AS-Israel Serang Iran: Perspektif Sosiologis atas Eskalasi Konflik Global

Oleh:
H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag.
(Dosen Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Puncak eskalasi militer antara Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari 2026 bukan hanya merupakan peristiwa geopolitik biasa, itu adalah gejolak struktural yang mencerminkan dinamika kekuasaan, identitas kolektif, dan kontradiksi sosiopolitik global.

Serangan udara dan militer gabungan yang dilancarkan kedua negara terhadap Iran telah menandai babak baru yang jauh lebih berbahaya dalam konflik Timur Tengah, dengan implikasi sosial, budaya, dan psikologis yang mendalam, baik di kawasan maupun di seluruh dunia.

Konflik sebagai Manifestasi Hegemoni dan Ketidaksetaraan Global

Secara sosiologis, konflik ini muncul dari hubungan hierarkis antara negara-negara kuat dan negara-negara yang diposisikan sebagai ancaman atau “penentang tatanan global yang mapan”.

Israel, didukung oleh kekuatan militer dan diplomasi Amerika Serikat, menggunakan kekuatan militer untuk menetralisir apa yang mereka anggap sebagai ancaman strategis dari program nuklir Iran.

Perilaku agresif tersebut merupakan representasi modern hegemoni, di mana negara-negara besar menggunakan superioritas struktural mereka (militer, ekonomi, jaringan aliansi) untuk mengatur atau membatasi negara lain yang tidak tunduk pada struktur kekuasaan global yang mereka dominasi.

Bagi Iran, konflik ini diproduksi oleh sejarah panjang rivalitas, penentuan identitas nasional, dan konflik geopolitik yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Iran dipandang oleh sebagian besar negara hegemonik sebagai ancaman disruptif terhadap status quo yang diinginkan oleh Barat, meskipun klaim Iran terhadap program nuklirnya masih diperdebatkan.

Ketegangan ini bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi juga tentang legitimasi, narasi nasional, dan persepsi kolektif terhadap keamanan dan kedaulatan.

Kolektivitas, Identitas, dan Polarisasi Sosial

Kebijakan militer Israel dan AS terhadap Iran juga membuka luka-luka identitas kolektif yang telah lama terpendam. Di Israel, operasi bersama tersebut dipandang oleh banyak warga sebagai tindakan defensif untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa di tengah ancaman yang dirasakan dari Iran dan sekutunya di wilayah tersebut.

Dukungan dalam negeri Israel terhadap serangan ini, termasuk dari berbagai spektrum politik, memperlihatkan bagaimana narasi “keamanan nasional” mampu menyatukan masyarakat di bawah rasa ancaman eksternal.

Sementara itu, di Iran konflik ini memicu narasi perjuangan antikolonial dan anti-intervensi asing. Bagi banyak warga Iran dan negara-negara yang melihat konflik ini dari perspektif kemerdekaan dan kedaulatan, serangan Israel dan AS dilihat sebagai bentuk neo-imperialisme, yang mencederai rasa harga diri nasional dan menimbulkan solidaritas populis melawan kekuatan dominan global.

Dampak Sosial di Luar Garis Depan Perang

Dampak sosial dari konflik semacam ini tidak berhenti di garis depan. Konflik Israel–AS–Iran telah mengganggu hubungan internasional, pasar minyak dunia, dan bahkan mempengaruhi perasaan aman atau tidak aman masyarakat global.

Ketidakpastian ini mendorong ketidakstabilan psikologis, ketakutan akan konflik yang lebih besar, bahkan kekhawatiran tentang kemungkinan eskalasi menjadi skala global seperti yang pernah diprediksi beberapa pengamat.

Di sisi lain, ada juga reaksi sosial dari warga sipil di negara-negara seperti Amerika Serikat sendiri, yang menunjukkan adanya keretakan internal terhadap keputusan pemerintah untuk terlibat dalam konflik militer yang jauh dari tanah air mereka.

Protes dan aksi sosial yang menentang keterlibatan militer AS merupakan cerminan dari kompleksitas opini publik modern yang semakin kritis terhadap penggunaan kekerasan negara sebagai instrumen kebijakan luar negeri.

Konflik dan Diskursus Global tentang Perdamaian

Perang ini juga menciptakan percakapan sosio-kultural di berbagai lapisan masyarakat, tentang apa arti perdamaian, siapa yang berhak menentukan keamanan, dan bagaimana solidaritas internasional harus ditegakkan di era multipolaritas ini. Ketidaksetaraan dalam hak menentukan nasib sendiri antara negara-negara besar dan kecil melahirkan diskursus baru tentang keadilan internasional dan hubungannya dengan struktur kekuasaan global yang lebih luas.

Dari sudut pandang sosiologis, peperangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran lebih dari konflik militer geopolitik. Ia adalah pertarungan nilai-nilai, identitas nasional, dan struktur kekuasaan global yang saling bentrok, yang dampaknya telah melampaui wilayah geografis dan merasuk ke dalam struktur sosial, politik, dan budaya internasional.

Konflik ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang semakin terhubung, perang bukan hanya terjadi di medan pertempuran, tetapi juga dalam pikiran, narasi, dan relasi sosial antarbangsa.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × one =