Zulkifly Chaniago Dorong Pembenahan SDM sebagai Strategi Menekan Pengangguran Jabar
Terasjabar.co – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kembali meningkat di sejumlah sektor industri membuat banyak warga Jawa Barat harus memulai segalanya dari nol.
Situasi ini menunjukkan bahwa problem ketenagakerjaan di Jabar bukan hanya soal tersedianya lowongan, tetapi juga kualitas dan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan ekonomi yang cepat.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Demokrat, H. Zulkifly Chaniago, BE., menilai bahwa untuk menekan angka pengangguran secara nyata, pemerintah daerah perlu mengambil langkah yang lebih strategis dan berkelanjutan.
Menurutnya, Jawa Barat tidak bisa hanya mengandalkan ekspansi industri atau investasi baru, tetapi harus memperkuat kualitas sumber daya manusianya sejak dari hulu.
“Penurunan pengangguran tidak bisa dicapai hanya dengan membuka lapangan kerja baru. Kuncinya adalah menyiapkan SDM yang benar-benar relevan dengan kebutuhan zaman,” tegas Zulkifly kepada Terasjabar.co.
Ia menjelaskan bahwa tantangan hari ini lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Transformasi digital, perubahan struktur industri, hingga tren otomatisasi membuat banyak pekerjaan lama hilang, sementara pekerjaan baru membutuhkan keterampilan yang berbeda.
Di tengah kondisi seperti itu, pekerja yang terdampak PHK sering kesulitan bersaing ulang di pasar kerja karena gap kompetensi. Karena itu, Zulkifly menekankan tiga langkah strategis yang harus menjadi prioritas Pemprov Jabar:
- Pertama, perombakan kurikulum pendidikan dan vokasi agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. Menurutnya, sekolah dan kampus harus menyiapkan lulusan yang adaptif, bukan sekadar memahami teori.
- Kedua, revitalisasi balai latihan kerja (BLK) agar pelatihan kompetensi tidak tertinggal dari perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor usaha. Banyak BLK dinilai masih memberikan pelatihan konvensional yang kurang diminati industri.
- Ketiga, penguatan UMKM sebagai penyangga utama ekonomi lokal. Dengan semakin kokohnya UMKM, peluang kerja di tingkat akar rumput dapat bertahan meski industri besar tengah sulit.
“Ketahanan ekonomi daerah sangat bergantung pada kekuatan pelaku usaha lokal. Bila UMKM hidup dan SDM-nya berkualitas, maka lapangan pekerjaan akan terbuka dengan sendirinya,” jelasnya.
Zulkifly menegaskan bahwa arah kebijakan semacam ini adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya menekan pengangguran, tetapi juga mempersiapkan Jabar menghadapi disrupsi ekonomi global yang tak terhindarkan.
Dengan penduduk usia produktif yang begitu besar, Jabar memiliki modal besar untuk melesat. Namun tanpa kualitas SDM yang memadai, bonus demografi itu justru bisa berubah menjadi beban.
“Tugas kita memastikan setiap warga memiliki kesempatan meningkatkan keterampilannya. Di situlah masa depan ekonomi Jawa Barat ditentukan,” pungkasnya.






Leave a Reply