KDM Batasi Truk Pengangkut Air, Jawa Barat Diharapkan Lebih Tertib dan Segar
Oleh:
Muhamad Khoirul Kalam
(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pelita Bangsa)
Terasjabar.co – Polemik terkait inspeksi mendadak (sidak) Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), ke pabrik air mineral Aqua terus berlanjut. Setelah sebelumnya menyoroti kemurnian sumber air, kini KDM memperhatikan proses distribusi air dari pabrik menuju konsumen.
Temuan ini bermula saat KDM berbincang dengan seorang sopir truk pengangkut air galon yang kelebihan muatan. Truk tersebut memuat sekitar 15 ton air, padahal aturan hanya membolehkan maksimal 5 ton. Dari percakapan itu, diketahui sang sopir hanya menerima upah Rp125 ribu untuk sekali perjalanan.
Menanggapi hal itu, KDM langsung memerintahkan stafnya untuk menyiapkan peraturan baru. “Om, siapkan peraturan gubernur. Pengangkutan air mineral di seluruh Jawa Barat harus menggunakan mobil engkel,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Menurut KDM, aturan ini diharapkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja. Dengan penggunaan mobil berukuran lebih kecil, jumlah armada otomatis bertambah sehingga membuka lapangan kerja baru bagi sopir. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mampu menekan praktik kendaraan over dimension over loading (ODOL), yang selama ini menjadi penyebab kemacetan dan kerusakan jalan.
Namun, kebijakan tersebut menuai pro dan kontra, terutama dari kalangan pengusaha air mineral. Pihak Aqua disebut sempat mengajukan negosiasi agar kebijakan itu dibatalkan dengan menawarkan bantuan senilai Rp1 miliar. Tawaran tersebut ditolak tegas oleh KDM.
“Uang Rp1 miliar tidak cukup untuk memperbaiki kerusakan jalan yang mereka buat. Setengah kilometer pun tidak selesai. Negara bisa memberi Rp3 triliun, tapi kalau mengutip Rp1 miliar dari swasta justru mencederai integritasnya,” tegas KDM.
Pada akhirnya, kebijakan pembatasan truk pengangkut air di Jawa Barat membuka pandangan tentang bagaimana hukum bekerja dalam kehidupan sosial. Sebab hukum yang hidup bukan sekadar tertulis di atas kertas, melainkan hadir dan dirasakan bersama denyut kehidupan masyarakat.






Leave a Reply