Setumpuk Kemelut yang Mengiringi 80 Tahun Indonesia
Oleh:
Feni Rosfiani
(Aktivis Dakwah)
Terasjabar.co – Bulan Agustus setiap tahunnya sudah menjadi tradisi untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Bukan disambut dengan kabar-kabar baik, tetapi malah diiringi dengan kabar buruk dan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat. Tak hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Seperti di bidang ekonomi, para pedagang mengeluhkan omset mereka yang turun drastis. Hal ini terjadi bukan karena faktor persaingan atau harga yang terlalu tinggi, tetapi karena daya beli masyarakat yang cenderung menurun. Baik itu pedagang offline maupun online. Tentu fenomena ini terjadi kepada kaum ekonomi menengah ke bawah.
Seperti dilansir dari sumber Tirto.id (7/8/2025), Jumlah kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan. Hasil dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan dari 57,33 juta orang pada tahun 2019 menjadi 47,85 juta orang pada tahun 2024. Berarti angka ini menunjukan sebanyak 9,48 juta orang Indonesia turun kasta dari kelompok kelas menengah. Kelas menengah juga rentan mengalami PHK (Pemutusan hubungan Kerja) oleh perusahaan tempatnya bekerja. Terutama yang bergerak dibidang tekstil, lebih dari 1 juta orang terkena dampak PHK tersebut. Sehingga makin melemahlah daya beli masyarakat. Jangankan untuk menabung, untuk memenuhi kebutuhan pokok nya pun dengan bersusah payah.
Makna kemerdekaan yang seharusnya “terbebas” dari segala permasalah seakan hanya impian semu. Memang betul kita telah merdeka dari penjajahan secara fisik, tetapi tidak dengan pemikiran. Justru yang dirasakan oleh masyarakat setiap harinya hanya kesengsaraan saja yang diberikan negara. Bukan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Perhelatan Akbar setiap tanggal 17 Agustus, hanya sebatas euphoria semata. Makna kemerdekaan yang sesungguhnya adalah rakyat dapat sejahtera, terpenuhi segala kebutuhannya, mendapatkan pekerjaan yang layak, pendidikan gratis, kesehatan gratis dan lainnya. Semua itu tidak akan pernah terwujud jika sistem yang diemban saat ini adalah Kapitalisme sekularisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Kemerdekaan juga dapat diraih jika seluruh masyarakatnya berpola fikir Islam. Tidak dicekoki oleh pemikiran-pemikiran sekuler. Upaya pemerintah dalam menciptakan kerukunan beragama misalnya, dengan upaya diadakannya deklarasi damai, tidak akan efektif dilakukan karena tetap saja terjadi hal-hal yang menyimpang yang tidak sesuai syariat Islam. Di zaman Kapitalisme seperti ini dilihat dari faktanya ternyata yang kaya akan semakin kaya dan sebaliknya yang miskin semakin miskin. Hanya orang-orang yang berada di “atas” yang menikmati kehidupan yang layak.
Untuk meraih kemerdekaan yang hakiki, sejatinya seluruh umat harus diberikan kesejahteraan dalam segala hal. Keniscayaan ini hanya akan terwujud dengan tegaknya Daulah Islam di seluruh dunia. Hanya dengan aturan Islamlah manusia akan mendapat keadilan dalam setiap aspek kehidupan. Bahkan warga non-muslim pun akan merasakannya bukan hanya untuk kaum muslim saja. Dengan adanya daulah Islam, rakyat akan terpenuhi segala kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan yang banyak, gaji yang layak, kesehatan gratis, hunian gratis, bebas pajak, dan masih banyak lagi. Tidak akan ada lagi adanya kesenjangan sosial. Semua umat mendapatkan hak yang sama tanpa terkecuali. Sehingga para penerus generasi akan mendapat pendidikan Islam yang akan melahirkan pemuda-pemudi yang mempunyai pemikiran cemerlang, tidak mudah dibodohi oleh para oknum. Maka makna kemerdekaan dalam kamus besar bahasa Indonesia benar-benar terealisasikan, yaitu bebas dari penghambaan,bebas dari tekanan & bebas dari penjajah. Daulah Islam akan senantiasa amanah dalam setiap tugasnya. Sehingga tidak akan lagi kita temukan penyelewengan lagi. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama berjuang dan berdoa agar Daulah Islam akan segera tegak kembali ke muka bumi ini.
Wallahualam bissawab






Leave a Reply