SDM dan AI di Era Human Society 2.0
Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Prodi Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan Ketua Umum MES Kota Bandung)
Terasjabar.co – Beberapa tahun lalu, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terdengar seperti dongeng teknologi. Kini, hadir di genggaman kita setiap hari. Dari rekomendasi film di Netflix, fitur navigasi Google Maps, hingga chatbot layanan pelanggan, AI menjadi “mesin sunyi” yang bekerja tanpa kita sadari.
Di balik kecanggihannya, ada pertanyaan yang lebih besar, ‘apa artinya bagi manusia? Bagaimana nasib sumber daya manusia (SDM) ketika perusahaan-perusahaan mulai gencar berinvestasi pada AI? Ketika kecerdasan buatan (AI) masuk ke dunia kerja, apakah manusia akan tergantikan? Jawabannya: tentu tidak sepenuhnya. AI memang mampu mengotomatisasi pekerjaan rutin, tetapi manusia tetap punya keunggulan, kreativitas, empati, dan intuisi.
Artificial Intelligence (AI) kini menjadi kata kunci dalam percakapan bisnis, pendidikan, hingga kehidupan sehari-hari. Laporan World Economic Forum (2024) menyebutkan bahwa sekitar 85 juta pekerjaan berpotensi hilang karena otomatisasi, namun pada saat yang sama, 97 juta jenis pekerjaan baru akan tercipta.
Artinya, AI bukan hanya menghapus, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru. Pekerjaan rutin yang repetitif bisa dialihkan ke mesin, sementara manusia difokuskan pada hal-hal yang lebih strategis yakni kreativitas, inovasi, dan pengambilan keputusan. Perusahaan-perusahaan besar sudah menganggap AI sebagai “mesin percepatan”. Namun, mesin tidak akan berarti apa-apa tanpa manusia yang bisa mengendalikannya.
Di sinilah SDM menjadi pusat dari semua investasi. Sosiolog menyebut fenomena ini sebagai “society 2.0”, masyarakat yang hidup berdampingan dengan mesin pintar. Psikolog menyebutnya penuh ambivalensi, ada rasa takut kehilangan pekerjaan, tetapi juga peluang pekerjaan baru yang lebih menantang.
Secara filosofis, kita juga diingatkan untuk tidak menuhankan teknologi. AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti martabat manusia. Maka, perusahaan yang cerdas akan berinvestasi ganda, teknologi sekaligus peningkatan kapasitas SDM.
Investasi SDM dan AI yang akan melahirkan masa depan, dimana manusia dan mesin berkolaborasi, bukan bersaing, dan yang menentukan bukan seberapa pintar AI, tetapi seberapa bijak manusia memanfaatkannya.
Di sinilah teori Human Capital 2.0 menemukan relevansinya, bahwa nilai SDM tidak lagi terletak pada keterampilan teknis semata, tetapi pada kemampuan adaptasi, empati, kreativitas, dan kolaborasi
AI Bukan Ancaman, Tapi Akselerator
Di ruang rapat perusahaan global, AI bukan lagi wacana futuristik, melainkan strategi bisnis nyata. Amazon, misalnya, menggunakan AI untuk mengatur rantai pasokan. Di Indonesia, Tokopedia dan Shopee memanfaatkan algoritma untuk menata jutaan produk agar pembeli menemukan barang yang sesuai dalam hitungan detik.
Contoh sederhana adalah layanan perbankan syariah kini mulai menguji coba AI advisory system untuk memberi rekomendasi investasi halal kepada nasabah. Bagi bank, tentu ini efisiensi. Dan bagi karyawan, menjadi peluang untuk mempelajari keahlian baru dalam fintech syariah.
Relasi Baru Manusia-Mesin
Fenomena sosial yang lahir dari AI sangat menarik. Para sosiolog menyampaikan bahwa kita tengah memasuki fase Human Society 2.0, dimana manusia bekerja berdampingan dengan mesin pintar. Fenomena ini tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga struktur sosial.
Lihatlah pengemudi ojek online, mereka tidak lagi menunggu penumpang di pangkalan. Algoritma yang memutuskan siapa dapat order, berapa tarifnya, dan kapan jam sibuk. Sosiolog menyebut sebagai lahirnya platform society, yakni masyarakat yang kehidupannya dipandu algoritma.
Bagi sebagian orang, ini peluang efisiensi. Tapi bagi yang belum melek digital, maka risiko terpinggirkan semakin besar. Pekerjaan bukan lagi sekadar mengandalkan otot dan keterampilan manual, tetapi keterampilan digital dan literasi teknologi.
Hal lainnya, kita bisa melihat dalam platform economy seperti Gojek, Grab, atau Shopee. Di sana, algoritma AI bukan sekadar alat, tetapi pengatur relasi kerja, siapa lebih cepat dilihat pembeli, bukan lagi atasan manusia, tetapi mesin. Hal ini memunculkan peluang sekaligus risiko. Peluangnya, dapat terjadi efisiensi, transparansi, dan pasar tanpa batas. Resikonya adalah terjadi ketimpangan antara mereka yang mampu beradaptasi dengan AI dan mereka yang tertinggal dalam literasi digital.
Dimensi Psikologis: Antara Optimisme dan Kecemasan
“Kalau semua serba AI, apa saya masih dibutuhkan?” Pertanyaan ini makin sering muncul di kalangan pekerja. Psikologi kerja menemukan fenomena menarik yang disebut technostress
yaitu stres akibat berinteraksi dengan teknologi baru. Banyak pekerja merasa cemas, takut tergantikan, bahkan lelah dengan perubahan yang terus-menerus.
Namun, cerita berbeda datang dari Bandung. Ada seorang desainer grafis muda memanfaatkan AI image generator untuk mempercepat proses ilustrasi. Jika dulu butuh waktu tiga hari membuat konsep, kini hanya hitungan jam. “AI bukan menggantikan saya,” ujarnya, “tapi membuat saya bisa fokus pada ide, bukan hanya teknis.”
AI juga melahirkan optimisme baru. Pekerja bisa terbebas dari rutinitas membosankan dan lebih fokus pada pekerjaan bermakna. Anak muda yang akrab dengan teknologi justru menemukan peluang bisnis baru, mulai dari AI-driven content creation hingga analisis data untuk UMKM.
Artinya, investasi AI harus diiringi dengan investasi kesehatan mental dan pelatihan SDM. Perusahaan yang bijak akan memastikan karyawannya tidak hanya resilient, tetapi juga memiliki growth mindset, mentalitas untuk terus belajar dan tumbuh di tengah perubahan.
Filsafat dan Etika: Manusia versus Mesin
Dalam pandangan filsafat, AI menimbulkan pertanyaan mendasar: jika mesin bisa berpikir, apa yang membedakan manusia dengan mesin? Jawabannya ada pada kesadaran, nilai, dan etika. Mesin bisa menghitung, tetapi tidak bisa merasakan. Mesin bisa memprediksi, tetapi tidak bisa memberi makna. Karena itu, filsuf kontemporer mengingatkan bahwa AI hanyalah instrumental reason, sebagai alat bantu rasional, bukan subjek otonom. Jika tidak berhati-hati, investasi AI bisa melahirkan dehumanisasi, bahwa manusia diperlakukan sekadar data, angka, dan algoritma.
Di sinilah pentingnya AI ethics, yakni prinsip etika dalam menggunakan AI, agar teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan. Tanpa etika, AI bisa menjadi bumerang. Bayangkan jika algoritma rekrutmen ternyata bias terhadap gender atau latar belakang tertentu. Atau jika robot perawatan kesehatan mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan empati. Investasi masa depan bukan hanya soal perangkat keras, tetapi juga soal menjaga kemanusiaan di tengah mesin.
Strategi Investasi: SDM – AI Co-Creation
Lalu bagaimana seharusnya perusahaan atau lembaga bergerak? Ada beberapa langkah strategis yang bisa di jalankan:
- Upskilling dan Reskilling: Bukan hanya programmer yang butuh belajar AI. Petani bisa menggunakan AI untuk prediksi cuaca, guru bisa memakai AI untuk personalized learning, dan pegawai administrasi bisa memakai AI untuk otomatisasi laporan.
- Tata Kelola Berbasis AI: Beberapa bank di Eropa menggunakan AI untuk mencegah pencucian uang. Di Indonesia, potensi besar ada pada tata kelola zakat dan wakaf, dimana AI dapat memetakan kebutuhan mustahik agar distribusi lebih tepat sasaran.
- Kolaborasi Interdisipliner: Investasi AI tidak cukup hanya melibatkan insinyur. Diperlukan pula psikolog, sosiolog, ekonom, dan ahli etika untuk memastikan teknologi memberi manfaat luas.
- Kebijakan Inklusif: AI jangan hanya dinikmati kelas menengah perkotaan. UMKM di desa pun harus mendapat akses pelatihan digital. Pemerintah, perguruan tinggi, dan perusahaan perlu bergandengan tangan dalam hal ini.
Masa Depan: Human Society 2.0
Era Human Society 2.0 bukanlah tentang mesin menggantikan manusia, melainkan tentang kolaborasi manusia-mesin. Sejarah membuktikan, setiap revolusi teknologi memang selalu menimbulkan ketakutan.
Mesin uap dulu ditentang, komputer pernah dianggap ancaman, internet sempat dicurigai. Namun pada akhirnya, teknologi justru melahirkan peluang baru yang tak terbayangkan sebelumnya.
AI adalah babak terbaru perjalanan. Setiap Perusahaan, lembaga, dan korporasi yang mampu tidak hanya berinvestasi pada perangkat AI saja, tetapi juga pada SDM, karena manusia tidak lagi dipandang bersaing dengan mesin, melainkan berkolaborasi menciptakan nilai.
Perusahaan yang gagal membaca arah akan tertinggal, sementara yang berinvestasi dalam “SDM dan AI” akan menjadi pelaku utama di panggung global. Dan akhirnya, masa depan bukan ditentukan oleh seberapa pintar mesin kita, melainkan oleh seberapa bijak manusia menggunakannya.
Wallahu a’lam





Leave a Reply