Wisata Mikro Edukasi Keluarga
Oleh:
Sadikun Citrarusmana
(Dosen Manajemen FEB Universitas Pasundan)
Terasjabar.co – Bentuk wisata yang ditawarkan oleh peyedia jasa layanan pariwisata berkembang sesuai dengan perilaku pengunjungnya. Pasca covid 2019 yang berdurasi sekitar empat tahun kejutan dirasakan karena masyarakat merasa kehilangan pola kegiatan rutin, yaitu berlibur dan berwisata. Saat ini penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keamanan kesehatan. Ada kekhawatiran virus copid masih tersebar, atau kemungkinan muncul virus yang baru, seperti cacar monyet.
Penyedia layanan wisata saat ini merubah konsep produknya dari wisata besar ke wisata mikro. Mereka tidak lagi mengandalkan lanskap yang luas dengan ukuran besar, tapi lebih berorientasi ke hal-hal yang kecil namun tetap mengandalkan bauran wisata yang komprehensif. Wisata mikro merupakan sebuah bentuk wisata yang berkelanjutan dan bertanggungjawab yang fokus pada skala kecil. Sebuah konsep wisata yang berbasis pada pengalaman masyarakat lokal atau sekitar wilayah wisata.
Wisata mikro umumnya melibatkan aktivitas kunjungan dan menginap sebagai rangkaian terpadu dari suatu proses mencari kepuasan atau tujuan healing. Kelompok kecil komunitas atau suatu keluarga melakukan kunjungan wisata dan menikmati suasana budaya lokal (culture estate). Di Bandung misalnya, Saung Angklung Udjo bisa dijadikan model wisata mikro. Di kawasan wisata terbatas itu terdapat lingkungan yng berkarakter ke-Sundaan. Ada bangunan joglo, musik angklung dan seni Sunda lainnya, makanan dan etika adat lainnya. Bahkan bisa disediakan ruang untuk menginap dengan suasana etnik khas Jawa Barat.
Dalam skala yang lebih kecil, pengusaha wisata mikro bisa memanfaatkan lahan terbatas untuk menyediakan fasilitas bermain keluarga, terutama anak-anak. Di kawasan yang terpadu, keluarga bisa beristirahat sambil makan siang dan anak-anak bermain dalam lingkungan aman dan nyaman. Keluarga bisa terlibat dalam berbagai aktivitas masyarakat setempat. Mengurus ternak, membedah kolam untuk menangkap ikan, makan di sawah, dan lain-lainnya semua merupakan bagian dari kegiatan wisata mikro. Semua itu terbentuk karena adanya penyatuan emosi antara pengunjung dengan komunitas setempat.
Sebuah lokasi wisata di Bulukamba memanfaatkan potensi iklim lingkungan sekitar dengan kekuatan arsitektur Bioklimatik. Arsitektur ini mengacu faktor-faktor iklim seperti radiasi matahari yang menghasilkan temperatur tinggi atau rendah, kelembaban udara dan orientasi arah angin.
Sering terjadinya gempa bumi di kawasan pesisir laut bisa menjadi bagian dari ekosistem wisata mikro. Bagi banyak orang gempa bumi atau tsunami merupakan bencana yang berbahaya, dan harus dihindari untuk tidak terjadi lagi. Tapi ada sekelompok masyarakt tertentu yang menjadikan peristiwa bencana alam sebagai potensi wisata. Gunung Merapi di Jawa Tengah merupakan gunung api aktif yang setiap saat bisa menghamburkan lahar panas atau dingin yang membahayakan. Bagi mereka peristiwa meneltusnya gunung berapi dan semua proses dan akibat yang ditimbulkannya merupakan potensi wisata. Bermunculan lah jasa wisata penyediaan mengantar turis, menyediakan kendaraan khusus ke gunung, menyewakan teropong dan tenda gunung, rumah makan bermunculan, dan dengan segala pernik gunung berapi.
Wisata miko akan banyak melibatkan masyarakat yang menginginkan suasana liburan dengan sentuhan pribadi, lebih customis. Jenis wisata ini akan memunculkan wisatawan individu maupun wisatawan keluarga dengan banyak menggunakan waktu menginap. Oleh sebab itu fasilitas menginap harus disediakan meskipun bukan dalam bentuk hotel, tapi bisa sarana cottage, rumah tenda, atau pondok.






Leave a Reply