Belajar Kewirausahaan dari Diaspora Indonesia
Oleh:
Sadikun Citrarusmana
(Dosen Manajemen FEB Unpas & Pemerhati Ekonomi Kewirausahaan)
Terasjabar.co – Pada sebuah webinar yang dilaksanakan secara daring oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpas di masa pelandaian Covid-19, saya sempat berdiskusi, tepatnya mungkin minta pendapat pembicara utama Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro (Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI, 1993-1998) tentang profil lulusan dari perguruan tinggi Indonesia.
Menurutnya, yang penting adalah pembentukan karakter berwirausaha dalam level global. Bukan saatnya lagi orang Indonesia berkiprah di dalam negeri. Orang pandai Indonesia harus berkembang menjadi masyarakat global yang terinteraksi dengan masyarakat lain di berbagai negara. Untuk itu dibutuhkan perubahan paradigma pendidikan yang mampu memberikan perluasan wawasan mahasiswa.
Wardiman Djojonegoro dikenal sebagai pendidik, penulis dan politisi yang bergerak membangun Komunitas Diaspora Global. Kaum Diaspora adalah orang Indonesia perantauan yang menjadi warganegara tetap atau menetap sementara di negara asing. Mereka aktif bekerja dan membangun usaha pribadi berdasarkan kultur Indonesia. Produk yang dikelola berbentuk barang atau jasa yang khas Indonesia karena salah satu misinya adalah “mengenalkan Indonesia ke ruang Dunia”
Perubahan merupakan Suatu Kostanta.
Inti dari pandangan Wardiman Djojonegoro adalah masyarakat Indonesia harus berubah. Bergerak dari ruang kecil ke ruang yang lebih besar dengan semangat berwirausaha. Apakah bergerak secara alamiah atau ilmiah, perubahan pasti terjadi dan setiap orang akan memasuki dunia perubahan itu. Masyarakat Indonesia memasuki perubahan dengan caranya sendiri. Setiap warga negara harus mengikuti arah perubahan yang bergerak dinamis. Jika bertahan dalam situasi yang lama, akan tertinggal. Ketertinggalan merupakan ancaman bagi masyarakat yang tidak bersedia mengikuti perubahan. Para perantau Indonesia yang tergabung dalam Diaspora Network Global mengembangkan spirit perubahan melalui entrepreneurial doing. Selalu peka terhadap perubahan lingkungan global dan beradaptasi melalui kolaborasi dengan masyarakat dunia.
Berbagai indikator perubahan menunjukan bahwa profil kompetensi dan model pembelajaran akan banyak mengalami perubahan. Hilangnya keterampilan lama dan munculnya keterampilan baru merupakan indikator mayor dari suatu proses perubahan sosial masyarakat. Selain itu, akan tercipta pengetahuan dan keterampilan baru yang dibutuhkan oleh munculnya pekerjaan-pekerjaan baru.
Setiap orang yang belajar di sektor formal maupun non-formal harus mempelajari keterampilan baru yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baru hasil sebuah pemikiran yang cerdas. Misalnya, mahasiswa dan pelajar yang lulus menjadi sarjana harus sudah memiliki bakat bawaan dan muatan pendidikan kewirausahaan yang berbasis kreativitas dan inovasi.
Mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang lama akan membuat mahasiswa selalu tertinggal. Kampus sebagai entitas penghasil sarjana harus memberikan suatu keilmuan baru yang bisa membuat mahasiswa berpengetahuan dan berketerampilan memecahkan masalah pekerjaan di masa depan. Setidaknya ketika mereka telah lulus menjadi sarjana kemudian bekerja atau berwirausaha.
Munculnya keterampilan-keterampilan baru yang diciptakan kampus pendidikan adalah suatu indikator adanya transformasi dan inovasi dalam industri jasa pendidikan. Keterampilan baru yang diciptakan dapat digunakan utuk meramalkan (forecast) kemana industri berjalan.
Dunia bisnis membutuhkan perubahan-perubahan besar karena tuntutan kompetisi yang semakin rumit. Richard D. Aveni (2019) seorang ahli manajemen strategik menyebutkan kompetisi kini dan masa depan merupakan sebuah “Hyper competition”. Sebuah premis tentang gejala kekuatan berkompetisi yang diukur dari empat perspektif ruang kompetisi, yaitu Cost & Quality (C-Q), Timing and know-how (T-K), Strongholds (S), dan Deep pockets (D). Keterampilan baru dapat menunjukan bagaimana industri pendidikan mengadopsi teknologi baru ke dalam perilaku tradisional yang ditawarkan. Kemana kampus mengarah kuncinya adalah menciptakan lulusan dengan bakat-bakat baru, memberikan pengetahuan dan keterampilan baru, dan menggunakan pendekatan manajemen baru dalam proses pendidikan yang berorientasi global.






Leave a Reply