Media Sosial Sebagai Institusi Baru: Analisis Sosiologis Perilaku Digital Gen Z

Oleh:
H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag.
(Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Generasi Z tumbuh dalam ekosistem digital yang tak pernah dinikmati generasi-generasi sebelum mereka. Gawai adalah perpanjangan tangan, media sosial adalah arena dunia sosial, dan internet merupakan ruang tempat mereka belajar, bekerja, berjejaring, sekaligus membangun identitas. Tidak mengherankan apabila berbagai survei menunjukkan durasi penggunaan media sosial Gen Z jauh lebih tinggi daripada kelompok lain.

Data dari YouGov Surveys dan YouGov Profiles (April-Mei 2025) menunjukkan bahwa 81% masyarakat Indonesia aktif menggunakan media sosial, dan kelompok yang paling mendominasi adalah Gen Z. Sebanyak 48% Gen Z menggunakan media 1-5 jam per hari, sedangkan sebagian lainnya bahkan menghabiskan waktu lebih lama. Platform yang paling sering mereka akses dalam sebulan terakhir adalah YouTube (78%), Instagram (75%), TikTok (65%), Facebook (47%), dan X (44%).

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Sejak kecil, Gen Z terbiasa dengan aliran informasi cepat, visual, dan instan. Paparan terus-menerus itu membentuk cara kerja otak dan cara mereka memandang dunia. Tidak hanya mencari hiburan, mereka datang ke media sosial untuk mendapatkan informasi, mengikuti tren, membangun identitas, bahkan memperjuangkan isu-isu sosial. Aktivisme digital bukan lagi aktivitas pinggiran, melainkan bagian dari lanskap politik partisipatif generasi muda.

Namun di balik itu, ada sisi lain yang perlu dicermati. Litbang Kompas (April 2025) menemukan bahwa 13,6% warga mengalami gangguan psikologis akibat penggunaan gawai berlebihan, seperti sulit konsentrasi, cemas, hingga gangguan tidur. Bahkan 5,17% responden mengaku enggan bersosialisasi, dan 39,6% mengalami gangguan fisik seperti kelelahan mata dan pola makan tidak teratur. Sementara itu, fenomena “brain rot”, penurunan fungsi berpikir akibat banjir konten cepat dan dangkal, mulai terlihat mengemuka di Indonesia dan ditegaskan oleh sejumlah pakar neurosains.

Baca JugaHidup dalam Kecemasan Digital: Fenomena FOMO dan Krisis Sosial Generasi Z

Dari perspektif sosiologi, penggunaan media sosial Gen Z tidak sekadar persoalan kebiasaan digital. Ia adalah cermin perubahan struktur sosial.

Pertama, media sosial kini berfungsi sebagai institusi sosial baru. Jika dulu identitas dibentuk melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan komunitas, kini media sosial mengambil alih sebagian besar peran itu. Validasi datang dari “like”, komentar, dan algoritma. Dalam kacamata interaksionisme simbolik, ini menciptakan realitas sosial baru: nilai diri diukur melalui atensi digital.

Kedua, kita memasuki masyarakat atensi (attention society), di mana perhatian adalah komoditas dan Gen Z adalah konsumen sekaligus produsen konten. Algoritma platform bekerja berdasarkan kecepatan, repetisi, dan rangsangan visual, bukan kedalaman. Karena itu, budaya digital Gen Z terbentuk dalam logika pasar atensi, semakin cepat, semakin viral, semakin berharga.

Ketiga, fenomena ini memperlihatkan pergeseran menuju individualisme digital. Hubungan sosial tidak lagi mengandalkan kedekatan fisik, melainkan keterhubungan simbolik. Interaksi lebih banyak terjadi di ruang daring, yang akhirnya menciptakan apa yang disebut Anthony Giddens sebagai “keintiman tanpa kedekatan”, hubungan intens, tetapi rapuh.

Keempat, ada ketimpangan pengetahuan digital yang perlu diwaspadai. Meski Gen Z sangat mahir menggunakan teknologi, tidak semua dibekali literasi kritis. Inilah yang menjelaskan mengapa tingkat kecemasan, distraksi, dan impulsif finansial meningkat pada generasi ini, mereka adalah digital native, tetapi bukan digital wise.

Gen Z bukan sekadar generasi baru; mereka adalah potret masa depan masyarakat Indonesia. Namun tanpa intervensi literasi digital yang kuat, mulai dari sekolah, keluarga, hingga kebijakan negara, kita bisa kehilangan arah dalam derasnya arus media sosial. Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan memahami bagaimana teknologi bekerja dan apa dampaknya bagi diri dan masyarakat.

Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “berapa jam Gen Z memakai media sosial”, tetapi, apakah masyarakat kita siap hidup dalam dunia yang dibentuk oleh algoritma?

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + 16 =