadah sekaligus sunnah Rasulullah ﷺ yang membawa keberkahan dan ketenangan. Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya memandang bahwa marriage is scary.
Allah berfirman: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu… Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya”. (QS. An-Nur: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketakutan akan kemiskinan bukan alasan untuk menunda pernikahan. Islam menegaskan bahwa rezeki adalah urusan Allah, bukan semata tanggung jawab manusia.
Selain itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa saja yang meninggalkan harta, itu untuk ahli warisnya. Siapa saja yang meninggalkan kelemahan (tidak mampu dan tidak punya penanggung), itu menjadi tanggungan kami”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa dalam sistem pemerintahan Islam, negara bertanggung jawab menyediakan lapangan kerja dan menjamin kebutuhan rakyatnya, terutama yang tidak mampu. Karena itu, rasa aman finansial yang menjadi faktor ketakutan terbesar seharusnya dapat teratasi.
Sistem Kehidupan Saat Ini Menjadi Sumber Kekhawatiran
Namun realitas di negara kita berbeda. Sistem ekonomi kapitalis menjadikan rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar: kesehatan, pendidikan, perumahan, dan kesejahteraan. Lapangan pekerjaan terbatas, sementara biaya hidup terus meningkat. Maka wajar jika anak muda merasa menikah adalah beban berat, bukan jalan ketenangan.
Berbeda dengan itu, dalam pemerintahan Islam (Khilafah), kebutuhan publik seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, dan layanan sosial disediakan negara secara gratis.
Rasulullah ﷺ pernah mengirim dokter untuk mengobati rakyat tanpa biaya, sebagaimana tercatat dalam hadis riwayat Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Ketakutan generasi muda terhadap pernikahan merupakan dampak dari sistem kehidupan yang gagal memberikan jaminan kesejahteraan.
Islam memandang pernikahan sebagai sarana meraih ketenangan, keberkahan, dan perluasan rezeki, bukan sumber ketakutan. Karena itu, perbaikan perspektif harus dimulai dari pemahaman iman, serta dukungan sistem kehidupan yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Pernikahan bukanlah sesuatu yang menakutkan, yang menakutkan adalah hidup tanpa petunjuk Islam dan tanpa sistem yang menyejahterakan manusia. Marriage is not scary, but living far from Islam truly is.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.






Leave a Reply