Indonesia Bukan Cuma Pulau Jawa: Menggugat Keadilan Sila Ke-Lima
Oleh:
Ghaida Najibah Annakhwah
(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Selama 79 tahun Indonesia merdeka, rasanya kata merdeka belum dirasakan sepenuhnya oleh saudara-saudara kita di tepian negeri. Selama gedung-gedung pencakar langit terus tumbuh di ibu kota, jembatan gantung di desaterpencil justru roboh karena tidak dibenahi. Ketimpangan ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan peringatan bagi lunturnya nilai-nilai Pancasila yang tidak diterapkan dengan sangat baik.
Ketika warga Jakarta sibuk memilih tempat untuk makan malam, saudara kita di pelosok Papua atau pedalaman Kalimantan masih harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai deras hanya untuk pulang dari sekolah. Mereka berjalan selama beberapa jam demi kebutuhannya dalam pendidikan, berbanding terbalik dengan kita yang ingin pergi ke mana-mana tinggal pesan ojek online atau naik angkutan umum. Pemerataan infrastruktur ini menunjukkan bahwa seharusnya daerah-daerah itu menjadi sorotan utama dibandingkan kota-kota besar lainnya.
Berdasarkan data BPS tahun 2025 pada bulan Maret, tingkat kemiskinan di Papua mencapai 19,16%, dibandingkan dengan Jakarta yang hanya 4,28%. Di daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) sering kali warganya merasa kesulitan untuk beraktivitas dikarenakan kurangnya fasilitas yang memadai. Pemerintah selalu mengabaikan kebutuhan dasar rakyat kecil di sana dan mengedepankan proyek-proyek besar seperti penebangan hutan yang mengakibatkan banjir besar seperti di daerah Sumatera. Hewan-hewan yang tinggal di hutan liar merasa kehilangan habitatnya sehingga mereka mencari tempat berlindung ke daerah pemukiman. Hal ini tentu merugikan banyak pihak termasuk keselamatan makhluk hidup yang tinggal di daerah terdampak.
Dalam sila kelima berbunyi bahwa ‘Keadilan Sosial bagi SELURUH Rakyat Indonesia’, bukan hanya untuk kota-kota besar saja. Kita melihat bahwa kota-kota besar difasilitasi dengan sangat banyak macam kebutuhan. Sementara di daerah-daerah kecil bahkan kebutuhan pangan pun mereka hanya mengandalkan hasil tanam mereka. Akses kesehatan dan pendidikan sangat terbatas sehingga para warga di daerah terpencil harus merasakan kesenjangan sosial.
Merujuk data BPS Maret 2024, tingkat kemiskinan di Provinsi Papua Pegunungan menembus angka 32,97%, ini merupakan angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kemewahan di kota-kota besar. Namun, keadilan bukan hanya tentang soal hukum, tetapi juga soal akses hidup yang layak. Mereka membayar pajak, mereka ikut serta dalam pemilihan, mereka berkontribusi atas kelangsungan negara, tetapi secara disadari fasilitasnya dibedakan sangat jauh. Seperti yang kita ketahui bahwa rasio guru berkualitas dan memiliki gelar di Jawa jauh lebih tinggi dibanding wilayah Timur. Sekolah berkualitas hanya tersedia di daerah Jawa, sedangkan murid luar Jawa harus merantau untuk kualitas yang setara.
Sayangnya, kita sudah banyak menyaksikan bahwa pemerintah banyak yang korupsi dan menggunakan pajak negara untuk kebutuhannya sendiri. Mereka tidak memikirkan bagaimana rakyat besarnya mengalami kemerosotan ekonomi. Mereka berbuat seolah mereka yang menciptakan, padahal kenyataannya menduduki jabatannya sebagai pemerintah pun merupakan hasil dari pemilihan. Seharusnya pemerintah bisa mengalokasikan perhatiannya kepada masyarakat di pelosok negeri supaya keadilan bisa tercipta atas bukti bahwa mereka menerapkan Pancasila sebagai ideologi negara.
Pemerintah harus memberikan anggaran yang merata bagi masyarakat di daerah terpencil, pembangunan harus Indonesia-sentris, bukan Jawa-sentris atau Kota-sentris. Pemerataan pembangunan harus efektif dan tidak boleh mengutamakan salah satu daerah. Dalam sila kelima ini, keadilan tidak dilahirkan sebagai pepatah, tetapi sebagai sistem. Jika pembangunan masih mengutamakan Pulau Jawa dan mengecilkan sisanya, maka kita belum merdeka dalam hal pemerataan. Jangan sampai sila kelima ini hanya menjadi dekorasi dinding di kantor pejabat, sementara rakyatnya harus mencari sesuap nasi dalam kegelapan.






Leave a Reply