Lontar Jumrah: Simbol Perlawanan Terhadap Godaan
Oleh:
Dr. H. Irwandi, S.Sos., SE., M.Ag.
(Petugas Haji Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2024)
Terasjabar.co – Salah satu rangkaian ibadah penting dalam pelaksanaan haji adalah melontar jumrah. Ritual ini dilakukan oleh para jemaah haji dengan melemparkan batu kerikil ke tiga tiang jumrah di Mina, sebagai bentuk simbolis dari penolakan dan perlawanan terhadap godaan setan.
Melontar jumrah tidak hanya sebuah aktivitas fisik, melainkan mengandung nilai spiritual yang sangat dalam. Tindakan ini meneladani peristiwa ketika Nabi Ibrahim AS digoda setan di tiga tempat saat hendak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Di setiap tempat itu, Nabi Ibrahim melempar setan dengan batu kerikil sebagai tanda penolakan dan keteguhan iman.
Dalam pelaksanaannya, para jemaah melemparkan tujuh batu kecil ke setiap jumrah: Jumrah Ula (pertama), Jumrah Wustha (tengah), dan Jumrah Aqabah (terakhir).
Melontar jumrah dimulai pada tanggal 10 Zulhijjah (Iduladha), yang dikenal dengan lontar Jumrah Aqabah, kemudian dilanjutkan pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah) dengan melontar ketiga jumrah.

Ritual lontar jumrah menggambarkan perjuangan manusia dalam menolak bisikan dan bujukan setan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap lemparan batu menjadi simbol keteguhan hati untuk tidak tergoda oleh hawa nafsu, kezaliman, kesombongan, dan segala bentuk kejahatan.
Batu-batu kecil yang dilemparkan itu seakan menjadi pernyataan tegas: “Aku menolak godaanmu, wahai setan!”
Lontar jumrah mengajarkan bahwa perjuangan melawan keburukan tidak hanya terjadi sekali, tetapi harus dilakukan secara terus-menerus. Setiap manusia pasti menghadapi godaan dalam berbagai bentuk, baik itu dalam bentuk keserakahan, amarah, kemalasan, maupun keputusasaan.
Dengan memahami makna lontar jumrah, setiap Muslim diajak untuk melakukan perlawanan aktif terhadap segala bentuk kemungkaran dalam dirinya. Bukan hanya saat berhaji, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Lontar jumrah bukanlah sekadar ritual melempar batu, tetapi merupakan pelajaran besar tentang keimanan, keteguhan hati, dan perjuangan spiritual. Ibadah ini mengajarkan bahwa hidup adalah medan ujian yang menuntut ketegasan sikap terhadap godaan yang datang dari luar maupun dari dalam diri sendiri.
Semoga semangat melontar jumrah menginspirasi kita semua untuk senantiasa melawan godaan dan terus berupaya menjadi insan yang lebih baik.





Leave a Reply