Inovasi Pendidikan dan Ekonomi Pengetahuan

Oleh:
Sadikun Citra Rusmana
(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan)

Terasjabar.co – Pemerintah Indonesia memasuki babak baru orientasi pembangunan 2019-2024. Bergerak dari pembangunan infrastuktur ke pembangunan sumber daya manusia (SDM), dengan tagline “SDM Unggul Indonesia Maju”. Beberapa indikator pembangunan ekonom makro saat ini menunjukan angka positif, namun perekonomian Indonesia mengalami pergeseran dari sektor tradable (manufaktur) ke non-tradable (jasa), terutama sub-sektor keuangan dan pariwisata yang menuntut kualifikasi keahlian tertentu bagi tenaga kerja.

Perubahan yang signifikan dalam perekonomian Indonesia adalah ketika memasuki ekonomi digital dengan dukungan teknologi keuangan (fintech) yang merubah cara dan pola transaksi yang cenderung semakin cash-less, di antaranya kebijakan pembayaran non-kas pada sistem transportasi dan belanja konsumsi, serta transaksi perdagangan barang dan jasa secara on-line (daring). Perubahan ini menstimulasi peningkatan pengetahuan (knowledge) dan kemampuan beradaptasi dalam penguasaan teknologi digital dan penciptaan sumber daya manusia (SDM) sebagai penemu (inventor), bukan hanya sebagai konsumen cerdas (smart consumers).

Berdasarkan survei Global World Digital Competitiveness Index oleh Institute Management Development (IMD)  indeks literasi digital Indonesia berada pada peringkat ke-56 dari 63 negara yang disurvei. Masih tertinggal jauh. Meskipun demikian, survei APJII terdapat 196,71 juta pengguna internet di Indonesia (73,7%) dari total jumlah penduduk. Ini mengindikasikan terjadinya lompatan jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia dan semakin tingginya intensitas penggunaan ruang digital. Indeks literasi digital Indonesia 2021 mencapai 3,49 dari skala 1-5, naik dari pencapaian sebelumnya 3,46.

Ekonomi pengetahuan (knowledge economy), sebagai Ekonomi Baru, membutuhkan keahlian dan keterampilan baru, yaitu SDM  yang unggul. Sumber Daya Manusia yang unggul memiliki karakteristik kebutuhan untuk selalu learn, live, love, dan leave a legacy, dengan komponen internal yang perlu diperkuat adalah mind, body, heart, dan spirit (Steven Covey, 2012). Individu yang unggul memiliki lima karakter (5C) yaitu competent (kompetensi), confident (kepercayaan diri), comunication skills (kemampuan komunikasi), culture understanding (memahami budaya yang berbeda), dan change agility (menyesuaikan diri dengan perubahan).

Pada tahun 2020-an, akan terjadi perubahan kebutuhan keterampilan yang perlu dimiliki SDM pada Ekonomi Baru yaitu 10 skills yang diidentifikasi (World Economics Forum, 2018) yaitu (1) kemampuan memecahkan masalah yang kompleks, (2) berpikir kritis, (3) kreatifitas, (4) manajemen SDM, (5) koordinasi dengan pihak lain, (6) kecerdasan emosional, (7) menilai dan mengambil keputusan, (8) orientasi layanan, (9) negosiasi, dan (10) fleksibilitas kognitif.

Keterampilan baru yang dibutuhkan, yang tidak ada di periode 2015 – 2019, adalah kepintaran emosional (emosional intelligence) dan fleksibilitas kognitif. Kedua keterampilan ini merupakan yang dibutuhkan dalam Ekonomi Baru yang berbasis aplikasi teknologi informasi dalam praktik ekonomi di Indonesia. Berdasarkan pada kondisi tersebut maka lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi perlu mendidik individu yang selalu siap belajar (learning community) dalam upaya menciptakan SDM unggul. Salah satunya adalah kemampuan untuk mendidik anak didik yang selaras dengan perkembangan ekonomi jasa, termasuk menciptakan masyarakat wirausaha yang siap memanfaatkan peluang usaha di era ekonomi baru. Pengetahuan merupakan modal penting dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi dunia di saat ini dan masa mendatang. Pentingnya peningkatan dan penerapan ilmu pengetahuan dalam ekonomi memberi kesempatan tumbuhnya sistem ekonomi  yang memiliki daya saing dan Inovatif.

Ahli ekonomi inovasi pendidikan Tony Wagner (2019) dari Universitas Harvard menyatakan, pada Abad- 21 semua negara perlu mereformasi proses pendidikan dengan cara menekankan pentingya peningkatan kualitas SDM. Tujuh keahlian yang menentukan adalah berpikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, berkolaborasi, mempengaruhi, tangkas dan adaptif, inisiatif dan jiwa kewirausahaan, komunikasi secara lisan dan tulisan, mengakses dan menganalisis informasi, serta memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi.

Bank Dunia telah merumuskan empat pilar penting yang dibutuhkan sebuah negara dalam menumbuhkembangkan ekonomi yang berbasis pada ilmu pengetahuan yaitu (1) sebuah rezim ekonomi dan kelembagaan yang memberikan insentif bagi efisiensi penggunaan pengetahuan yang ada dan baru serta  berkembangnya kewirausahaan, (2) populasi masyarakat terdidik dan terampil yang dapat membuat, berbagi, dan menggunakan pengetahuan dengan baik, (3)  sebuah sistem  inovasi efisiensi perusahaan, pusat penelitian, universitas, konsultan, dan organisasi lain, dan (4) teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang efisien dan fasilitatif. Sumber daya manusia yang terdidik dan terampil merupakan salah satu kunci penting dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan ini.

Salah satu prinsip dasar dari ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan adalah inovasi. Ekonomi Indonesia seharusnya bergerak dari ekonomi yang mendorong investasi menjadi inovasi. Pemerintah dan swasta  harus saling bersinergi guna mewujudkan sistem ekonomi inovatif di negeri ini. Produktivitas ditingkatkan melalui inovasi intensif, dan untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah perlu mengikutsertakan sektor swasta, serta pembiasaan penelitian dan pengembangan teknologi pengetahuan di berbagai lembaga pendidikan.

Pada dua dekade kedepan, pengetahuan berbasis ekonomi di Indonesia memiliki berbagai macam tantangan dan peluang. Lembaga-lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi dan sekolah kejuruan dan teknis, harus menghidupkan kembali peran sebagai pemimpin penelitian dan inovasi, lebih proaktif dalam melayani penciptaan pengetahuan, lebih dari sekedar transfer pengetahuan. Memastikan keterampilan SDM yang terlibat di sektor ICT, termasuk keterampilan dalam generasi konten digital dan desain perangkat lunak yang merupakan keterampilan kunci yang diperlukan tidak hanya di sektor TIK, tetapi di berbagai sektor. Penguatan lebih lanjut adalah jejaring antara pribadi, perusahaan, universitas, dan lembaga penelitian, melalui koneksi ilmu pengetahuan.

Akselerasi penyebaran pengetahuan (kowledge moblization) dan inovasi  dalam sektor bisnis yang masih terpusat di usaha besar dan multinasional perlu diperluas bagi usaha kecil menengah (UKM) yang mampu memicu inovasi dan peluang bisnis pada sektor ini. Prinsipnya, proses kebijakan publik yang terkait dengan aktivitas ekonomi masyarakat perlu bergeser dari yang bersifat ekslusif menjadi lebih inklusif.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *