Mewujudkan Generasi Emas atau Mengkhianati Sila Kelima? Kritik Konstruktif terhadap Program MBG

Oleh:
Rosita Kartika Dewi
(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Pendidikan yang berkualitas tidak hanya bergantung kepada kurikulum dan metode pembelajaran saja, tetapi juga pada faktor eksternal yang memengaruhi perkembangan kognitif dan fisik siswa. Salah satu faktornya adalah kecukupan gizi anak sekolah yang berperan dalam meningkatkan daya ingat, stamina, daya pikir, dan ketahanan belajar mereka (UNESCO, 2021). Asupan gizi yang seimbang memungkinkan siswa untuk lebih focus dalam proses pembelajaran, sehingga mereka dapat menyerap dan memahami materi dengan lebih efektif. Namun di Indonesia ketimpangan akses terhadap makanan bergizi masih menjadi tantangan serius yang berdampak langsung pada kualitas pendidikan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan yang di rancangkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran dalam meingkatkan kualitas kesehatan anak sekolah dan mendukung keberlajutan pemerintah. Program MBG bertujuan untuk mengatasi ketimpangan akses makanan bergizi. terutama bagi siswa dari keluarga yang kurang mampu. Berdasarkan laporan FA0 (2022), sekitar 45 juta anak di seluruh dunia mengalami malnutrisi yang berdampak langsung pada peforma akademik dan pertumubuhan fisik mereka. Di Indonesia, masalah stunting dan gizi buruk masih menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Data dari Kementrian Kesehatan RI (2023) menunjukkan bahwa angka stunting nasional mencapai 21,6%, yang berpengaruh terhadap perkembangan kognitif anak dan kemampuan mereka dalam menyerap atau memahami materi pelajaran.

Program MBG yang dirancangkan oleh pemerintah sejalan dengan sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Pemerintah berusaha memenuhi kebutuhan gizi secara merata kepada seluruh siswa mulai dari daerah-daerah terpencil hingga ke kota-kota tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi. Langkah pemerintah tersebut mencerminkan keadilan sosial yang merata karena semua siswa diperlakukan sama dan setara untuk mendapatkan kesejahteraan bersama.

Di tengah hiruk pikuk agenda pembangunan nasional Program Makan Gizi Gratis muncul sebagai janji politik paling ambisius yang secara filosopis merupakan perwujudan langsung sila kelima dan sejalan dengan sila kedua. Program ini diyakini sebagai investasi krusial sebagai perwujudan generasi emas 2045. Namun, seiring terkuaknya besaran anggaran yang fantanstis yang mencapai puluhan triliun rupiah niat menuju generasi emas 2045 tersebut kini dihadapkan pada dilema etika dan fiscal yang sangat tajam. Mampukah negara menjalankan program sebesar ini secara trasnparan dan akuntabel atau justru menciptakan ketidakadilan baru dengan memangkas anggaran kesehatan atau Pendidikan atau ironisnya mengkhianati sila kelima itu sendiri.

Berbagai kritikan itu muncul setelah Program MBG tersebut berjalan, karena ini berkaitan dengan keberlanjutan dan Kesehatan fiscal negara. Anggaran yang dibutuhkan dalam Program MBG ini tidak main-main bisa mencapai puluhan bahkan bisa menyentuh ratusan triliun rupiah per tahun. Ini menjadi sebuah pertanyaan darimana pemerintah mempunyai dana sebanyak itu. Secara resmi pemerintah cenderung menyatakan bahwa dana MBG didapatkan dari optimalisasi pendapatan negara dan efisiensi anggaran. Jika Program MBG secara umum memangkas program-program subsidi Pendidikan seperti dana pembangunan infrastruktur sekolah, dana rehabilitasi atau pemotongan target Program Indonesia Pintar (PIP) dan menyoroti pemotongan alokasi untuk tunjangan profesi guru. Lalu banyak masyarakat yang berkomentar bahwa Program MBG belum dilaksanakan di wilayah atau desa-desa yang terpencil ini memunculkan masalah baru seperti kesenjangan sosial.

Dari kritikan di atas memunculkan beberapa dampak negative dan melanggar sila kelima karena satu bentuk keadilan dipenuhi dengan merusak bentuk keadilan yang lain. Yang dimana jika Program MBG tersebut memang memotong Program Kartu Indonesia Pintar (PIP) ini akan menyebabkan peningkatan angka putus sekolah/kuliah, karena dana PIP dirancang untuk membantu siswa dari keluarga yang tidak mampu. Ini sangat melanggar sila kelima yang dimana seharusnya pemerataan dan keberpihakan kepada kelompok paling rentan, justru negara gagal bersikap adil karena memenuhi satu kebutuhan anak dengan merusak hak anak yang sama di sektor Pendidikan.

Kesimpulannya, Program Makanan Bergizi Gratis tujuannya sangat mulia yaitu ingin mengurangi kasus stunting dan mewujudkan investasi sumber daya manusia sebagai implementasi etis dari sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan langkah yang harus di apresiasi. Namun digarisbawahi bahwa niat mulia tersebut merupakan kebijakan yang sangat berisiko. Program MBG tidak hanya menghadapi tantangan logistic semata, tetapi juga dilemma fiscal mendalam dimana biaya yang mencapai puluhan triliun rupiah berpotensi besar merusak Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Sila Kelima). Pada akhirnya program ini akan menjadi penentu apakah bangs akita mampu mengimplementasikan Pancasila atau hanya sebagai formalitas politik untuk menutupi anggaran dan tata kelola.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + 10 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam