Jurnalis Fatima Bukanlah yang Pertama, Kejahatan Zionis Harus Segera Dihentikan Dunia!
Oleh:
Nunung Nurhayati
(Ibu Rumah Tangga, Aktivis Muslimah)
Terasjabar.co – “Jika saya meninggal, saya ingin kematian saya menggema dan tak sekadar menjadi angka. Saya ingin kematian yang didengar dunia, dampak yang bertahan lama, dan gambar abadi yang tak terkubur oleh ruang dan waktu,” (Fatima Hassouna).
Jurnalis foto yang pernah viral karena menulis pesan menyentuh sebagai bentuk dukungan untuk Gaza, Fatima Hassouna, tewas dalam serangan brutal Israel. Kementerian Kesehatan di Gaza pada Jumat (18/4/2025) menyatakan Fatima tewas bersama tujuh anggota keluarganya di kediaman mereka di Jalan Al Nafaq, Kota Gaza (cnnindonesia.com, 19/4/2025).
Fatima Hassouna bukanlah jurnalis tewas yang pertama. Sebelumnya, ratusan rekan seprofesinya telah meregang nyawa demi mengabarkan situasi dan kondisi Gaza kepada dunia. Terhitung sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, sekitar 212 jurnalis Palestina telah terbunuh, sebagian besar akibat serangan udara langsung, menurut data dari Pusat Perlindungan Jurnalis Palestina (Gaza media, 22/4/2025).
Penjajah Zionis kian menunjukkan kebrutalannya. Kecaman dunia tak mampu mengusik hati nuraninya. Hukum internasional pun tak cukup kuat mengadili kejahatan perang zionis yang setiap saat dikabarkan kepada dunia.
Padahal Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) No. 2222 menegaskan pentingnya perlindungan terhadap jurnalis dalam konflik bersenjata. Namun di Gaza, semua itu hanyalah untaian kata-kata. Tak satu pun ketentuan internasional bertahan eksistensinya disana.

Disisi lain, para Penguasa Muslim hanya mampu mengecamnya saja. Mereka terantai oleh sekat warisan penjajah yang disebut nasionalisme. Tak leluasa bergerak, keluar dari pagar nasional wilayah tempatnya berdiam.
Fatima Hassouna, seharusnya mampu menjadi jurnalis terakhir yang menjadi korban kejahatan perang Zionis Israel. Sebagai umat Islam, Allah SWT memerintahkan untuk berjihad melawan kebathilan. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah Saw bersabda; “Jika di antara kamu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak cukup kuat untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih belum cukup kuat, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya iman.”
Kecaman yang terucap dari lisan tak mampu membuat Zionis gemetar. Apalagi hati yang hanya condong tanpa memberikan reaksi? Tangan, merupakan simbol kekuasaan yang dimana hanya dimiliki para Penguasa bertahta yang akan mampu mengubah keadaan di Palestina. Jihad, melawan lagi penjajah Zionis dengan kekuatan merupakan bantuan kepada Palestina yang sebenar-benarnya.
Namun selama umat dan para Penguasa Muslim masih menjadikan nasionalisme asas dalam bernegara, maka jihad pun tak akan mampu diserukan untuk menghentikan kebrutalan Zionis terhadap Palestina. Umat Islam dan para Penguasa Muslim harus mencampakkan nasionalisme seluruhnya. Kemudian membentuk satu kepemimpinan global yakni Khilafah yang telah terbukti selama 14 abad lamanya melindungi hak-hak setiap manusia.
Umat Islam wajib menyeru seluruh Muslim di dunia dengan seruan yang sama, yakni jihad dan khilafah demi mewujudkan persatuan umat Islam setelah terpecah menjadi beberapa negara bagian serta menegakkan keadilan yang sebenarnya. Umat Islam harus saling mengingatkan akan kewajiban tolong menolong didalam kebaikan dan kebenaran. Kemudian menghadirkan kesadaran untuk segera membentuk kekuatan global yang akan membuat penjajahan Zionis selesai.
Pergerakan umat ini harus terarah dan terpimpin. Jamaah dakwah ideologis merupakan kandidat tepat untuk memimpin gerak umat ini. Mereka, terus bergerak dengan mengerahkan seluruh kemampuannya agar persatuan umat terwujud dan berjuang bersama menegakkan Khilafah agar persoalan umat termasuk Palestina terselesaikan dan penjajah Zionis terhapuskan.
Hanya dengan persatuan umat dibawah satu kepemimpinan (Khilafah) yang akan mewujudkan kekuatan dunia yang sesungguhnya. Dengan adanya Khilafah, dunia tak akan hanya menjadi saksi krisis kemanusiaan yang terjadi. Setiap ketidakadilan di tanah Gaza, bahkan seluruh dunia akan mampu dihentikan dalam satu komando saja. Sehingga euforia kehidupan Islam yang sesuai dengan kehendak Sang Pembuat Seluruh Alam dunia ini akan mampu kembali ditengah-tengah umat manusia dan berkahnya akan terpancar dari atas langit dan dari dalam bumi. Allahu’alam bishshowab.






Leave a Reply