Tangani Lahan Kritis, Pemprov Jabar Terapkan Kolaborasi Pentahelix

Terasjabar.co – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan meminta peran serta semua warga Jawa Barat untuk menanam pohon guna menangani lahan kritis di Jawa Barat.

Peran serta yang dibutuhkan untuk mensukseskan program tersebut dengan beberapa rencana. Seperti jika mau menikah wajib menanam 10 pohon, mau bercerai wajib menanam 100 pohon, yang sedang berulang tahun wajib menanam 5 pohon.

Kelulusan atau wisuda SD/SMP/SMA wajib menanam 10 pohon, mendapat IMB menanam 1.000 pohon, serta program CSR perusahaan minimal 100 pohon. Untuk menangani lahan kritis Jawa Barat membutuhkan 25-30 juta pohon baru.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Epi Kustiawan, mengatakan, program penanaman lahan kritis bukan semata untuk mencegah terjadinya bencana.

Tapi bagaimana caranya agar penanaman lahan kritis tersebut bisa memanfaatkan hutan agar bernilai ekonomi bagi masyarakat.

“Ada nilai lain yang bisa berdampak ekonomis dalam penanaman lahan kritis. Hal itu bukan kendala bukan masalah tapi potensi yang sangat besar melihat jumlah lahan kritis yang sangat luas di Jawa Barat,” ujar Epi saat membuka pembicaraan program besar untuk penanaman lahan kritis, Rabu (8/1/2020) malam.

Epi mengatakan, jumlah lahan kritis di Jawa Barat memiliki potensi luar biasa jika termanfaatkan dan dimanajemen dengan baik.

Epi mencontohkan, penanganan lahan kritis di kawasan Bandung utara misalnya. Kawasan ini bisa menjadi kawasan wisata buah-buahan dan menjadi alternatif wisata kawasan Bandung utara.

“Bandung utara bisa jadi kawasan wisata buah karena punya sejarah dulu sentra jeruk dan buah,” ujar Epi.

Epi mendata jumlah lahan kritis data peta LHK pada 2018 berjumlah 911 ribu hektare. Jumlah tersebut terbagi dalam kawasan hutan lindung 210 hektare dan sisanya yang terluas merupakan lahan milik warga.

“Lahan kritis milik warga bisa jadi potensi hutan rakyat, pertanian, perkebunan,” ujarnya.

Epi mengatakan, penanganan lahan kritis juga diprioritaskan di daerah aliran sungai Citarum. Penanaman akan dilakukan mulai dari Burangrang, Kareumbi, sampai Saguling.

Epi mengatakan, jika diasumsikan tanah milik warga yang kritis itu milik 100 ribu orang maka diperlukan sebanyak 25 juta bibit pohon.

Untuk mengatasi hal tersebut Pemprov Jabar dan BPDAS sudah menyediakan anggaran. Namun karena keterbatasan anggaran maka akan diikutsertakan semua warga Jabar untuk menanam pohon.

“Untuk mengatasi kekurangan bibit Gubernur Jabar akan melaunching program penanaman bibit, program tersebut akan melibatkan dalam aktivitas semisal pernikahan, wisuda, ulang tahun, permintaan izin, dan lainnya maka warga diimbau untuk memberikan sumbangan dalam bentuk penanaman bibit pohon,” katanya.

Epi mengatakan pada 2020 penanaman bibit pohon harus selesai untuk DAS Citarum.

“Ada kolaborasi besar pemerintah dengan warga masyarakat, maka ratusan hektare bisa membangun hutan rakyat, misal dengan agroforestry agar ada sisi ekonominya,” kata Epi.

Epi mengatakan, kolaborasi semua stakeholder dan warga akan memberikan efek ekonomi juga bagi warga. Menurutnya, dalam waktu tiga sampai lima tahun warga bisa merasakan dampak ekonomi dari penanaman pohon.

“Program pentaheliks jadi semuanya terlibat,” katanya.

Ia berharap program ini lancar karena akan meningkatkan roda perekonomian, seperti para penangkar benih yang bersertifikat akan dicari warga, para pemilik persemaian pohon juga akan meningkat pendapatannya.

“Itu satu bentuk sisi positif yang akan tumbuh,” katanya.

Ia mengatakan, sisi positif yang tumbuh tersebut sudaj terjadi di Ciamis dan Tasik, di sana sudah menjadi kebutuhan karena ada nilai ekonomi yang terus bergerak.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *