SAJUTA (Sabar, Jujur, Tawakkal), Bekal Utama Menjadi Petugas Haji Indonesia
Oleh:
Aang Subhanuddin
(Ketua Kloter KJT 17 Kabupaten Bandung)
Terasjabar.co – Menjadi Petugas Haji tentunya harus siap lahir dan bathin dalam membekali diri dengan berbagai keilmuan dan keahlian yang dimiliki.
Ibadah haji merupakan ibadah yang paling banyak bekalnya (biaya) dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Namun Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 197 menegaskan sebaik-baiknya bekal adalah takwa. “Dan apabila kamu pergi haji berbekallah, sungguh nya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi Rah.a mengatakan, di dalam ayat 197 ini Allah SWT menunjukkan sesuatu yang paling penting dan utama. Untuk itu, hendaknya seseorang yang melakukan perjalanan haji membawa serta perbekalannya.
Ada tiga hal penting yang harus dimiliki untuk menjadi seorang Petugas Haji. Pertama Sabar, kesabaran adalah sikap yang paling dibutuhkan dalam menjalankan ibadah haji. Dalam ibadah haji, kesabaran juga bisa menjadi ukuran mabrur atau tidaknya haji yang dilaksanakan. Hampir seluruh rangkaian ibadah haji membutuhkan kesabaran mulai dari pendaftaran sampai dengan pelaksanaan dan kembali ke Tanah Air.
Tanpa kesabaran, jamaah haji tidak akan mungkin mampu melewati rangkaian ibadah yang memerlukan kekuatan mental dan fisik seperti tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, dan melempar jumrah. Ini memberikan hikmah kepada calon jamaah haji yang ditunda keberangkatannya, untuk semakin melatih kesabaran sebelum waktunya berangkat nanti. Insyaallah kesabaran dalam menerima penundaan ini nantinya akan menjadi wasilah kemabruran haji kelak.
Kesabaran merupakan salah satu aspek penting dalam selamat menunaikan ibadah haji. Ibadah haji adalah perjalanan yang sangat berat dan penuh tantangan. Orang yang berhaji harus memiliki kesabaran yang kuat agar dapat menjalankan ibadah haji dengan baik. Kesabaran sangat penting dalam ibadah haji karena akan mempengaruhi kualitas ibadah haji yang dijalankan. Orang yang sabar akan lebih mudah dalam menghadapi kesulitan dan tantangan selama berhaji. Mereka tidak akan mudah mengeluh atau putus asa. Mereka akan selalu bersabar dan tawakal kepada Allah SWT. Selain itu, kesabaran juga akan membuat ibadah haji lebih berkah dan diterima oleh Allah SWT. Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar. Orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT.
Contoh nyata dari kesabaran dalam selamat menunaikan ibadah haji adalah ketika seseorang tidak mengeluh atau merasa berat dalam menjalankan ibadah haji, meskipun mereka mengalami kesulitan atau kekurangan. Mereka tetap bersabar dan tawakal, karena mereka yakin bahwa Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi hamba-Nya yang sabar. Memahami hubungan antara kesabaran dan selamat menunaikan ibadah haji sangat penting bagi setiap umat Islam yang ingin menjalankan ibadah haji. Dengan memahami hubungan ini, kita dapat meningkatkan kualitas ibadah haji kita dan mendapatkan pahala yang lebih besar dari Allah SWT.
Kedua jujur, dalam hadis Nabi dijelaskan: “Seorang hamba yang tetap bersikap jujur dan konsekwen dalam kejujurannya, ia akan dicatat sebagai orang jujur di sisi Allah. Dan seseorang yang selalu berdusta dan tetap dalam kedustaannya, ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah”. Nabi menasehatkan: “Tinggalkanlah apa yang meragukan kamu dan ambillah apa yang tidak meragukan, sebab sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan kedustaan adalah kebimbangan”. Ia menambahkan: “Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan dan kebaikan menuntun kepada surga”.
Kejujuran merupakan deretan kedua setelah derajat kenabian sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT: “Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh”. (QS. Al-Nisa’ 4: 69).
Kejujuran meliputi kejujuran dalam niat, kejujuran dalam pembicaraan, dan kejujuran dalam perbuatan. Kejujuran dalam niat adalah tidak menghendaki semua perkataan, perbuatan, dan keadaannya kecuali hanya karena Allah. Kejujuran dalam ucapan sudah dimaklumi, dan kejujuran dalam perbuatan adalah bersikap optimis melakukan sesuatu dan tidak dengan asal-asalan. Profesionalisme adalah salah satu wujud kejujuran.
Ketiga tawakal, Stamina yang prima, pikiran yang tenang dan senantiasa memasrahkan segalanya kepada Allah merupakan modal utama bagi jamaah haji yang melaksanakan ibadah ditanah suci, namun terkadang banyak faktor dari luar individu yang justru menyebabkan jamaah haji merasa muncul tekanan dalam batin. Misalnya meninggalkan anggota keluarga di tanah air yang dalam keadaan sakit dan lain sebagainya.
“Tidak Setiap orang mampu menaikkan haji dengan bertawakal semata-mata”, kata Syekh Muhammad Zakarriya dalam kitabnya Fadhilah Haji.
Di dalam hadis banyak disebutkan bahwa sebagian orang pergi haji tanpa membawa bekal dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah orang yang bertawakal.
“Kemudian sesampainya di sana, mereka meminta-minta kepada manusia. Karena berkenaan inilah ayat suci di atas diturunkan”, katanya.
Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sebagian orang melakukan perjalanan haji tanpa membawa bekal dan mereka mengatakan, “Bila kita bermaksud menaikkan haji, apakah Allah SWT tidak akan memberi kami makan?”
Karena perkara itulah ayat di atas diturunkan. Yakni bawalah bekal bersamamu. Dan sebaik-baik bekal adalah sesuatu yang menghalangi kamu dari minta minta kepada orang lain.
Di sini kata Syekh Muhammad Zakarriya ada suatu perkara penting yang patut dipikirkan, yaitu bahwa tawakal adalah sifat yang tinggi, utama, dan mulia. Tetapi tawakal bukan merupakan sesuatu yang hanya ada di lidah, tetapi tawakal adalah sifat hati. Barang siapa yang hatinya penuh dengan ketenangan sehingga ia lebih percaya dengan apa yang ada di dalam Khazanah Allah SWT daripada dengan uang yang ada di kantongnya, maka ia patut untuk bertawakal.
“Dan barangsiapa yang belum sampai ke tingkat ini tidaklah patut baginya untuk melakukan perjalanan haji dengan tawakal,”
Kita harus punya sifat optimis dengan selalu bertawakal (menyandarkan hati pada Allah) dan tetap berusaha untuk menggapai impian yang kita cita-citakan. Ingatlah bahwa siapa saja yang bertaqwa dan bertawakal kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah Ta’ala akan memberikan ia jalan keluar dan akan memberikan ia selalu kecukupan.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ( 2 ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“ Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan ) nya.”
(Q. S. Ath Tholaq : 2 – 3)
Perlu diperhatikan bahwa impian bukan sekedar angan-angan yang tidak ada realisasinya. Jika impian ingin dicapai, tentu harus ada usaha semaksimal mungkin.
Cobalah kita saksikan contoh gampangnya adalah seekor burung ketika ia ingin menggapai impiannya untuk memperoleh makanan di hari itu, dia pun pergi ke luar sarangnya untuk mencari hajat yang ia butuhkan. Ketika pulang pun ia dalam keadaan kenyang. Inilah yang diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”.
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Umar bin Al Khattab; derajat hasan)
Lihatlah bagaimana seekor burung saja mewujudkan impiannya dengan mencari rezeki, dengan berusaha semaksimal mungkin. Apalagi kita selaku manusia yang di beri anugerah akal pikiran oleh Allah?
Semoga kita dan seluruh keluarga kita selalu bertakwa dan bertawakal kepada Allah, selalu mendapat hidayah dan ridha dari Allah. Aamiin……!!!
Semoga Bermanfaat. Wallahu a’lam




Leave a Reply